
"Sudah jangan berfikir yang tidak-tidak! lebih baik sekarang kita pastiin dulu kenapa Ummi manggil kita?" sahut Salma.
Tari hanya diam tak lagi menyahuti ucapan Salma karena apa yang di katakan Salma memang benar dan Tari tak ingin mendebatnya lagi.
"Assalamualaikum, Ummi," ucap Salma dan Tari hampir bersamaan.
"Waalaikum salam," jawab Ummi berjalan mendekat ke arah keduanya.
"Salma, Tari, masuklah!" sambung Ummi.
Wajah Ummi pagi ini begitu bersinar, terpancar dengan jelas sebuah kebahagiaan sedang dia rasakan, senyum kebahagiaan tak pernah luntur dari wajahnya dan apa yang terlihat membuat Salma juga Tari heran, keduanya saling pandang dan bertukar pertanyaan lewat isyarat sembari masuk ke dalam rumah sesuai dengan permintaan Ummi.
"Ummi manggil kita ada apa?" tanya Salma.
"Duduklah dulu!" bukannya menjawab Ummi malah menyuruh Salma dan Tari duduk di kursi keluarga.
Keduanya ikut duduk di kursi keluarga sesuai dengan perintah Ummi yang kini justru berjalan menuju dapur meninggalkan keduanya dan kembali dengan satu toples rempeyek kacang di tangannya.
"Ummi buat rempeyek semalam, dan Ummi ingin kalian mencicipi juga memberitahu Ummi bagaimana rasanya?" ujar Ummi sambil menaruh satu toples rempeyek di hadapan keduanya.
"Rempeyek kacang Ummi," sahut Tari.
"Iya, dan rempeyek ini buatan Ummi sendiri," jawab Ummi dengan senyum yang masih sama.
"Wahh, ini makanan kesukaan Salma Ummi, apa lagi kalau di makan bareng rujak cingur, Salma bisa menghabiskan satu toples ini," celetuk Tari, dia berbicara tanpa di saring ataupun di pilah.
"Ishh jangan bicara seperti itu Tari!" sahut Salma dengan ekspresi greget yang terpancar jelas di wajahnya.
"Upss sorry, aku keceplosan," ungkap Tari sedang Salma hanya menggelengkan kepala melihat Tari yang sudah biasa melakukannya.
"Apa yang di katakan Tari itu benar Salma?" kali ini Ummi bertanya dengan ekspresi wajah penuh harap bercampur penasaran.
__ADS_1
"Iya, Ummi, aku sangat menyukai rempeyek," jawab Salma sambil menundukkan kepala malu.
"Wahh, kebetulan sekali Salma," ujar Ummi dengan wajah berbinar, hari ini ekspresi wajah Ummi penuh warna.
"Kebetulan kenapa Ummi?" tanya Salma heran mendengar ucapan Ummi.
"Kebetulan sekali, Kafa juga sangat menyukai rempeyek, apa lagi kalau rempeyeknya buatan Ummi, Kafa bisa menghabiskan bertoples-toples rempeyek," jawab Ummi, Salma hanya tersenyum kikuk mendengar ucapan Ummi.
"Ayo di makan peyeknya!" titah Ummi.
Salma dan Taei langsung memakan peyek yang sudah di bawakan oleh Ummi, Salma sejenak terdiam merasakan rempeyek buatan Ummi yang sama persis dengan rempeyek yang biasa di buat oleh Ibunya.
"Kenapa diam Salma?" tanya Ummi heran melihat Salma justru terdiam setelah memakan rempeyek buatannya.
"Rempeyek Ummi rasanya begitu lezat, sama seperti rempeyek buatan Ibu," jawab Salma yang sukses membuat Ummi terkejut sekaligus terenyuh, dia kembali teringat saat Ibu Salma meninggal karena kecelakaan yang di sebabkan olehnya.
"Ummi kenapa ikut diam?" tanya Tari yang kini beralih memperhatikan Ummi yang terdiam dengan tatapan kosong.
Jawaban Ummi membuat Salma sadar jika apa yang di lakukannya bisa membuat orang lain juga ikut sedih.
"Maaf Ummi, bukan maksudku membuatmu sedih, aku hanya teringat mendiang Ibu saja," ucap Salma sambil memegang kedua tangan Ummi.
"Tidak, Nak, kamu tidak salah, harusnya Ummi tang meminta maaf, jika saja waktu itu sopir Ummi bisa lebih berhati-hati mungkin saat ini Ibumu masih hidup," Ummi membalikkan posisi tangannya, kini dia menggenggam tangan Salma dan mengusapnya lembut, seolah memberi kekuatan pada Salma dan meyakinkannya agar Ummi tak lagi merasa bersalah ataupun bersedih.
"Semua yang terjadi sudah takdir ilahi Ummi, jadi sekalipun Ibu Salma tidak di tabrak oleh supir Ummi jika sudah waktunya kembali ke sisinya, pasti akan ada kejadian lain yang akan menjadi penyebab kepergian Ibuku," tutur Salma yang kini terlihat lebih tegar.
"Terima kasih, Nak, kamu memang gadis yang baik dan penyabar juga kuat, semoga kamu benar-benar bisa jadi putriku nanti," untaian harapan keluar dari bibir Ummi yang kini memeluk erat Salma mencoba menyalurkan semua rasa Sayang yang dia miliki untuk seorang gadis yang belum lama ini dia kenal.
Ummi baru beberapa bulan bertemu dengan Salma, tapi hatinya begitu menyayangi Salma, Ummi merasa senang berada di dekat Salma, karena itulah dia selalu berharap agar bisa memiliki menantu sepertinya.
Salma kembali memakan rempeyek yang di suguhkan oleh Ummi, begitu juga dengan Tari yang memakannya dengan lahap tanpa rasa malu, Tari tetaplah Tari di manapun dan kapanpun dia akan tetap sama seperti sekarang, bersikap apa adanya dan tak pernah munafik.
__ADS_1
"Salma, Tari, sebenarnya Ummi punya maksud lain memanggil kalian hari ini," ucap Ummi saat melihat kedua gadis yang dia anggap sudah seperti putrinya sendiri itu sedang menikmati rempeyek yang dia berikan.
'Tuh kan, bener fellingku, Ummi pasti punya sesuatu yang tak biasa sampai dia memanggilku dan Salma saat kami masih berjaga di kantin.' Batin Tari.
"Ada apa Ummi?" sahut Salma.
"Ummi pengen minta bantuan kalian untuk belanja di pasar pagi ini," jelas Ummi.
"Jika cuma belanja serahkan saja pda kami Ummi!" sahut Tari dengan pedenya.
"Tapi barang yang akan Ummi beli cukup banyak, rencananya Ummi mau masak untukeluruh santri hari ini dan akan memeberikannya nanti sore, apa kalian sanggup?" Ummi menjelaskan jika barang yang akan mereka beli banyak.
"Tumben Ummi, memangnya ada acara apa?" Tari kembali bertanya.
"Ummi ingin memberikan makanan gratis untuk para santri sebagai rasa syukur karena putera Ummi minggu depan akan pulang setelah bertahun-tahun pergi," jawab Ummi.
"Insya allah kami sanggup Ummi," ucap Salma.
"Tenang saja, kalian akan di antar oleh Ghozi. Dia yang akan mengantar dan membantu kalian mengangkat barang," Ummi memberitahukan jika Ghozi yang akan membantunya.
"Kami siap Ummi," ujar Tari penuh semangat.
"Ini catatan barang yang akan kalian beli, dan ini uangnya." Ummi memberikan beberapa uang lembar berwarna merah dan juga kertas bertuliskan list barang yang harus di beli.
"Wah lumayan banyak ya Ummi," celetuk Tari.
"Iya, Na, makanya Ummi tadi menawarimu lebih dulu," jawab Ummi.
"Ummi tidak perlu khawatir kami bisa kok membeli semuanya, lagi pula ada Ghozi yang akan membantu kami," sela Salma yang merasa tak enak hati dengan ucapan Tari.
"Nah, itu bener Ummi, tadi Tari cuma ngomong aja kok, maaf ya Ummi," Tari yang mengerti jika ucapannya salah setelah mendengar ucapan Salma langsung meralat ucapannya yang kurang enak di dengar.
__ADS_1