Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Jiwa Penasaran Kafa


__ADS_3

"Dasar sahabat sengklek, kalau ngomong gak pernah pakai filter," sahut Salma menanggapi ucapan Tari yang menurutnya tak masuk akal.


"Aku jadi penasaran sama wajah calon imammu itu, apa setampan Yuman? atau malah sebaliknya?" lirih Tari membuat Salma geleng kepala mendengar kata-kata Tari yang sering membuat orang bingung dan jengkel.


"Kenapa jadi bahas Yuman sih Tari, males banget aku dengernya," seru Salma.


Yuman adalah orang yang pernah singgah bahkan menjadi kekasih Salma, tapi keduanya harus putus karena Yuman ketahuan telah berselingkuh dengan teman kantornya, dan Salma yang mengetahui perselingkuhan itu langsung memutuskan Yuman, meskipun Yuman sudah menjelaskan jika dia mendekati gadis si kantornya semata-mata hanya ingin naik jabatan, tapi Salma yang sudah terlanjur sakit hati tak ingin memaafkan ataupun mempertahankannya, dia memilih putus dan berpisah dari Yuman.


"He he he, cuma kebetulan lagi inget aja Salma, makanya aku ngomong kalu enggak aku gak bakal ngomong," ujar Tari sambil tersenyum.


"Sudahlah, yang lalu biar berlalu, lebih baik kita tata masa depan yang baru tanpa harus menoleh ke belakang,"sahut Salma yang selalu membuat Tari salut, sifat tegas dan tegar Salma yang sudah melekat sejak dulu.


Hari ini berlalu dengan berbagai kejadian yang cukup menguras emosi bagi Salma, pertemuan pertama dengan Kafa yang akan menjadi pendamping sekaligus imam dalam hidupnya memberi kesan buruk yang cukup membuat Salma ragu untuk melanjutkannya.


"Woiii!! masih pagi udah bengong aja," tegur Tari yang baru saja datang dengan satu ikat cukup besar sayur kangkung di dekapannya.


"Kamu kebiasaan, hobbi banget ngagetin orang," keluh Salma.


"Dari pada melamun tidak jelas lebih baik kamu bantu aku bersihin sayur ini," ucap Tari sambil menaruh satu ikat sayur kangkung di hadapan Salma.


"Hari ini kita masak kangkung ya?" pertanyaan konyol keluar dari mulut Salma, padahal sidah jelas ada sayur kangkung di hadapannya, tapi Salma malah bertanya dengan ekspresi polosnya.


"Bukan kita mau masak capcay," sahut Tari sedikit greget mendengar pertanyaan Salma.


"Ishhh aku kan cuma bertanya, kenapa kamu jadi sinis gitu," ujar Salma.


"Salma, sahabatku yang puaaaaling, paling segalanya, kalau di hadapan kita adanya sayur kangkung itu tandanya kita mau masak sayur kangkung, tidak usah tanya lagi!" ucap Tari dan Salma hanya tersenyum menanggapi ucapan Tari.


Keduanya memasak dan menyelesaikan tugas yang memang harus mereka selesaikan. Hingga jam makan para santri selesai dan waktunya mereka mengisi perut yang sudah keroncongan.


"Setelah ini kita mau langsung ke rumah Ummi buat belajar atau masih ada yang di kerjakan?" tanya Tari.

__ADS_1


"Badanku lengket semua Tari, bagaimana kalau kita mandi dulu sebentar setelah itu kita ke rumah Ummi," usul Salma.


"Boleh juga, tapi jangan lama-lama! kasian pak guru kita kalau harus nunggu," sahut Tari.


"Kamu tenang aja, jam segini kamar mandi banyak yang kosong," ujar Salma, dan Tari hanya mengangguk sebagai jawaban.


Keduanya menyelesaikan makan dan melanjutkan membersihkan duri di kamar mandi kemudian kembali beraktifitas belajar di rumah Ummi.


"Assalamualaikum," ucap Tari yang datang lebih dulu dari pada Salma karena saat ini Salma masih berada di kamar mandi menuntaskan hajatnya.


"Waalaikum salam," jawab seorang laki-laki tampan dan penuh karisma yang belum pernah di temui oleh Tari sebelumnya, laki-laki yang menurut penglihatan Tari nyaris sempurna dan mampu membuat jantungnya berdegub lumayan kencang karena kagum akan ciptaan tuhan yang ada di hadapannya.


"Kamu santri baru ya?" tanya laki-laki itu.


"Hey! aku bertanya padamu," sambungnya dengan nada bicara naik satu oktaf.


"I~iya, aku santri baru," jawab Tari spontan.


Iya, laki-laki yang saat ini berdiri tegak di hadapan Tari adalah Kafa, putera Ummi yang kemarin sempat di ceritakan oleh Salma.


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Kafa dengan ekspresi dingin penuh penekanan.


"Aku mau belajar bersama Ghozi di sini," jawab Tari.


"Belajar itu di kelas ngapain belajar di rumah?" seru Kafa.


"Eh Tari, sudah lama di sini, Nak?" sapa Ummi saat beliau tak sengaja melihat Tari berdiri di depan pintu dengan Kafa yang berada tak jauh darinya.


"Tidak Ummi, Tari baru saja ke sini," jawab Tari dengan senyum manis yang timbul di bibirnya, sedang Kafa hanya mengerutkan dahi bingung melihat sang Ummi yang begitu ramah pada Tari.


"Ayo masuk, Nak!" ajak Ummi seraya memberi isyarat agar Tari mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum," kini suara Salma terdengar dan sukses mencegah langkah Ummi juga Tari.


"Waalaikum salam," sahut ketiganya meski kini Kafa terliaht begitu bingung dengan apa yang terjadi, tapi dia tetap menjawab salam dari Salma.


"Salma, masuklah, Nak!" sahut Ummi sambil mengajak Salma masuk ke dalam rumah.


Sejak pertama kali bertemu dengan Salma ada sedikit kecurigaan yang timbul di hati Kafa, pasalnya Ummi tak biasanya mengizinkan santri makan satu meja makan bersamanya, dan Ummi jarang sekali meminta bantuan santri untuk memasak jika tidak dalam keadaan yang mendesak, karena Ummi lebih senang memasak sendiri makanan yang akan di makan olehnya dan keluarga.


Tapi saat kemarin Kafa datang, Salma yang di minta memasak dan yang lebih anehnya lagi, Salma di minta makan bersama di meja makan, hal itu membuat Kafa curiga ada apa sebenarnya antara Ummi dan Salma.


Melihat ketiga wanita yang ada di hadapannya berjalan masuk ke dalam rumah membuat jiwa penasaran kafa muncul dan dia mengikuti ke mana merwka pergi, hingga ketiganya menuju teras yang ada di halaman samping sebelah ruang keluarga.


"Kalian tunggu saja dulu! sebentar lagi Ghozi akan datang." Pesan Ummi sebelum meninggalkan keduanya.


'Kenapa mereka mendapat perlakuan istimewa dari Ummi, siapa sebenarnya mereka dan kenapa Ummi bersikap seperti itu?' batin Kafa mulai bertanya-tanya.


Kafa terus memperhatikan keduanya hingga Ghpzi datang dengan beberapa kitab yang ada di tangan kanannya.


"Assalamualaikum," ujar Ghozi.


"Waalaikum salam," sahut Tari dan Salma hampir bersamaan.


Sepanjang pelajaran yang di berikan oleh Ghozi, Kafa terus memperhatikan ketiganya, ada banyak pertanyaan yang timbul tapi masih belum bisa di ungkapkan olehnya, Kafa masih menahan diri untuk tidak bertanya hingga waktunya tiba.


"Baiklah, untuk saat ini cukup sampai di sini, kita lanjutkan lagi besok." Pesan Ghozi sebelum menutup pertemuan hari ini.


"Apa ada yang ingin di tanyakan? atau ada materi yang belum di fahami?" pertanyaan yang selalu di ucapkan sebelum Ghozi benar-benar pergi.


"Tidak ada, terima kasih untuk hari ini," sahut Salma dengan senyum yang selalu mampu membuat jantung Ghozi berdebar begitu kencangnya.


"Iya, materi hari ini cukup mudah di fahami, terima kasih ya," sahut Tari yang juga ikut tersenyum ke arah Ghozi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku permisi balik dulu." Ghozi berdiri melenggang pergi meninggalkan keduanya yang masih duduk santai di tempat.


__ADS_2