Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Jangan Berisik!


__ADS_3

"Sudah, jangan berisik! habiskan saja makananmu!" titah Kafa yang sukses membuat Ghozi diam.


Ghozi hanya bisa memutar bola mata jengah melihat sikap Kafa yang sering seperti sekarang tanpa bisa melawan atau membalas ucapannya.


"Ini udang apa namanya Mas? kok besar banget,"celetuk Dalma sambil menunjukkan udang dengan ukuran jumbo di tangannya.


"Itu lobster namanya, kamu mau?" jawab Kafa menawari Salma untuk mencoba memakannya.


"Boleh, aku jadi penasaran bagaimana rasanya?" ucap Salma dengan mata berbinar melihat lobster yang begitu besar di depannya.


"Apa kamu belum makan lobster sebelumnya?" tanya Kafa yang terliha t penasaran dengan apa yang ada di hadapannya itu.


"Belum," jawab Salma polos.


"Aku akan memesankannya lagi jika kamu merasa kurang dan ingin makan lagi ," Kafa yang tahu betapa lezatnya lobter yang ada di hadapan Salma saat ini menawarkan Salma jika dia merasa kurang.


"Masya allah rasanya enak sekali Mas, aku mau bungkusin satu lagi untuk ku makan di rumah nanti," Salma yang merasakan betapa lezatnya lobster di hadapannya itu meminta Kafa untuk memesankan satu porsi lagi untuknya.


"Makan dulu yang kenyang! nanti pasti aku bungkusin," ujar Kafa.


"Mas, ini kenapa nasinya dikit amat ya?" tanya Salma yang merasa jika porsi nasi di hadapannya terlalu sedikit untuknya.


"Apa kamu mau aku pesankan nasi lagi?" Kafa yang mengerti dengan gaya hidup Salma mencoba membuat Salma nyaman senyaman-nyamannya berada di dekatnya.


"Tidak usah Mas! aku hanya bertanya saja," jawab Salma, meski sebenarnya porsi nasi yang dia makan saat ini menurutnya sangat sedikit Salma berusaha untuk tidak memintanya lagi, Salma mencoba mengerti mungkin cara orang kaya memang seperti saat ini di mana lauk yang di makan jauh lebih banyak dari pada nasinya.


"Makan saja apa yang kamu inginkan! dan kamu juga bebas memesan apapun yang kamu inginkan," titah Kafa yang cukup membuat Salma tersenyum karenanya.

__ADS_1


'Mas Kafa benar-benar manis jika bersama orang yang di kehendaki,' batin Salma sambil menyantap beberapa makanan yang ada di hadapannya.


Apa yang ada di dalam batin Salma jauh berbeda dengan ala yang ada di dalam batin Ghozi yang beberapa kali mengumpat melihat kemesraan kedua sejoli yang ada di hadapannya saat ini.


'Ahh tau gini aku pergi aja dari sini tadi, males banget jadi obat nyamuk di depan pasutri yang sedang di mabuk asmara ini,' batin Ghozi, dia berhenti makan setelah satu porsi udang asam manis di piringnya habis, biasanya Ghozi bisa menghabiskan beberapa porsi makanan yang ada di hadapannya saat ini, tapi nafsu makan Ghozi seolah hilang entah ke mana.


Kini Ghozi lebih memilih memainkan ponselnya dari pada melihat dua sejoli di hadapannya. Ada banyak email yang masuk ke dalam ponselnya.


"Apa kalian sudah selesai? atau masih mau lanjut?" tanya Ghozi pada Kafa dan Salma yang sejak tadi terlihat mesra, bahkan mereka sempat saling suap-suapan, tanpa mereka sadari jika saat ini keduanya sedang berada di tempat umum, meskipun di sekeliling Kafa dan Salma tak ada yang memperhatikan karena sibuk dengan kegiatan merek masing-masing tetap saja Kafa dan Ghozi berada di tempat umum.


"Kenapa? apa kamu mau pergi duluan?" tanya Kafa dwngan tatapan biasa saja.


"Kalau kalian masih mau lanjut aku pergi dulu." Pamit Ghozi.


"Pergilah! siapa suruh masih betah di situ," sahut Kafa yang sejak dulu memang di kenal suka seenaknya sendiri.


"Dia yang pamit mau pergi kenapa jadi aku yang salah?" Kafa terlihat tidak teri.a karena Salma membela Ghozi.


"Iya, ta~" suara Salma terpotong oleh Ghpzi yang langsung berbicara menyela ucapan Salma.


"Sudahlah Neng Salma, aku tidak apa-apa, lagi pula tadi aku yang ingin pergi, lebih baik Neng Salma dan Mas Kafa lanjut makan saja, aku mau nikmati suasana pantai dulu." Ghozi tidak ingin terjadi salah faham antara Salma dan Kafa, bagi Ghozi keharmonisan keduanya lebih penting baginya saat ini.


Ghozi sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti tadi dari Kafa, dan Ghozi tidak pernah mempermasalahkannya, sikap Kafa yang seenaknya sendiri bukanlah hal besar yang perlu di ributkan.


"Maaf, Ghozi," ucap Salma yang merasa jika sikap suaminya sudah kelewatan.


"Tidak perlu minta maaf Neng Salma, aku merasa semua baik-baik saja, jadi Neng Salma tidak usah minta maaf," jawab Ghozi.

__ADS_1


Kafa kini terdiam memperhatikan setiap gerak dan ucapan Ghozi tanpa ada niat ubtuk berbicara.


"Aku pergi dulu." Pamit Ghozi yang langsung berdiri berjalan meninggalkan restauran tanpa menoleh ke arah Kafa dan Salma lagi.


"Kenapa Mas Kafa bersikap seenaknya begitu?" tanya Salma sesaat setelah kepergian Ghozi.


"Seenaknya bagaimana maksudmu?" tanya Kafa menatap heran ke arah Salma yang justru menatapnya dengan tatapan horor.


"Seharusnya tadi Mas Kafa tidak mengajakku makan di sini, harusnya di tempat lain, kalau kayak gini aku gak enak sama Ghozi, aku merasa jadi pengganggu," jelas Salma.


"Salmaku Sayang, Ghozi sudah biasa mendapat perlakuan seperti tadi, dia gak bakal marah ataupun merasa terganggu, jadi kenapa kamu yang sewot?" ujar Kafa.


"Tetap saja, aku tidak suka sikap Mas Kafa, sikap seperti tadi bukanlah sikap yang baik untuk di lakukan, jadi jangan lakukan lagi!" larang Salma.


Kafa hanya bisa menghembuskan nafas kasar mendengar apa yang di katakan oleh Salma, Kafa tak lagi bisa mendebat ataupun melawan setiap kata yang di ucapkan oleh Salma, semua itu di lakukan Kafa bukan karena Kafa takut, tapu Kafa tidak ingin bertengkar di tempat yang seharusnya bisa di jadikan untuk beromantis-romantisan seperti pantai ini.


"Baiklah, lain kali aku tidak akan melakukannya lagi," ujar Kafa.


Salma kembali tersenyum merasa senang dengan apa yang di katakan oleh Kafa, sungguh Salma merasa sangat senang karena Kafa mau melakukan apa yang di inginkannya.


"Apa sekarang kamu senang?" tanya Kafa yang melihat tatapan mata Salma yang terlihat berbinar menatap lekat ke arahnya.


"Tentu saja aku senang, setelah ini kita mau ke mana lagi?" tanya Salma dengan penuh semangat.


"Bagaimana kalau kita menikmati ombak di tepi pantai?" usul Kafa.


"Jangan cuma main ombak Mas, bagaimana kalau kita mandi sekalian?" Salma menawarkan hal yang jauh lebih menyenangkan untuk di dengar.

__ADS_1


"Bukankah tamu bulananmu belum pulang? bagaimana kamu bisa berenang?" tanya Kafa.


__ADS_2