Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Meeting Di Hotel


__ADS_3

"Aku akan pergi keluar bersama Salma, Mbok ajak putera Mbok saja untuk makan bersama!" Jawab Kafa.


"Baik, Mas Kafa, terima kasih," ucap Mbok Sumik.


Kafa berjalan keluar dari rumah menuju garasi untuk memanasi mobil dan bersiap untuk pergi. Sedang Salma baru saja turun dari tangga, berjalan dengan sangat anggun, kecantikan yang memang sudah di miliki terlihat begitu alami tanpa dempul.


"Masuklah!" titah Kafa seraya membukakan pintu untuk Salma yang baru saja datang.


'Ini beneran Mas Kafa? koo jadi berubah begini?' batin Salma merasa sangat aneh dengan apa yang di lakukan oleh Kafa.


Sungguh Kafa berubah jadi suami yang lebih perhatian dan romantis sekarang. Meski Salma merasa heran dengan perubahan sikap Kafa dia tetap diam dan memperhatikan Kafa yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Mobil terus melaju hingga sampailah di sebuah hotel berbintang, Salma yang melihat tempat yang di tuju Kafa mulai mengerutkan dahi bingung, bukankah tadi Mas Kafa bilang ada meeting penting? tapi kenapa sekarang mereka malah peegi ke hotel berbintang seperti saat ini? ada banyak pertanyaan yang muncul di bebak Salma, menatap aneh ke arah hotel yangjustru terlihat mewah dan megah.


"Mas," lirih Salma yang tidak juga turun meski mobil sudah terparkir cantik di parkiran yang ada di tengah-tengah barisan mobil yang lain.


"Iya, ada apa?" sahut Kafa dengan ekspresi wajah biasa saja, dia sama sekali tidak memperhatikan wajah bingung Salma karena sejak tadi Kafa hanya fokus menatap jalan dan memarkirkan mobilnya.


"Katanya Mas Kafa mau meeting, kok ke hotel?" tanya Salma yang masih terlihat bingung memperhatikan sekitar.


"Meetingnya di hotel," jawab Kafa.


"Di hotel? aku baru tahu irang meeting itu di hotel, bukankah seharusnya meeting itu di kantor atau paling tidak di cafe gitu," tanya Salma.


"Aku bosnya, jadi terserah aku mau meeting di mana, lagi pula di tempat ini juga ada ruang meeting yang sudah di sediakan oleh pemiliknya, jadi tidak ada masalah bukan kalau aku ngajak karyawanku meeting di sini," ujar Kafa yang sekarang terlihat seperti big boss.


"Terserahlah, kamu memang bosnya," sahut Salma yang tak ingin berdebat dengan Kafa.


"Bagus kalau istriku yang cantik ini mengerti," Kafa yang gemas melihat tingkah Salma menoel pelan janggut sang istri, sungguh Salma terlihat begitu menggemaskan dalam keadaan apapun.


"Isshhh Mas Kafa maen towel-towel, dikira aku petis kali di towel-towel," spontan Salma yang cukup membuat Kafa semakin gemas.


Kafa lebih memilih mengalihkan pandangannya dari pada terus-terusan melihat ke arah Salma yang pada akhirnya akan membuat dirinya bingung, karena apapun yang di lakukan oleh Salma sukses membuat Kafa bergairah, rasanya ingin sekali mengurung Salm di kamarnya dan tak ingin melepaskannya, Kafa sangat tidak rela jika ada orang lain yang memandang wajah sang istri apa lagi jika sampai mengaguminya.

__ADS_1


Salma terus berjalan mengikuti langkah Kafa yang lebih dulu berjalan di depannya, dengan langkah pasti penuh wibawa Kafa berjalan masuk ke dalam hotel menuju sebuah ruangan yang terlihat tertutup dan hanya orang tertentu yang bisa masuk ke dalamnya.


"Mohon tunjukkan kartu aksesnya," pinta seoorang laki-laki yang berpakaian rapi dan berdiri tepat di samping pintu masuk.


"Silahkan masuk, Tuan," ujar laki-laki itu dengan penuh sopan membuka pintu dan mempersilahkan keduanya masuk.


Ini pertama kalinya Salma masuk ke dalam hotel mewah seperti saat ini, rasanya seperti mimpi di siang hari, tapi rasa lapar yang terus menyerang Salma membuatnya sadar jika saat ini Salma benar-benar ada di hotel, bukan di dalam mimpi.


"Mas," bisik Salma seraya menarik sedikit lengan Kafa agar dia mengerti jika saat ini Salma ingin bicara padanya.


"Iya, ada apa?" sahut Kafa seraya menghentikan langkahnya menoleh ke arah Salma yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.


"Aku lapar, apa kita tidak bisa makan dulu sebelum meeting?" tanya Salma dengan ekspresi penuh rasa lelah, Salma memang sangat lapar, sejak semalam mereka hanya bergulat hingga usai sholat subuh tadi, Salma masih memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri, rasa lapar yang dia tahan sejak pagi, kini sudah tak bisa lagi di tahan.


Kafa tak menjawanb ucapan Kafa, dia malah mengajak Salma berjalan masuk ke dalam ruangan terpisah dengan ruang meeting meski hanya di sekat dengan kaca tebal tapi Salma tetap tak bisa dengar apa yang di bicarakan sang suami dengan beberapa karyawan lainnya.


Tak beberapa lama Salma menunggu akhirnya seorabg pelayan datang dengan berbagai macam makanan yang ada di troli dorong.


"Silahkan di nikmati Mbak!" ujar sang pelayan menaruh berbagai macam makanan yang dia bawa di atas meja yang ada di hadapan Salma.


'Ting'


Satu notif pesan terdengar, Salma yang mengetahui jika ada pesan masuk langsung membukanya, ternyata Mas Kafa yang mengirim makanan sebanyak itu untuk di nikmati.


"Makan yang banyak Sayang!"


Satu notif pesan masuk telah di buka oleh Salma, sebuah kata yang seharusnya bisa membuat orang yang menerimanya dengan senang hati, tapi Salma tidaj seperti itu, dia malah terlihat bingung dengan apa yang terjadi, Salma tidak mungkin menghabiskannya sendirian.


"Mas aku tidaj serakus itu sampai kamu siapkan makanan sebanyak ini,"


Salma membalas pesan Kafa seraya menatapnya dengan tatapan bingung.


"Apa kamu butuh teman untuk menghabiskannya?"

__ADS_1


Kafa yang mulai mengerti dengan keinginan Salma mencoba menawarkan apa yang menurut Kafa memang di butuhkan oleh Salma.


"Tentu saja, Mas, makanan sebanyak ini mana mungkin bisa aku habiskan sendiri?"


Jawab Salma, Kafa yang mengerti dengan apa yangdi inginkan oleh Salma langsung meminta istri para karyawannya masuk ke dalam ruangan meeting dan menemani Salma yang kebingungan melihat banyaknya makanan yang di pesankan untuknya.


Cukup menunggu selama lima menit, beberapa wanita datang, ada yang sendiri dan datang dengan baju yang terlihat modis, ada pula yang biasa saja, ada juga yang membawa anaknya.


"Permisi Bu Salma," ucap semua wanita yang baru saja masuk.


"Masuklah! kalian siapa?" tanya Salma.


"Kami istri dari kryawan suaminya Neng Salma," jawab salah satu dari mereka yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Kami di perintahkan untuk menemani Neng Salma makan," sahut satunya lagi.


"Kalau begitu silahkan! aku memang butuh teman untuk makan," ujar Salma mempersilahkan semua yang masuk ke dalam ruangan Salma untuk makan bersamanya.


Dengan penuh rasa sungkan keempat wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan di mana Salma berada mulai mengambil beberapa makanan yang sudah tersedia di sana.


"Apa aku boleh tahu siapa nama kalian?" tanya Salma sebelum makan.


"Tentu saja, nama saya Angel saya istri Ciko yang di percaya mengelola tokoh di kota A,"


"Nama saya Fika istri dari Herman yang di percaya mengelolah tokoh di kota B,"


"Kalau saya Fitri yang di percaya mengelola tokoh yang berada tidak terlalu jauh dari pesantren."


"Dan nama saya Farah saya istri dari Riki yang di percaya mengelolah tokih di kota C,"


Keempat wanita yang baru saja masuk ke dalam kamar memperkenalkan diri di hadapan Salma.


"Kalian sudah tahu namaku dan siapa aku, jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi, kalau sudah kenal semua sekarang lebih baik kita makan, kalian bisa makan apapun tanpa sungkan-sungkan," ujar Salma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Neng," jawab keempat wanita itu lengkap beserta anak yang ikut bersama mereka.


__ADS_2