Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Prioritas


__ADS_3

" aku akan selalu semangat mengajari mereka Ghozi, jadi kamu tenang saja, " sahut Tari sambil berjalan menjauh dari Ghozi, kembali masuk ke dalam rumah kemudian berjalan menuju asrama mengambil beberapa buku yang akan dia bahwa untuk mengejar nanti.


Pagi indah dipenuhi dengan semua harapan yang muncul karena tanda-tanda yang entah benar atau salah, meski begitu Kafa tetap bangun di pagi hari dengan semangat yang berkobar dia membuat bubur beras dan telur setengah matang menu yang sama yang dia buat kemarin.


"Pagi, Sayang," siapakah fah sambil membawa nampan yang berisi seperti bubur beras dan telur setengah matang lengkap dengan wedang jahe yang ada di sisi kanannya.


Sejak kemarin Salma merasa dirinya sudah seperti putri raja, Kafa dan umi juga Abah memperlakukannya dengan sangat baik, Salma hanya bertugas beristirahat dan meminta apa yang ia inginkan, sedang Kafa, Ummi dan Abah mencoba mengabulkan semua yang Salma minta.


"Pagi juga, Mas," sahut Salma dengan senyum yang mengembang di bibirnya, sungguh dalam hati Salma dipenuhi rasa syukur yang tak bisa diukur oleh apapun karena dia mendapatkan suami sebaik Kafa dan keluarga sebaik keluarga kafa.


"Mas bawa apa pagi ini?" tanya Salma.


"Hari ini aku memasak makanan yang sama seperti kemarin, sayang, Ummi bilang makanan ini adalah makanan favoritnya saat dia mengandungku karena itulah aku akan memasakkan makan ini sampai kamu merasa bosan dan tak lagi menginginkannya," jelas Kafa.


"Aku pasti bosan mas jika kamu terus saja membuatkannya di pagi hari," ujar Salma.


"Tenang saja, Ummi bilang jika kamu tidak akan pernah merasa bosan dengan menu yang kubuatkan saat ini, Salma," ujar Kafa dengan ekspresi wajah penuh percaya diri dia berucap dan menjelaskan pada Salma.


"Ishhh yang makan itu aku atau Ummi, Mas?" keluh Salma.

__ADS_1


"baiklah sekarang apa yang ingin kamu makan, sayang?" tanya Kafa.


Salma sedang memikirkan sesuatu yang bisa ia makan, dia memang ingin makan bubur beras dan telur setengah matang pagi ini, tapi di sisi lain dia ingin makan nasi pecel yang dipadukan dengan ayam bakar, dalam bayangan Salma nasi pecel dengan ayam bakar terlihat begitu menggiurkan daripada makan bubur beras dan telur setengah matang.


"Mas, kali ini aku ingin makan nasi pecel dengan lauk ayam bakar, apa Mas kafa bisa membelikannya untukku? atau bagaimana kalau kita makan di warungnya saja?" Salma menjawab pertanyaan Kafa dengan pertanyaan yang dia ajukan.


"Apa pun yang kamu minta, Sayang, aku akan membelikannya untuk mu, tunggu di sini! Aku harus siap-siap, setelah itu kamu yang bersiap-siap! kita akan pergi mencari nasi pecel dan ayam bakar untuk sarapan pagi ini," Jawab Kafa.


Salma tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban jika dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kafa sungguh saat ini Salma merasa begitu bahagia, pasalnya Kafa sudah jauh berubah, dia jauh lebih perhatian dari biasanya.


Kakak benar-benar bersiap dan begitu juga dengan sama, keduanya telah siap untuk pergi mencari nasi kecil dan ayam bakar sesuai dengan apa yang sama minta.


"Ini apa Salma ingin makan nasi pecel dengan lauk ayam bakar, karena itu saat ini kita mau pergi keluar mencari nasi pecel dan ayam bakar," jawab Kafa.


"Pergilah! Hati-hati di jalan! dan ingat kembalilah pukul delapan nanti, karena Ummi sudah membuat janji dengan dokter dan kita harus segera ke sana jangan sampai terlambat!" Abah mengizinkan salma dan Kafa pergi tapi dia mengingatkan agar keduanya segera pulang janji yang telah dibuat dengan sang dokter tidak bisa dibatalkan.


"Baik Abah, kami akan segera pulang sesaat setelah kami makan dan menemukan nasi pecel dan ayam bakar yang Salma mau." sanggup Kafa.


"Pergilah! hati-hati!" sekali lagi Abah mengingatkan Kafa dan Salma agar dirinya jauh lebih hati-hati agar selamat sampai tujuannya.

__ADS_1


Kafa dan Salma berjalan beriringan keluar dari rumah menuju garasi kemudian pergi mencari ayam bakar nasi putih yang diinginkan oleh Salma, hingga keduanya mendapatkan apa yang mereka inginkan saja satu porsi ayam bakar dan nasi pecel ludes tak tersisa, Salma benar-benar menghabiskannya sungguh Kafa tidak menduga jika Salma akan memakan habis satu porsi nasi pecel dan ayam bakar itu pasalnya ummi bercerita jika dulu diambil hanya bubur beras dan telur setengah matang yang bisa masuk ke dalam perutnya.


'mungkin anakku berbeda denganku, saja dia lebih mirip ibunya,' terus menerka-nerka dengan apa yang terjadi pada Salman dia juga mendapat pekerjaan sama yang sedang makan dengan lahapnya.


"Mas, teh ini baunya tidak enak, aku tidak ingin minum teh," kelu Salma sambil mendorong secangkir teh yang ada di hadapannya ke arah Kafa.


"Kamu tidak mau gimana, Sayang?" tanya Kafa merasa aneh dengan keluhan Salma.


Teh yang Salman bukan beraroma melati, menurut Kaffa aroma ini sangat wajar dan rasa teh di situ juga sama seperti teh di warung-warung biasanya.


"Pokoknya aku tidak mau teh ini Mas, aku maunya wedang jahe saja." Ujar Salma yang tak bisa dibantah, dia ingin minum wedang jahe dan tidak menyukai teh yang ada di hadapannya itu.


'Baiklah, aku akan memesankan satu untukmu, tunggu di sini!" Kafa terlihat tidak marah ataupun merasa kesal dengan permintaan salma yang sebenarnya sangat aneh, karena biasanya nasi pecel dan ayam bakar sangat nikmat jika dipadukan dengan teh hangat yang tadi sempat di pesankan oleh Kafa.


Kafa berjalan masuk ke dalam warung dan memesankan wedang jahe untuk Salma. Entah sampai kapan Salma serepot ini, seperti ini sungguh Kafa merindukan Salma yang dahulu, tapi jika dia mengingat penyebab perubahan Salma senyum di wajahnya langsung nampak jelas di wajahnya.


"minumlah!" titah Kafa sesaat setelah dia keluar dari dalam warung dengan satu kelas wedang jahe yang ada di tangannya.


"Terima kasih, Mas" ucap Salma, setelah dia mendapatkan satu wedang jahe dari Kafa.

__ADS_1


Sarapan pagi yang penuh keributan telah terlewati, Kafa sangat senang bisa memenuhi apa yang Salma inginkan, bagi dirinya saat ini Salma merupakan prioritas utama yang harus di dahulukan, Kafa tidak sabar ingin segera menimang sang buah hati yang entah memang sudah hadir di perut istrinya atau belum, yang jelas Kafa harus lebih bersabar menghadapi perubahan sikap yang terjadi. Dalam hati Kafa, istri dan calon bayinya adalah hal yang akan selalu menjadi nomor satu dalam hidup Kafa.


__ADS_2