
Tari berharap setelah ini Sasa bisa membuang rasa bencinya pada Ghozi dan mulai menerima takdir yang entah berpihak padanya atau tidak, Tari sendiri tidak tahu harus bagaimana? mempercayakan diri pada takdir, Tari hanya berharap dan terus berdoa agar takdir itu bisa memberi suatu yang indah di kemudian hari.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Ghozi yang kini sudah berada di kamarnya.
Tadi orang suruhannya memberi tahu jika semua informasi tentang Tari sudah bisa di dapatkan, dan ternyata ada banyak hal mengejutkan yang cukup membuat Ghozi bingung.
"Kenapa hidupnya jadi serumit ini?" gumam Ghozi saat melihat segala hal yang pernah di lalui oleh Tari dulu sebelum dia masuk ke dalam pesantren.
"Bagaimana ini? apa Umik akan setuju jika Tari memiliki latar belakang seperti ini," Ghozi kembali bergumam saat melihat lembar demi lembar kertas berisi kisah hidup Tari lengkap dengan foto yang semakin meyakinkan Ghozi jika kehidupan Tari begitu rumit di masa lalu.
Ayah dan Ibu yang bercerai, keduanya sama-sama menikah lagi dan memiliki keluarga baru yang terlihat begitu bahagia, sedang Tari berkelana sendiri tanpa ada yang peduli, ada rasa bingung dan sedih yang merasuk ke dalam hati Ghozi, hingga tanpa terasa air mata menetes di pelupuk mata, menandakan betapa terkejutnya Ghozi melihat kisah hidup Tari yang tersusun rapi di dalam lembaran kertas yang di berikan anak buahnya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" lirih Ghozi menatap lurus ke atas langit membayangkan betapa sulitnya hidup Tari di masa lampau dan betapa sulitnya jalan yang akan dia lewati demi mendapatkan cintanya.
"Khem," deheman Ummi terdengar saat Ghozi menengadahkan wajah ke atas langit-langit kamar dengan mata yang tertutup.
"Ummi, maaf, Ghozi tidak tahu kalau ada Ummi di sini, ada apa Ummi?" ujar Ghozi setelah melihat Ummi berdiri di tengah pintu sambil menatap ke arahnya.
"Harusnya Ummi yang bertanya, ada apa Ghozi? kamu terlihat begitu bingung saat ini," Ummi menjawab pertanyaan Ghozi dengan sebuah pertanyaan yang cukup mewakilkan perhatian Ummi pada Ghozi.
"Tidak ada, Ummi, Ghozi hanya lelah saja, makanya Ghozi beristirahat," jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan itu terdengar muncul dari bibir Ummi yang penuh perhatian dan pengertian.
"Ummi tahu jika kamu sedang bingung Ghozi, jangan pernah malu untuk bertanya ataupun berdiskusi dengan Ummi jika kamu membutuhkannya, Ummi hanya bisa berdo'a semoga apa yang kamu bingungkan saat ini bisa segera terselesaikan," Ummi sudah sangat mengenal Ghozi, dia tidak mungkin salah mengira, Ghozi pasti dalam kesulitan saat ini, dan Ummi tidak akan salah memperkirakannya.
__ADS_1
Ghozi yang merasa belum siap mengatakan segalanya pada Ummi kini hanya bisa diam tanpa kata.
"Ummi tidak akan memaksamu untuk bercerita, hanya saja saran Ummi kalau punya masalah lebih baik di ceritakan pada orang yang benar-benar kamu bercaya," Ummi kembali memberi saran saat melihat Ghozi hanya diam tanpa kata.
"Ummi ada apa datang ke sini?" tanya Ghozi mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ummi mau mengambil hasil ujian kelas tiga yang kemarin, apa kamu masih menyimpannya?" tanya Ummi.
"Sudah Ummi, sebentar biar Ghozi ambilkan dulu." Jawab Ghozi melangkah menjauh dari Ummi menuju lemari yang berada di sudut ruangan.
Ghozi menyimpan setiap kertas ujian yang sudah dia koreksi di dalam lemari agar tidak tercecer ataupun ada yang hilang karena Ghozi tidak menyimpannya dengan benar.
"Ini Ummi." Ghozi memberikan setumpuk kertas yanh sudah dia koreksi sebelumnya.
"Terima kasih Ghozi, jangan melamun terus! tidak baik, bersabarla! Mungkin Tuhan masih mengujimu," Ummo menepuk pelan pundaknya kemudian melangkah pergi meninggalkan Ghozi yang tersenyum manis ke arah Ummi.
"Sayang," lirih Kafa yang kini sedang tiduran di sofa yang ada di depan TV di ruang keluarga.
"Hm," sahut Salma singkat.
Salma sedang menonton siaran televisi yang ada di hadapannya, film korea yang masih saja terlihat menyenangkan untuk di tonton menjadi pilihan Salma.
"Ishhh, Mas, jangan begini!" Salma menggeliat pelan merasa geli dengan apa yang di lakukan oleh Kafa.
__ADS_1
Saat ini Kafa sedang tidur di p**a Salma yang kini menjafi tempat favoritnya untuk menyandarkan kepala sambil menikmati aroma tubuh sang istri, sesekali Kafa menggerakkan kepala sambil menciumi perut Salma yang masih terlihat rata.
Dan apa yang di lakukan oleh Kafa sukses membuat Salma geli, dia hanya bisa mengeluh tanpa bisa menghindar.
"Semoga saja di dalam sini sudah ada calon penerus kita," Kafa kembali mencium perut Salma yang rata dengan untaian harapan yang muncul dari bibir Kafa.
Membayangkan mempunyai seorang bayi akan sangat menyenangkan bukan.
"Bersabarlah Mas! jika waktunya sudah tiba nanti, mimpi itu pasti akan menjadi nyata dan kamu harus yakin jika tuhan sudah menyiapkan hal indah bagi setiap hambanya," Salma terdengar begitu tulus dan bijak.
"Bagaimana mimpi itu bisa jadi nyata kalau yang ku ajak mengejar mimpi malah sulit untuk aku ajak mengejarnya," ujar Kafa yang cukup membuat Salma bingung dengan apa yang di bicarakannya.
"Maksud Mas Kafa bagaimana?" tanya Salma yang tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Kafa.
"Kalau mau cepat terwujud mimpinya, kita harus lebih giat lagi buat menanamnya, agar benih itu lebih cepat tumbuh," Kafa malah mengatakan tanam menanam yang semakin membuat Salma bingung.
"Apa hubungannya menanam sama anak yang akmu harapkan Mas?" Salma kembali bertanay merasa bingung dengan apa yang di katakan oleh Kafa.
"Maksudku kita harus sering-sering melakukan olahraga ranjang agar bisa cepat punya anak yang aku harapkan," Kafa mencoba menjelaskan dengan kata kiasan yang Menurut nya lebih mudah di pahami.
"Olahraga ranjang?" lirih Salma yang terlihat berfikir, sepertinya Salma masih tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Kafa, dan Kafa yang melihat respon Salma seprti itu malah semakin gemas.
"Olahraga ranjang itu, hubungan yang hanya bisa di lakukan oleh suami istri di dalam kamar, kalau kamu masih tidak mengerti juga maksudku, olahraga ranjang itu surga dunia yang hanya busa di nikmati oleh sepasang suami istri," Kafa menjelaskannya dengan kata-kata yang jauh lebih jelas menurutnya.
__ADS_1
Salma mengangguk tanda jika dia faham dengan apa yang di katakan oleh Kafa.
"Kalau itu bukan mengejar mimpi, Mas," ucap Kafa menggelengkan kepala menyadari jika suaminya saat ini sering sekali berfikiran mesum.