
"Sudah, tolong bangunkan Ummi dan kita turun bersama." Jawab Ghozi.
Tari tak menjawab ucapan Ghozi, dia langsung melakukan apa yang Ghozi minta, sedang Ghozi berjalan keluar meninggalkan Tati dan Ummi yang masih berada di dalam mobil.
"Ummi, kita sudah samoai," perlahan Tari menggoyangksn pundak Ummi.
"Apa kita sudah ssmpai Tari?" pertanyaan yang sana terdengar dari bibir Ummi.
"Sudah, Ummi," jawab Tari dengan senyum yang terlihat jelas di wajahnya.
Ummi yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin segera menemui anak dan menantunya langsung turun. Ummi sejenak terdiam mengingat masa lalu yang pernah terjadi di rumah yang saat ini di tempati oleh Kafa dan Tari.
"Katanya ingin segera bertemu Neng Salma dan Mas Kafa, Ummi? kok diam?" tanya Tari saat melihatsang Ummi terdiam memaku di depannya.
"Rumah penuh kenangan, dan aku tidak menyangka jika hari ini aku maaih di beri kesempatan untuk datang lagi ke rumah ini," sahut Ummi.
Tari yang mendengar ucapan Ummi hanya bisa diam tanpa bisa membalasnya, Tari tak pernah tahu aia saja yang terjadi di rumah itu dulu, karena itulah dia memilih diam dari pada membalas ucapannya.
"Ummi!!" suara renyah Salma terdengar begitu jelas merasuk ke dalam telinga, Salma keluar dari dalam rumah sambil berlari kecil menghampiri Ummi dan Tari yang masih setia berdiri di halaman rumah.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" hal pertama yang ikut Ummi tanyakan, dia terlihat begitu merindukan Salma, meski Salma hanya menantunya, tapi Ummi memiliki rasa sayang pada Salma sama seperti rasa sayang dia pada puteranya sendiri.
__ADS_1
"Alhamdulillah Ummi, Salma baik-baik saja," jawab Salma yang kini sudah berada dalam pelukan Ummi yang sudah menjadi mertuanya sendiri.
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja, apa kamu betah tinggal di sini?" Ummi kembali bertanya seraya melepas pelukannya.
"Alhamdulillah, betah Ummi, tapi Salma lebih suka berada di pesantren," jawab Salma.
"Setelah ini kamu bisa tinggal di sana, Ummi mau bicara dengan Kafa dulu." Pamit Ummi seolah mengerti jika Tari dan Salma yang sejak tadi hanya bisa saling melirik butuh waktu berdua agar bisa saling melepas rindu, seorang sahabat yang sudah dianggapnya menjadi saudara pasti memiliki rindu untuk bertemu, meski tidak ada hubungan darah di antara keduanya, namun Ummi tahu dengan pasti jika Tari dan Salma merindukan kebersamaan mereka dulu.
"Salma!!" ujar Tari langsung memeluk sahabat eratnya itu.
"Bagaimana kabarmu? apa si mata tajam dan mulut pedas itu masih menyakitimu? apa kamu baik-baik saja? dia tidak menyiksanya bukan?" rentetan pertanyaan terdengar dari bibir Tari yang kini berdiri tepat di hadapan Salma sambil memegang kedua pundak sahabatnya itu, mencoba memastikan jika sang sahabat apa dia masih baik-baik saja.
"Kamu ketinggalan banyak cerita, nanti kalau aku sudah pulang ke pesantren akan aku ceritakan segalanya, dan aku yakin kamu gak bakalan percaya dengan sikap Mas Kafa yang sekarang jika kamu tak melihatnya sendiri." Ujar Salma yang semakin membuat Tari penasaran.
"Sudahlah, bahas Mas Kafanya nanti saja, lebih baik sekarang kita masuk dan makan bersama, Mbok Sumik sudah membuatkan banyak makanan untuk kita," Salma tidak ingin ambil pusing, dia menggandeng tangan Tari kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah dan bergabung bersama yang lain.
"Kamu bagaimana kabarnya di pesantren Tari?" tanya Salma.
"Aku baik-baik saja, Neng Salma," jawab Tari yang cukup membuat telinganya jengah, sudah berkali-kali Salma bilang jika dirinya tidak suka di panggil dengan Neng.
Salma hanya bisa memutar bola mata jengah tanpa bisa protes ataupun marah, baginya sekarang adalah hari yang indah karena Ummi dan Tari sudah datang, dan Salma sangat menyukai hal itu.
__ADS_1
"Sayang! baju aku yang kemarin ke mana?" suara Kafa yang baru datang dari lantai atas mengejutkan semua orang yang sedang duduk santai di ruang tamu.
'Sayang? apa aku gak salah denger ya?' batin Tari menatap lekat ke arah keluarganya meski sebenarnya dia masih berada di tangga dan belum memijak lantai, tapi keterkejutan Tari tak bisa di sembunyikan, dia terbengong tanpa berkedip saat mendengar Kafa memanggil sayang dengan nada begitu lembut.
"Siapa yang kamu panggil tadi, Kafa?" Ummi yang mendengar dengan jelas puteranya memanggil sayang langsung berdiri dan menghampiri Kafa yang terdiam memaki di atas tangga.
"Ummi, kapan datang?" bukannya menhawab pertanyaan Ummi, Kafa malah balik bertanya, Ummi dan Ghozi memang sengaja menyembunyikan kedatangannya, agar Salma dan Kafa terkejut saat melihat mereka setelah sampai di rumah, sejak Ummi dan yang lain sampai tadi, Kafa memang sedang berada di kamarnya mengoreksi laporan keuangan yang di kirim oleh anak buahnya.
"Kenapa pertanyaan Ummi kamu jawab dengan pertanyaan pula Kafa? jawab dulu pertanyaan Ummi! baru Ummi akan jawan pertanyaanmu," Ummi yang di penuhi rasa penasaran tak ingin menjawab pertanyaan Kaf, dia sama sekali tak berniat menjawabnya saat ini.
Kafa yang tahu jika dirinya tidak akan pernah menang berdebat dengan sang Ummi langsung menunduk, rasanya ada sedikit rasa malu yang muncul dalam dirinya, pasalnya dulu dia menolak keras di jodohkan dengan Salma yang kini dia panggil sayang itu.
"Ummi, bagaimana kalau kita makan dulu? Mbok Sumik sudah memasak banyak untuk kita, dan Mas Kafa, bajunya ada di laci nomor dua dalam lemari," Salma yang tahu jika saat ini suaminya merasa kurang nyaman dengan pertanyaan Ummi langsung menyela, biar dia yang menjelaskan semuanya nanti.
Kafa yang mendengar jawaban Ummi langsung naik ke atas menutupi rasa malu dan salah tingkahnya di depan Ummi dan yang lainnya.
"Apa yang dia panggil itu kamu, Salma?" Ummi yang merasa belum puas menoleh ke arah Salma dan menanyakan pertanyaan yang tak di jawab oleh Kafa pada Salma yang dia yakini pasti akan menhawab apa yang dia tanya.
Dan Salma yang mendengar pertanyaan Ummi hanya mengangguk dengan senyum merekam yang menghiasi wajahnya, membuat Ummi yakin jika rumah tangga anaknya berkembang pesat selama berada di kota, Ummi yang merasa begitu bahagia langsung memeluk Salma dengan erat menyalurkan rasa bahagianya, karena apa yang dia harapkan kini telah terjadi.
Bukan hanya Ummi yang merasa bahagia karena Kafa sudah berubah, Tari yang sejak tadi terbengong karenanya juga ikut bahagia, dia berdiri dan berlari kecil menghampiri Salma, dia juga ikut memeluk sahabat sekaligus saudaranuav itu setelah Ummi melepas pelukannya.
__ADS_1
"Selamat ya Neng Salma, kamu sudah mendapatkan kebahagiaan yang memang seharusnya sudah kamu dapatkan swjak pertama kali kamu menikah," tutur Tari dengan senyuman kebahagiaan dan pelukan kasih sayang.