
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ummi, dia langsung pergi menuju Pondok Putri untuk menemui Tari yang kini tengah duduk berdiam menatap langit mengingat apa yang telah dia lalui sebelum dia sampai di pesantren ini.
"Tari," Ummi sengaja datang sendiri menemui Tari yang melarang santri yang lain untuk menegur Tari yang tengah menatap langit.
"Ummi," sahut Tari seraya mengalihkan pandangannya dari atas langit menuju ke arah Ummi, melihat Ummi berjalan mendekat ke arahnya. Tari yang melihat Ummi berjalan ke arahnya langsung berdiri dan mengikuti langkah Ummi, dia juga berjalan mendekat ke arah Ummi.
"Ada apa, Ummi?" Tari langsung bertanya melihat Ummi yang datang secara tiba-tiba, jujur saja saat ini Tari merasa terkejut dengan kehadiran Ummi.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, Nak, "jawab Ummi Seraya meraih lengan tari dan mengajaknya duduk di depan kamar di mana dia duduk tadi.
"Apa ada masalah, Ummi?" Pikiran Tari sudah melayang jauh melangkang buana, mencari jawaban yang menurutnya paling tepat untuk menjawab pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya.
"Tidak ada, Ummi hanya ingin menyampaikan sebuah pesan yang mungkin akan membuatmu bahagia," jelas Ummi.
"Pesan apa yang ingin disampaikan?" Tari menatap lekat ke arah Ummi dengan rasa penasaran yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Umik tadi berpesan sebelum pulang, dia ingin melamarmu untuk Ghozi besok, apa kamu bersedia dan Apa kamu siap untuk menerima lamaran Umik besok?" Tanpa basa-basi Ummi langsung Menjelaskan alasan dirinya datang ke dalam Pondok Putri dan menemui Tari saat ini.
"Aku harus menemui kedua orang tuaku terlebih dahulu Ummi, mau bagaimanapun juga kedua orang tuaku masih hidup dan aku membutuhkan Ayahku sebagai wali telah pernikahanku nanti kamu "ujar Tari dan ekspresi wajah lesu Dia berkata.
"Aku akan membantumu mengatakannya pada Orang tuamu," sanggup Ummi yang saat ini terlihat begitu bersemangat, Ummi memang ingin sekali melihat kedua puteri angkatnya itu segera menikah.
"Aku akan sangat berterima kasih jika memang Ummi mau membantuku," ujar Tari dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita ke rumah orang tuamu saat ini?" usul Ummi yang cukup membuat Tari terkejut,
"Apa tidak terlalu cepat jika kita ke sana sekarang, Ummi?" jawab Tari.
"Tidak, lebih cepat lebih Baik, jika kita ke sana sekarang, besok kita bisa Kita bisa memberi jawaban yang tepat untuk Umik," tutur Ummi.
Sejenak Tari terdiam memikirkan apa yang baru saja dikataka n oleh Ummi, tanpa banyak berpikir Tari yang merasa jika perkataan Ummi memang benar langsung mengiyakan usulan Ummi tanpa berpikir dua kali lagi.
"Bagus jika kamu setuju dengan usulan Umi, bersiaplah! sepuluh menit lagi kita berangkat. Ummi tunggu kamu di halaman depan." ujar Umi memberi perintah kepada Tari yang ditanggapi dengan anggukan sebagai jawaban.
Tari yang mendengar ucapan Ummi langsung berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju karena dia baru saja ganti baju setelah mandi pagi tadi, sedang Ummi berjalan menuju halaman rumahnya mencari keberadaan Ghozi yang entah ada di mana, dengan langkah penuh keyakinan dan semangat Ummi terus melangkah mencari keberadaan Ghozi yang entah ada di mana? Ummi terus berjalan bertanya pada setiap santriwan yang dia lihat. Hingga sampailah Ummi di depan koperasi milik pesantren, dan terlihat Ghozi sedang duduk bersama teman-temannya yang lain.
"Ghozi!" panggil Ummi saat melihat Ghozi sedang duduk santai bersama teman-temannya di depan koperasi.
"siapkan mobil! Kita akan berangkat ke rumah Tari dan kamu yang harus mengantar Ummi dan Tari pergi ke rumahnya!" titah Ummi sesaat setelah Ghozi berada di hadapannya.
"Mengantar Ummi dan Tari bagaimana maksudnya?" tanya Ghozi yang tidak mengerti dengan perintah yang baru saja dikatakan oleh Ummi, dia langsung bertanya setelah mendengar perkataan Ummi.
"Ummi berencana mengatakan semua niat baiknya pada kedua orang tua Tari, agar besok Tari dan Ummi bisa memberikan jawaban yang tepat untuk Umikmu," Ummi menjelaskan semua rencana yang sudah dia susun, bagi Ummi saat ini menyatukan Tari dan Ghozi lebih penting dari pada yang lain.
"Aku jadi khawatir Ummi," lirih Ghozi setelah mendengar penjelasan Ummi.
"Khawatir kenapa?" sahut Ummi yang kini terlihat penasaran dengan ucapan Ghozi.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kedua orang tua Tari menolak pinanganku?" ungkap Ghozi.
"Tidak mungkin, mereka pasti menerimamu, apa lagi mendengar siapa kamu sebenarnya, mereka pasti akan langsung mengiyakan niat baikmu itu," Ummi yang mengerti dengan keraguan yang di rasakan oleh Ghozi, kini mencoba meyakinkannya agar Ghozi merasa yakin dan mau pergi tanpa ragu lagi.
Ghozi terdiam, sekarang fikirannya berjalan mencari sebuah keberanian yang mungkin dia dapat, cukup lama Ghozi berfikir hingga dia mendapatkan apa yang dia cari.
"Baiklah, aku akan menyiapkan mobil untuk kita berangkat," ujar Ghozi dengan senyum penuh semangat yang muncul di wajahnya.
"Bagus, itu baru putera Ummi," ujar Ummi seraya menepuk pelan pundak Ghozi yang tertutup baju kokoh.
Ummi, Tari dan Ghozi kini mulai bersiap untuk pergi ke rumah yang sebenarnya tidak ingin di datangi lagi oleh Tari, tapi setelah dia mengerti bagaimana islam memberi syarat dan ketentuan yang harus di taat, membuat Tari terpaksa datang meski hati tak ingin pergi.
"Assalamualaikum," ucap Tari, sekarang dia berada tepat di depan pintu rumah sang Ayah yang kini tinggal dengan Ibu Tiri nya.
"Waalaikum salam," sahut sang Ibu Tiri yang cukup terkejut melihat kedatangan Tari dengan mobil fortuner yang terparkir cantik di halaman rumahnya lengkap dengan seorang pria tampan dan Ibu-Ibu yang dia yakini berasal dari kalangan atas.
"Tari, ada apa ini?" sahut Sang Ibu Tiri menatap heran ke arah Tari yang tersenyum kecut ke arah Ibu Tiri yang tak pernah suka padanya.
"Apa Ayah ada?" bukannya menjawab, Tari justru melempar pertanyaan yang menandakan jika Tari tak ingin berbincang ataupun basa basi dengan Ibunya itu.
"Ada, masuklah dulu! jika kamu ingin bertemu Ayahmu," sahut Sang Ibu Tiri, sedang Ummi dan Ghozi hanya memperhatikan sekitar, melihat tatapan penuh rasa heran bercampur sinis yang di berikan oleh Sang Ibu Tiri cukup menjelaskan bagaimana hubungan antara Tari dan Ibu Tirinya itu.
Sesuai dengan apa yang katakan oleh Ibu Tirinya, Tari dan yang lain berjalan masuk ke dalam rumah kemudian duduk di kursi yang tersedia di sana, mereka menunggu Sang Ibu Tiri yang kini berjalan masuk ke dalam rumah untuk mencarikan orang yang sedang mereka cari.
__ADS_1