Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Suara Perut Salma


__ADS_3

"Khem," Salma berdehem menetralkan jantungnya yang berdebar kencang seperti genderang yang mau perang.


"Sejak kapan Mas Kafa pintar ngegombal seperti ini?" tanya Salma dengan semua keberanian yang dia miliki.


"Sejak aku jatuh hati padamu," jawab Kafa.


"Astaga, kenapa Mas Kafa jadi seperti ini?" ujar Salma mencoba menutupi rasa yang membuatnya salah tingkah seperti saat ini.


"Seperti ini bagaimana maksudnya?" Kafa balik bertanya karena dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh Salma.


"Kenapa sekarang Mas Kafa suka ngegombal tidak jelas dan membuat aku ngerasa aneh berada di dekat Mas Kafa," jujur Salma.


Memang benar Kafa sukses membuat Salma salah tingkah, tapi yang di rasakan Salma saat ini bukan hanya rasa nervous yang sukses membuat Salma salah tingkah, saat ini Salma merasa aneh dengan perubahan sikapnya, Kafa yang biasanya jutek dan dingin tiba-tiba bersikap perhatian dan sangat romantis, sungguh perubahan yang tak pernah Salma duga, meski begitu dia bersyukur atas cinta yang telah di tumbuhkan.


Di belahan dunia yang lain ....


Tetes hujan baru saja reda membasahi bumi, semerbak harum aroma tanah yang baru tersiram air hujan setelah berhari-hari tersinari mentari memberikan sebuah ketenangan bagi siapapun yang dapat menikmatinya.


Hari ini Tari tak memiliki jadwal apapun, karena hari ini hari jum'at jadi semua kegiatan di liburkan, Ummi dan Abah juga sedang keluar karena ada acara, salah satu wali murid mengundang keduanya untuk hadir di acara walimatul urusy, di mana wajib hukumnya menhadiri walimatul urusy.


Awalnya Ummi berencana mengajak Tari untuk pergi menemaninya, tapi niat itu di urungkan karena ternyata Abah meminta Ummi untuk berangkat bersamanya. Alhasil saat ini Tari duduk sendiri di saung pinggir sawah setelah membuang sampah kamar.


"Semua orang sudah bahagia dengan takdir mereka masing-masing, hanya aku yang masih setia berada di sini tanpa tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini, aku sudah menjadi ustadzah, sekarang pekerjaanku bukan cuma membantu Mbok Bat saja, tapi aku bisa mengamalkan ilmu yang ku dapat selama di sini, jika santri yang lain selalu menunggu hari di mana mereka bisa berkumpul dengan keluarganya aku tetap diam di sini tanpa ada yang bisa aku kunjungi," lirih Tari.


Sejak kepergian Salma beberapa waktu yang lalu, Tari merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Salma yang dulu selalu bersamanya seperti saudara sendiri kini tak pernah terlihat batang hidungnya. Begitu pula dengan Ghozi yang biasanya terlihat menghiasi hari-hari Tari kini ikut menghilang, Tari tidak tahu ke mana Ghozi pergi, yang dia tahu sekarang hanya satu, bagaimana caranya dia tetap bertahan di tengah rasa sepi yang menyiksa.

__ADS_1


"Aku harus apa? jika seperti ini aku merasa tak punya tujuan hidup, mampukah aku melewati semuanya? tuhan, beri aku jalan dan petunjuk! apa yang harus aku lakukan dan siapa yang akan aku tuju," lirih Tari dengan air mata yang mulai membasahi pipinya, Tari benar-benar kesepian saat ini, dia duduk menatap lurus ke depan meratapi nasib yang belum kita ketahui.


"Mbak Tari sedang apa di sini?" tanya seorang gadis berparas imut karena umurnyapun juga masih kecil karena itulah dia terlihat imut.


"Salsa ngapain di sini?" tanya Tari saat melihat Salsa, santri baru yang selalu menempel padanya, bahkan Salsa meminta untuk tidur bersama Tari, jika Tari tidak mau Salsa akan merengek dan meminta pulang.


"Dari tadi aku nyariin Mbak Tari, tapi Mbak Tarinya tidak ada di dalam pesantren, dan aku ingat kalau Mbak Tari suka duduk di sini sendirian sambil liat padi, makanya aku susulin Mbak Tari ke sini," jawab Salsa dengan polos.


"Astaghfirullah Salsa, lain kali jangan pernah ke sini sendirian! sekalipun kamu sedang mencariku," tegas Tari yang tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Salsa, pasalnya tempat Tari saat ini berada di area luar pesantren, jika terjadi hal buruk pada Salsa bisa di pastikan takkan ada yang bisa menolongnya.


"Aku tidak akan pernah datang ke sibi lagi tanpa Mbak Tari jika Mbak Tari mau jadi Mamiku," ujar Salsa dengan wajah berbinar penuh harapan.


Sejak pertama kali Salsa datang, dia langsung menyukai Tari dan terus lengket padanya, Salsa melihat sosok sang Bunda dalam diri Tari, karena itulah Salsa sering meminta Tari untuk menjadi pengganti Maminya yang sudah meninggal.


Salsa yang memang sangatbpenurut pada Tari hanya mengikuti langkah Tari dengan tangan yang kini sudah di genggam erat oleh Tari.


Suasana di pantai ....


Cukup lama Salma dan Kafa duduk di tepi pantai dengan Salma yang menyandarkan kepalanya di pundak Kafa, menikmati suasana pantai yang tak terlalu ramai saat ini.


"Mas!" lirih Salma.


"Kenapa Sayang?" sahut Kafa.


"Sayang?" Salma lanhsung duduk tegak sambil menatap heran ke arah Kafa.

__ADS_1


"Iya, Sayang, memangnya ada yang salah dengan panggilanku untuk mu?" sahut Kafa.


"Bukan begitu, aku hanya kaget saja mendengarnya," Salma tidak ingin Kafa berfikir macam-macam jika Salma protes dengan panggilan yang di berikan oleh Kafa padanya.


"Bukannya jauh lebih baik kalau aku memanggilmu dengan sebutan Sayang?" tanya Kafa.


"Panggilannya memang terdengar jauh lebih baik dari pada hanya memanggil nama, tapi panggilan seperti itu apa tidak akan mengganggu atau menurunkan drajat Mas Kafa?" tanya Salma yang merasa khawatir jika Kafa terlihat tidak berwibawa karena panggilannya.


"Tidak, aku akan memanggilmu Sayang jika kita sedang berdua saja, jika banyak orang aku akan tetap memanggil namamu seperti biasa," jelas Kafa.


"Oh," Salma hanya ber 'O' riya.


"Kamu mau ngomong apa barusan?" tanya Kafa yang baru ingat jika Salma tadi mau bertanay tapi tidak sempat karena obrolan masalah panggilan Sayang.


Kriyuk ... kruk ... kruk ....


Salma belum sempat menjawab pertanyaan Kafa, karena perutnya lebih dulu berbunyi.


"Apa kamu lapar?" tebak Kafa setelah mendengar suara perut Salma yang terdengar begitu nyaring.


"Emm, iya, aku lapar Mas," jawab Salma dengan pipi yang sudah merah semerah tomat karena malu.


"Jangan malu! kamu bebas meminta apapun dariku, jangankan suara perut suara indah yang berasal dari perutmu, suara ken****t pun aku tak akan mempermasalahkannya selama itu dirimu," ujar Kafa yang membuat Salma heran, Kafa benar-benar berubah seratus delapan puluh drajat, dia kini lebih sering menggombal dari pada marah seperti dulu.


"Yakin Mas Kafa gak bakal marah kalau aku ken***t sembarangan, apa lagi kalau ke***t di dekat Mas Kafa?" Salma mencoba meyakinkan Kafa atas apa yang dia katakan barusan.

__ADS_1


__ADS_2