Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Intan Yang Keras Kepala


__ADS_3

"Bilang aja aku lagi sibuk atau lagi gak ada di rumah Mbok," sahut Kafa yang terlihat enggan menemui Intan yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Tadi Mbok sudah bilang seperti itu Mas Kafa, tapi Intannya masih ngotot mau nemuin Mas Kafa, jadi terpaksa Mbok izinin dia nunggu Mas Kafa di ruang tamu," Mbok Sumik menjelaskan apa yang terjadi.


"Dia memang keras kepala, dan aku selalu pusing kerennya," ujar Kafa yang terlihat benar-benar jengah mengingat sifat Intan.


"Lebih baik Mas Kafa temui dia dulu. Biar Mbok Sumik yang akan melanjutkan memasaknya," ujar Mbok Sumik yang enggan ikut campur urusan Kaf dan Intan yang selalu berakhir ribet.


"Baiklah, tolong goreng ayam dan tempenya! aku akan menemui Intan." Pinta Mas Kafa berjalan keluar dari dapur menuju ruang tamu untuk menemui Intan yang sudah menunggunya di sana.


"Siap Mas Kafa," ujar Mbok Sumik.


'Kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat sih,' keluh Kafa dalam hati.


"Ada apa?" tanya Kafa yang masih berdiri di tengah-tengah pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Intan malah terlihat kurang suka dengan sikap Kafa yang terlihat cuek kepadanya.


"Tentu saja, aku harus bertanya bagaimana?" Kafa terlihat enggan menemui dan mengobrol dengan Intan.


"Semalam kamu bilang kalau kamu sakit, tapi kenapa sekarang kamu terlihat begitu sehat dan bugar seperti itu?" Intan menatap curiga ke arah Kafa yang justru terlihat baik-baik saja tidak kurang satu apapun ataupun sakit seperti semalam.


"Siapa yang bilang aku sakit?" tanya Kafa yang lupa dengan kebohongan yang dia karang bersama Ghozi.


"Apa itu artinya kamu sednag berbohong padaku semalam?" Intan mulai curiga dan menduga jika Kafa membohongi dirinya.


Kafa baru sadar dan ingat jika semalam dia berbohong agar tidak datang ke pertandingan dan semua itu dia lakukan hanya demi Salma.


"Aku memang sakit semalam, tapi sekarang sudah sembuh," jawab Kafa enteng.


"Bagaimana bisa sembuh secepat ini?" Intan mencoba mengintrogasi Kafa yang mencurigakan.

__ADS_1


"Tentu saja bisa, Salma merawatku semalam, jadi aku cepat sembuh," Kafa terpaksa membawa nama Salma agar Intan percaya san tidak lagi mencurigainya.


"Di mana Salma sekarang?" untung saja Salma bisa mengakrabkan diri dengan Intan, jadi Kafa bisa membuat alasan dengan baik.


"Dia sedang sakit," jawab Kafa jujur.


"Loh katanya semalam Salma yang ngerawat Mas Kafa, tapi sekarang kenapa jadi Salma yang sakit?" tanya Intan kembali menatap curiga ke arah Kafa yang justru terlihat santai.


"Dia sakit perut karena datang bulan, dan sakitnya juga baru tadi pagi," Kafa terpaksa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Intan dari pada harus menyembunyikannya dan pada akhirnya Intan tahu jika semalam Kafa sedang berbohong.


"Sebenarnya aku bawa buah ini untuk kamu, tapi setelah melihat kamu sembuh lebih baik buah ini aku berikan pada Salma saja," ujar Intan yang sampai saat ini masih mengira Salma itu saudara Kafa.


"Salma baru saja tidur, jangan ganggu dia!" larang Kafa.


Kafa tidak ingin Intan menemui Salma untuk saat ini karena Kafa. tidak ingin Intan mengganggu waktu istirahat Salma.


"Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar saja, aku janji aku tidak akan mengganggunya," ujar Intan.


"Baiklah, aku akan datang lagi besok, tapi untuk swkarang kamu harus mengantarku pulang!" pinta Intan.


"Kenapa harus aku yang mengantarmu pulang?" tanya Kafa merasa heran dengan permintaan Intan, dia datang dengan sendirinya tanpa di undang kenapa sekarang malah meminta Kafa untuk mengantarnya.


"My Honey, kita sudah lama tidak pergi jalan-jalan dan shopping ke Mall, apa kamu tidak kangen masa-masa di mana kita jalan bersama?" ujar Intan tanpa rasa malu.


"Apa kamu lupa atau tidak peka Intan? aku sudah bilang kalau Salma sakit bukan?" sahut Kafa merasa heran dengan permintaan Intan.


"Aku tahu Salma sakit, tapi apa hubungannya Salma sakit dengan permintaanku yang ingin jalan-jalan denganmu?" Intan kembali bertanya.


"Kalau aku ikut jalan-jalan bersamamu siapa yang akan menjaga Salma di sini?" ujar Kafa yang cukup membuat Intan sadar dan mengerti jika yang dia minta memang tidak masuk akal, tapi Intan tak mau terbawa perasaan atau mengalah.


"Bukankah masih ada Mbok Sumik dan Ghozi yang bisa menjaga Salma?" sahut Intan.

__ADS_1


"Selama ada di sini dia tanggung jawabku dan aku tidak mungkin menyerahkan begitu saja tanggung jawab yang seharusnya aku penuhi pada orang lain," tegas Kafa tanpa bisa di bantah.


Intan sangat mengerti dengan sifat Kafa yang selalu tegas dan penuh tanggung jawab, dia tidak mungkin mengingkari janji ataupun melimpahkan tanggung jawabnya pada orang lain.


"Baiklah aku akan pergi, tapi aku akan datang besok untuk menemui Salma dan aku juga akan memintamu menemaniku berbelanja seperti dulu jika Salma sudah sembuh," ujar Intan yang berbicara dengan tegas tanpa ada bantahan.


"Terserah!" jawab Kafa acuh.


Intan menaruh satu keranjang buah yang dia bawa di atas meja, kemudian berdiri melangkah pergi keluar dari ruang tamu.


"Terima kasih buahnya," ucap Kafa sebelum Intan benar-benar pergi meninggalkan rumah Kafa.


"Sama-sama Honey," jawab Intan.


"Ini ada buah buat Mbok, kalau suka ambillah,! tapi kalau enggak buang saja!" ucap Kafa sambil menaruh satu keranjang penuh buah di atas meja, Kafa terlihat enggan untuk mengambil buah tangan dari Intan.


"Loh bukannya ini buah dari Intan, Mas Kafa?" tanya Mbok Sumik menatap heran ke arahnya.


"Iya," jawab Kafa santai.


"Kenapa di berikan pada Mbok? harusnya buah ini di berikan pada Neng Salma atau di makan Mas Kafa, kenapa malah Mbok yang di surub ngabisin?" tanya Mbok Sumik.


"Aku kurang suka jika Salma makan barang pemberian Intan, jadi makan Mbok saja," jujur Kafa.


"Terima kasih Mas Kafa," ucap Mbok Sumik mengambil satu buah yang ingin Mbok Sumik makan.


"Lebih baik Mbok makan buahnya saja! biar aku yang melanjutkan masaknya." Kafa kembali mengambil alih masakan yang sebenarnya sudah hampir selesai.


"Nanggung Mas Kafa, biar Mbok saja yang ngelanjutin," tolak Mbok Sumik.


"Aku ingin masak untuk Salma, jadi lebih baik Mbok duduk di kursi sambil menghabiskan buahnya." Kafa tak ingin di bantah lagi, dia menuntun Mbok Sumik dan mendudukkannya di kursi meja makan kemudian kembali melanjutkan memasak untuk Salma.

__ADS_1


__ADS_2