
Salma berjalan mengikuti langkah Ummi dari belakang.
"Lama, dasar lelet!" lirih Kafa yang berjalan tepat di samping Salma.
Salma yang mendengar perkataan Kafa hanya bisa diam dan menunduk tanpa bisa membalas ucapannya, karena saat ini dia sedang bersama Ummi dan Abah, seandainya dia hanya berdua dengan Kafa mungkin Salma sudah mengungkapkan kata-kata mutiaraagar Kafa sadar jika apa yang di ucapkannya menyakiti hati Salma.
"Ayo masuk!" Ummi menoleh ke belakang sambil mengulurkan tangan agar Salma masuk lebih dulu. Salma dan Ummi juga Kafa duduk di bangku bagian tengah dengan posisi Ummi di tengah, Salma di sebelah kanan dan Kafa di sebelah kiri.
Perjalanan cukup panjang, Salma hanya diam dengan sejuta tanya yang hinggap dalam benaknya, pasalnya Salma tak tahu sedikitpun ke mana Ummi akan mengajaknya pergi, sekilas Salma memperhatikan Ghozi yang sedang serius menatap jalan yang di lewatinya, wajah yang cukup tampan dengan kepribadian lembut dan penuh perhatian, sungguh hati Salma bergetar ketika mengingat betapa baiknya Ghozi, hal itu sangat jauh berbeda dengan Kafa yang akan menjadi suaminya, terselip sedikit rasa sedih dalam hatinya, Salma spontan menundukkan kepala menikmati setiap rasa pedih yang ada di hatinya, entah bagaimana dia bisa melewati hari-harinya nanti setelah menikah.
"Salma!" tegur Ummi saat melihat Salma hanya menunduk.
"Eh iya, Ummi, kenapa?" sahut Salma.
"Ayo turun! kita sudah sampai." Ajak Ummi.
Salma tak menyadari jika mobil sudah berhenti, sejak tadi dia hanya fokus menikmati rasa sedih dan membayangkan betapa buruknya kehidupannya nanti setelah pernikahan.
"Iya, Ummi," sahut Salma seraya turun dari mobil mengikuti langkah Ummi.
Salma begitu kagumsesaat setelah turun dari mobil, betapa banyaknya mobil mewah berjejer di lapangan yang kini berfungsi sebagai tempat parkir, Ummi mengajak Salma ikut ke sebuah pesantren yang cukup besar, terlihat ada banyak sekali orang yang berlalu lalang mereka semua terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Terlihat dengan jelas jika saat ini ada acara di pesantren yang Ummi datangi.
Salma berjalan beriringan dengan Ummi yang kini menggandeng lengan Salma, semua santri terlihat sejenak menunduk memberi hormat seolah mereka telah mengenal akrab Ummi dan keluarganya.
__ADS_1
"Ini pesantren siapa, Ummi?" tanya Salma yang sudah tudak tahan untuk terus diam sedangkan rasa penasarannya telah menggunung.
"Ini pesantren milik adik Ummi, lebih tepatnya milik suami adik Ummi," jawab Ummi dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
'Wah ternyata keluarga Ummi juga punya pesantren,' batin Salma menatap kagum ke sekeliling pesantren.
"Ummi!" seru seorang wanita yang terlihat masih sangat muda mungkin berbeda beberapa tahun dengan Salma.
"Wardah!" Ummi juga memanggil sebuah nama yang di yakini Salma itu nama dari adik Ummi.
"Ummi, kenapa datangnya lama sekali?" tanya Wardah yang terlihat dengan jelas jika dia begotu manja pada Ummi.
"Tante terlalu berlebihan, acaranya baru aja di mulai dan kita belum terlalu terlambat," sela Kafa yang kini justru berlalu meninggalkan Ummi dan Salma berjalan mengikuti langkah Abah dan Ghozi yang sudah lebih dulu pergi.
'Astaga, ternyata mulut tajam dia bukan cuma di tujukan padaku, tapi mulutnya itu emang tajam dari sononya,' batin Salma menatap heran ke arah Kafa yangbermulut tajam menusuk hati sangat jauh berbeda dengan Ummi ataupun Abah yang memiliki mulut manis, semanis madu yang selalu menyejukkan hati siapapun yang mendengarnya.
"Masya allah, Ummi lupa mau ngenalin anggota baru keluarga kita, perkenalkan, namanya Salma, dia calon menantu Ummi," jawab Ummi memperkenalkan Salma pada Wardah sang Adik.
"Wahh, ini calon Kafa, perkenalkan namaku Wardah, salam kenal, maaf kemarin tidak bisa datang ke acara pertunanganmu, Tante sakit jadi tidak bisa datang." ujar Wanita yang bernama Wardah tadi.
"Tidak apa-apa Tante," jawab Salma dengan senyum yang mengembang di pipinya.
"Kafa pintar sekali mencari calon, anaknya cantik Ummi," celetuk Wardah yang saat ini malah terlihat seperti Tari ceplas ceplos.
__ADS_1
"Ini pilihan Ummi, Wardah," sahut Ummi.
"Oh, aku kira Kafa sendiri yang milih, tapi pilihan Ummi memang top dan aku juga suka, meskipun baru melihat dan mengenalnya," ujar Wardah yang tak lain adik Ummi.
"Pilihan Ummi insya allah yang paling baik dan benar," Ummi berbangga atas pilihan yang telah dia jatuhkan.
"Baiklah, aku setuju dengan ucapan Ummi kali ini, kalau begitu ayo masuk!" ajak Wardah masuk ke dalam rumah yang terlihat begitu mewah dan besar yang ada di dalam pesantren, Salma tahu jika itu pesntren dari gerbang besar bertuliskan nama pesantren yang ada di gapura sebelum masuk halaman rumah tadi.
Ummi dan Salma berjalan mengikuti langkah kaki Wardah. Berjalan menuju sebuah ruang tamu dengan prabotan yang pasti mahal, karena semua yang terpajang dan terdapat di sana terlihat begitu mewah nan elegan, mata Salma langsung melebar melihat betapa mewahnya ruang tamu yang saat ini dia pijak.
"Masya allah, indahnya," lirih Salma yang hanya bisa di dengar dia dan Ummi, karena saat ini hanya Ummi yang ada di dekatnya.
"Semua ini hanya titipan, jangan terlalu mengaguminya! karena apa yang kau lihat ini pasti akan ada pertanggung jawabannya di akhirat nanti," Ummi berbisik ke arah Salma yang langsung menunduk malu.
"Ummi benar, apa itu termasuk menjadi salah satu alasan Ummi yang Salma lihat tak terlalu suka dengan barang mewah?" tanya Salma.
Ummi pernah bercerita saat beliau pergi ke pasar bersama Salma, saat itu Ummi hendak membeli sebuah gorden untuk mengganti gorden ruang tamu yang terlihat sudah usang, Ummi memilih gorden dengan model sederhana dan juga harga yang pasti lebih murah, saat Salma bertanya kenapa Ummi memilih gorden itu dengan tegas Ummi mengatakan jika dirinya kurang menyukai barang mahal.
"Benar, kamu harus selalu ingat jika setiap hal yang kamu lakukan dan yang kamu miliki kelak akan ada pertanggung jawabannya, sekecil apapun itu," Ummi memberi nasehat pada Salma.
"Aku akan selalu mengingatnya Ummi," jawab Salma.
"Jangankan barang mewah, baju yang kamu pakaipun kelak akan ada pertanggung jawabannya, apalagi jika baju yang kamu miliki tak pernah kau pergunakan untuk sholat saking banyaknya, maka akan lebuh berat pertanggung jawabannya," tutur Ummi.
__ADS_1
"Salma mengerti Ummi, terima kasih sudah memberitahu Salma, nasehat Ummi akan selalu Salma ingat hingga akhir hidup Salma." Sahut Salna dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Alhamdulillah jika kamu bisa menerima naswhat Ummi, semoga apa yang Ummi ajarkan bisa kamu amalkan