Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kariyawan Baru


__ADS_3

"Maaf Mbak, ruang yang Mbak tunjuk itu ruangan khusus dan tidak sembarang orang bisa masuk, karena ruangan itu merupakan ruangan pemilik tokoh ini," jelas sang kariyawan dengan penuh kesopanan dia menjelaskan apa yang perlu di ketahui oleh Salma.


"Aku tahu, memangnya kenapa kalau ruangan itu merupakan ruangan pemilik tokoh ini?" tanya Salma yang saat ini malah penasaran dengan apa yang akan di lakukan pegawai itu.


"Kalau anda sudah tahu, sebaiknya anda pergi! karena tak ada satu orangpun yang di izinkan masuk ke dalam ruangan itu selain Tuan Kafa dan istrinya Nyonya Salma," tegas kariyawan yang saat ini masih menghalangi langkah Salma untuk masuk ke ruangan suaminya itu.


"Apa kamu tahu bagaimana wajah Nyonya Salma yang kamu maksud?" Salma kembali bertanya.


Waktu itu Salma dan Kafa memang menikah di pesantren, otomatis kariyawan di kota tidak ada yang tahu sosok Salma, kecuali mereka yang sudah lama menjadi tangan kanan Kafa, mereka tahu karena Kafa mengundangnya, selebihnya hanya tahu jika Kafa sudah menikah dengan Salma tanpa tahu wajah aslinya.


"Bagaimana? apa kamu tahu bagaimana wajah asli dari istri tuanmu itu" Salma terus saja bertanya setelah dia mengambil kesimpulan jika kariyawan di hadapannya itu memang tidak tahu wajah Salma yang asli karena kariyawan yang sejak tadi menghadangnya kini justru terdiam mematung di hadapannya.


"Tapi maaf, saya tidak bisa membiarkan sembarang orang masuk ke dalam ruangan ini, lebih baik Mbak tunggu di sini biar saya yang akan melaporkan pada Tuan Kafa kalau ada tamu yang ingin bertemu dengannya," kariyawan itu terlihat begitu sopan dan baik hati, bukannya sebal karena keriyawan itu menghadangnya tapi Salma malah tersenyum senang karena ada yang menjaga Kafa dari gadis lain yang berkemungkinan mengganggu Kafa.


"Baiklah, aku akan menunggu kamu di sini, katakan pada Mas Kafa kalau Salma menunggu persetujuannya untuk masuk!" ujar Salma yang cukup membuat sang kariyawan bimbang.


'Ceklek'


Suara pintu terbuka, nampaklah Kafa yang berpenampilan biasa saja baru keluar dari dalam ruangan.


"Selamat siang bos," ujar sang kariyawan langsung menyambut bos pemilik tokoh.


"Siang," sahut Kafa datar.


"Sayang! kenapa lama sekali? masuklah!" titah Kafa.


Sejak tadi Kafa merasa ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi malah terjadi, karena itulah Kafa berinisiatif untuk keluar dari kamar dan mencari keberadaan Salma yang ternyata memang sedang sedang berbincang dengan pegawai tokohnya.

__ADS_1


"Baik, Mas," jawab Salma berjalan melewati kariyawan tokoh yang sejak tadi menahannya. Salma sengaja berhenti sejenak untuk mengatakan sesuatu pada pegawai yang kini malah terlihat berdiri mematung dengan wajah tegang bercampur takut.


"Terima kasih, ingatlah dengan baik wajahku! dan jangan pernah izinkan gasis lain masuk ke ruangan suamiku selain diriku, selamat bekerja, akuakan meminta suamiku agar dia memberimu bonus bulan ini," ujar Salma dengan senyum yang mengembang dia berjalan melewati kariyawan yang sejak tadi menahannya.


"Maaf dan terima kasih Nyonya, saya akan selalu mematuhi apa yang Nyonya katakan," sahut kariyawan itu dengan senyum yang mulai muncul.


Salma hanya mengangguk pelan seraya berjalan mendekat ke arah Kafa yang sedang berdiri di hadapannya, sedang Kafa terus saja memperhatikan apa yang di lakukn Salma dengan rasa penasaran yang mulai tumbuh dalam dirinya.


'Brak'


Suara pintu di tutup dengan cukup keras membuat kariyawan yang masih setia berdiri di tempatnya langsung terkejut karenanya.


"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya Kafa sesaat setelah Salma dan dirinya masuk ke dalam ruangan.


"Aku hanya berpesan supaya kariyawan tadi mempertahankan kinerjanya yang memang bisa di acungi jempol," jawab Salma santai.


'Krek'


"Memangnya apa yang sudah dia lakukan sampai kamu merasa kariyawan itu benar-benar bagus kinerjanya?" Kafa kembali bertanya, dalam benaknya maaih ada rasa penasaran atas apa yamg sebenarnya terjadi di depan ruangan tadi.


"Kariyawan Mas Kafa itu sangat sopan dan begitu perhatian dengan kenyamanan juga keamanan atasannya, tadi saja dia mempertanyakan diriku yang masuk ke ruangan Mas Kafa, meski awalnya aku merasa jengkel tapi, setelah aku tahu alasan dia melakukan semuanya demi keamanan dan kenyamanan Mas Kafa aku jadi salut dengan dedikasinya," Salma Menjelaskan apa yang membuat dirinya begitu salut pada Kariyawan yang tadi ada di hadapannya.


'Tapi yang paling membuatku salut dan senang, kariyawan Mas Kafa itu pasti bisa menjagamu dari ulat pengerusak seperti Intan,' sambung Intan dalam hati, bagaimanapun menjaga Kafa dari ulat pengerusak itu harus segera di basmi sebelum meraja lela merusak semua tumbuhan yang tumbuh di sekitarnya.


"Kamu terlihat begitu menyukainya," sahut Kafa menatap tajam ke arah Kafa kemudian meneliti apa dugaan Kafa benar.


"Tentu saja aku menyukainya," sahut Salma dengan sengaja mempermainkan perasaan Kafa.

__ADS_1


"Tapi rasa suka yang aku rasakan ini tidak lebih dari rasa suka seorang atasan pada kariyawannya Mas, kerja dia bagus, apa Mas tidak ingin memberinya bonus?" tanya Salma dengan wajah penuh harap dia berkata, menatap lurus ke arah Kafa kemudian tersenyum manis agar Kafa mau mengabulkan apa yang menjadi keinginannya.


Kafa tak lagi membalas ucapan Salma, dia langsung duduk di kursi kebesaran miliknya kemudian memencet salah satu tombol telfon yang ada di hadapannya.


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" sahut seseorang dari seberang.


"Suruh kariyawan baru yang tadi sempat ngobrol dengan istriku masuk ke dalam ruangan!" titah Kafa yang cukup membuat orang yang di telfon kelimpungan karenanya.


"Baik, Tuan," jawab Kariyawati yang baru saja di telfon oleh Kafa.


"Mas Kafa ngasih perintah gak ukuran," ujar Salma yang mengerti jika kariyawati yang di beri perintah pasti kesulitan untuk mencari kariyawan yang di maksud oleh Kafa.


"Kenapa kamu bisa bilang begitu Sayang?" tanya Kafa yang merasa aneh dengan apa yang di katakan oleh Salma.


"Mas Kafa menyuruh tanpa berfikir dulu, bagaimana dia tahu siapa yang Mas Kafa maksud?" Salma menjelaskan apa yang dia maksud.


Kafa diam memikirkan apa yang dikatakan oleh Salma, karena apa yang di fikirkan Salma memang benar adanya.


Cukup lama Kafa dan Salma menunggu kedatangan kariyawan yang tadi dia panggil, hingga satu ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya.


"Masuklah!" sahut Kafa.


'Ceklek'


Suara pintu perlahan terbuka dan muncullah kariyawati yang tadi di beri perintah oleh Kafa.


"Maaf Tuan, apa Kariyawan ini yang Tuan maksud?" tanya kariyawati itu sambil menunjuk ke arah seorang kariyawan yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Iya, masuk!" jawab Kafa tegas.


Saat ini Kafa terlihat begitu berwibawa dan begitu tegas tanpa bisa di lawan oleh siapapun, hal itu sangat berbeda dengan Kafa yang biasanya terlihat oleh Salma.


__ADS_2