Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Rindu Pada Sang Sahabat


__ADS_3

"Sudahlah, aku lebih baik pergi. Percuma juga di sini gak bakal dapat jawaban juga," ucap Salma melenggang pergi meninggalkan Ghozi yang kembali menatap layar televisi di hadapannya.


Salma memutuskan untuk pergi menuju mushollah dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Kamu mau ke mana Salma?" tanya Kafa.


"Aku mau ke dapur bantuin Mbok Sumik." Jawab Salma.


"Jangan bantuin Mbok Sumik! lebih baik kamu istirahat! hari ini biar Mbok Sumik masak sendiri saja," larang Kafa.


Salma cukup terkejut mendengar larangan Kafa, biasanya Kafa selalu menyukai masakan Salma dan terkadang dia meminta di masakkan sesuatu, tapi kali ini Salma di larang untuk memasak.


"Kok tumben Mas Kafa ngelarang aku masak, kenapa?" tanya Salma yang tak ingin memendam rasa penasarannya, dia lebih memilih untuk bertanya dari pada memendam rasa penasaran yang ada dalam hatinya.


"Kamu akan menunaikan kewajiban yang pasti akan membutuhkan banyak tenaga nanti, jadi simpan saja tenaga itu untuk nanti dan lebih baik sekarang kamu istirahat saja dulu." Jawab Kafa enteng.


"Astaghfirullah, ternyata ada udang di balik batu, aku kira dia emang mulai perhatian padaku, tapi ternyata aku dilarang masak juga karena kepentingan dirinya sendiri," gumam Salma.


Salma memutuskan untuk menikmati sore harinya di tepi kolam menikmati senja sambil memakan biskuit juga teh hangat yang Kafa pesankan, tadi sebelum pergi Kafa meminta Mbok Sumik menyiapkan satu cangkir teh hangat dan satu toples penuh biskuit dan Kafa juga meminta Mbok Sumik memberikannya pada Salma yang tak sengaja Kafa lihat sedang duduk di tepi kolam.


"Kenapa tiba-tiba aku merindukan Tari ya? bagaimana kabar dia sekarang?" lirih Salma saat dia mengingat Tari sang sahabat.


Tanpa banyak berfikir lagi Salma langsung membuka kunci layar ponselnya dan mulai mencari nomor Ummi untuk dia hubungi, entah mengapa Salma tiba-tiba merasa rindu pada sahabat seperjuangannya itu.


'Semoga saja Ummi sedang bersamanya, jadi aku tidak perlu meminta pertolongan Ummi untuk berbicara dengan Tari,' batin Salma.


Tut ... tut ... tut ....


Suara nada dering tersambung tapi masih belum ada jawaban dari sebrang, hingga satu nada terakhir masih belum ada yang menjawab.


"Mungkin Ummi masih sibuk," Salma mulai berasumsi sendiri, dari pada memaksa dan menelfon lagi, Salma memilih untuk meletakkan ponselnya dan mulai menikmati biskuit juga teh hangat uang sudah tertata rapi di samping tempat Salma duduk.

__ADS_1


Baru satu biskuit yang masuk ke dalam mulut Salma, ponsel yang tadi di letakkan di meja samping tempat Salma duduk bergetar dan berbunyi, tanda jika saat ini ada panggilan masuk.


"Ummi," ucap Salma girang saat dia melihat siapa yang menghubunginya.


"Assalamualaikum, Ummi," sapa Salma sesaat setelah panggilan telfon dia angkat.


"Waalaikum salam, bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ummi.


"Alhamdulillah, aku baik Ummi, keadaan Ummi bagaimana? apa baik juga?" Salma balik bertanya.


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, bagaimana keadaan Kafa? apa ada perubahan? atau Kafa masih saja bersikap dingin padamu Salma?" Ummi mulai mengintrogasi Salma.


Belum juga sempat berbicara, Ummi sudah membrondongi Salma dengan berbagai pertanyaan.


"Mas Kafa alhamdulillah baik Ummi, dan alhamdulillah juga Mas Kafa sudah bersikaplah baik pada Salma tidak sedingin dulu," jawab Salma jujur.


Kafa memang banyak berubah sejak pindah tinggal di kota, dia tidak lagi memusuhi ataupun bersikap buruk pada Salma.


"Ummi, apa di sana ada Tari?" tanya Salma yang benar-benar merindukan sahabatnya itu.


"Apa aku boleh bicara dengannya Ummi?" tanya Salma dengan nada penuh keraguan.


"Tentu saja boleh, tunggu sebentar! biar Ummi panggilkan anaknya!" ujar Ummi yang ternyata tidak keberatan dengan permintaan Salma


"Salma!!!" panggil Tari histeris, dia seolah lupa berada di mana dia sekarang.


"Aku merindukanmu, ke mana saja kamu? aku fikir kamu sudah bahagia di sana dan mulai melupakan sahabatmu," ujar Tari yang membuat Salma tersenyum senang karenanya.


"Mana mungkin aku melupakan kamu Tari, sahabat yang paling mengerti dan paling setia padaku," ujar Salma.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? apa ada sesuatu yang buruk yang sedang kamu alami?" pertanyaan yang hampir sama dengan pertanyaan yang tadi di ungkapan oleh Ghozi.

__ADS_1


"Alhamdulillah semua baik-baik saja Tari, bagaimana dengan keadaanmu?" jawab Salma sambil melempar pertanyaannya kembali.


"Alhamdulillah baik, eh Salma aku boleh minta tolong?" tanya Tari dengan harapan dia bisa melihat pria yang kini masih betah tinggal di hatinya tanpa niat untuk pergi.


"Tolong apa?" sahut Salma.


Tari tidak langsung mengatakan pertolongan apa yang dia maksud, tapi Tari justru terlihat celingukan mencari keadaan aman untuk dia berbicara.


"Apa Ghozi masih ada di sana?" tanya Salma.


Tanpa perlu di jelaskan Salma sudah mengerti apa yang sedang Tari rasakan saat ini.


"Apa kamu merindukan dia?" Salma berjalan mengarahkan kameranya ke arah Ghozi yang terlihat masih anteng menonton televisi.


"Alhamdulillah kalau dia baik-baik saja," lirih Tari saat berhasil melihat Ghosi yang dia rindukan beberapa hari ini.


"Alhamdulillah, kamu tenang saja! di sini dia aman!" ujar Salma yang di balas senyum malu dari Tari.


"Kamu tenang saja! aku akan memantau dia agar tidak dekat dengan gadis manapun kecuali aku!" ujar Salma.


"Kenapa bisa begitu? kenapa dia hanya bisa dekat denganmu? bukankah kamu sudah sah menjadi istri Mas Kafa, kenapa harus dekat dengan Ghozi?" Tari terlihat cemburu dengan ucapan Salma.


"Ghozi di sini untuk menjagaku Tari, jadi wajarlah kalau Ghosi tak boleh jauh dariku," jelas Salma yang di angguki oleh Tari.


Salam tersenyum menatap Tari yang terlihat sangat lega sekarang, Tari terlihat lebih bersemangat menjalani hidupnya dari pada tadi sebelum menelfon.


"Apa kamu mau berbicara dengan Ghozi Tari?" tawar Salma yang mengerti jika Tari akan semakin senang jika dirinya meminta Tari untuk berbicara dengan Ghozi.


"Jangan! aku tidak bisa bicara dengannya sekarang! lebih baik kamu lanjutkan berbicara dengan Ummi, sejak kemarin dia sibuk membicarakanmu karena dia merasa rindu padamu," Tari merasa belum siap untuk mengobrol dengan Ghozi memilih melanjutkan pekerjaannya dan mengembalikan ponsel Ummi kepada yang punya dan menolak tawaran Salma.


"Baiklah kalau kamu tidak mau tidak apa-apa, aku akan mengobrol dengan Ummi saja." Ucap Salma.

__ADS_1


Tari mengembalikan ponsel yang di pinjamkan oleh Ummi, dan kembali melanjutkan pekerjaannya, sedang Salma melanjutkan obrolan bersama Ummi, Salma terlihat begitu asyik mengobrol banyak hal bersama Ummi sampai dia lupa waktu, meluapkan segala rasa rindu dan khawatir yang selau menghantui Ummi.


Apa yang di lakukan Salma tak luput dari perhatian kafa yang melihat setiap hal yang di kerjakan Salma dari jauh, senyum manis tersungging di bibir Kafa seiring dengan senyum manis yang terlihat di wajah Salma.


__ADS_2