Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Terima kasih Ummi


__ADS_3

"Kita hanya pergi sarapan pagi, kenapa kau lama sekali? cepatlah!" ujar Kafa yang saat ini


justru memalingkan wajah ke arah jendela.


"Tunggu sebentar lagi! aku hanya memoles sesikit bedak dan lipstik. Kenapa pagi ini kau cerewet sekali?" balas Salma yang ikut menggerutu.


"Ayo!" sambung Salma setelah selesai dan melihat Kafa yang masih setia menatap jendela.


Salma dan Kafa berjalan beriringan keluar dari kamar menuju dapur, keduanya terlihat begitu fresh dan segar, cahaya pengantin baru begitu terpancar di wajahnya.


"Masya allah menantuku sudah datang, ayo kita makan, Nak!" sambut Ummi saat melihat Salma yang baru saja sampai di tempat makan.


"Aku puteramu Ummi, kenapa kau hanya menyambutnya tanpa peduli padaku?" protes Kafa yang merasa di abaikan oleh sang Ummi.

__ADS_1


Bukannya menanggapi ucapan sang putera, Ummi malah berjalan dengan santainya menuju meja makan sambil merangkul pundak Salma dan memperkenalkannya dengan keluarga yang lain. Sedang Kafa tetap berdiri menatap ke arah Ummi sambil memperhatikan setiap gerakan Ummi yang terlihat begitu menyayangi Salma.


'Bagaimana reaksi Ummi jika dia tahu kalau Salma harus menghadapi Intan lusa?' batin Kafa.


"Kafa!" panggil Ummi yang baru saja menyadari jia Kafa tidak ikut bersamanya.


"Iya, Ummi," sahut Kafa dengan ekspresi terkejut yang terlihat jelas di wajahnya, Ummi memanggil Kafa dengan nada sedikit tinggi.


Ummi terlihat sangat bahagia, dia memperkenalkan Salma pada seluruh anggota keluarga yang belum pulang dan ikut sarapan saat ini, pagi yang indah dan menyenangkan.


"Ummi, besok aku akan kembali ke kota." Ucap Kafa saat semua orang sudah pulang dan saat ini Kafa sedang duduk bersama Abah, Ummi dan Salma di halaman samping ndalem.


"Apa harus pergi secepat ini Kafa? bagaimana kalau minggu depan saja perginya?" jawab Ummi yang mengusulkan Kafa untuk menunda kepergiannya.

__ADS_1


"Aku harus pergi Ummi," jawab Kafa mantap tanpa ada ragu sedikitpun di wajahnya, bagi Kafa saat ini, keamanan pesantren dan seluruh santri juga kedua orang tuanya lebih penting, sekalipun jika Kafa tetap menolak dan melawan kemungkinan besar dia akan menang, jumlah santri Kafa jauh lebih banyak dari pada jumlah anggita genk milik sepupu Intan itu, tapi Kafa tidak mungkin membiarkan santrinya ada yang terluka, mereka berada di pesantren untuk menimbah ilmu bukan menjadi jagoan ataupun berkelahi dan Kafa harus bisa menjaga kedamaian pabrik.


"Maaf, Ummi," sambung Kafa sambil menundukkan kepala melihat raut wajah penuh kesedihan milik sang Ummi.


"Sebenarnya Ummi masih ingin kalian di sini, tapi Ummi tidak bisa apa-apa selain mengikuti apa yang kamu minta, harapan Ummi hanya satu Kafa," tutur Ummi.


"Apa Ummi?" tanya Kafa.


"Tolong jaga Salma sebaik mungkin, ingatlah jika saat ini dia adalah tanggung jawabmu, dan kamu harus menjaganya lebih baik dari Ummi!" pinta Ummi yang cukup membuat Salma terenyuh, Ummi bukan Ibu kandungnya, tapi kasih sayang yang beliau berikan sudah seperti kasih sayang yang Ibu kandungnya berikan sewaktu dulu.


"Terima kasih, Ummi," ujar Salma sambil memeluk Ummi yang duduk tepat di sampingnya.


"Terima kasih untuk apa, Nak?" sahut Ummi terlihat bingung dengan ucapan terima kasih yang di ucapkan oleh Salma.

__ADS_1


__ADS_2