Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kesaktian Tembus Pandang


__ADS_3

"Besok akan aku ajarkan bagaimana cara menggunakan kartu itu setelah kita mengunjungi makan kedua orang tuamu." Jawab Kafa.


Salma yang sejak tadi bingung sambil membolak balikkan kartu yang sempat di berikan oleh Kafa kini ekspresinya berubah, dia langsung mendongak dan melihat ke arah Kafa setelah dia menyebutkan makam kedua orang tuanya.


"Mas Kafa serius mau ke makam kedua orang tuaku?" tanya Salma yang terlihat tidak yakin dengan apa yang di katakan oleh Salma.


"Memangnya aku terlihat bercanda apa?" seloroh Kafa, wajahnya memang terlihat serius dan tidak bercanda sedikitpun.


"Baiklah, aku percaya kalau Mas Kafa tidak bercanda," jawab Salma.


"Soal kartu tadi, apa kamu beneran gak bisa menggunakannya?" tanya Kafa, sebenarnya dia masih merasa heran dengan pengakuan Salma yang mengatakan jika dia tidak bisa menggunakan kartu yang Kafa beri.


"Aku tidak punya alasan ataupun keuntungan untuk membohongimu, Mas Kafa," jawab Salma dengan ekspresi sedikit jengkel yang dia tunjukkan ke arah Kafa.


Sekuat tenaga Kafa menahan tawa, sungguh saat ini Kafa ingin rasanya tertawa, di era modern seperti sekarang masih saja ada orang yang tidak mengerti cara menggunakan kartu ajaib yang bisa mengeluarkan uang. Tanpa kata Kafa langsung berdiri meninggalkan Salma yang masih terdiam duduk manis di atas kasur.

__ADS_1


"Aneh," lirih Salma


Sore berlalu, matahari perlahan menghilang meninggalkan langit yang perlahan gelap karena sang surya kembali ke peraduan, Kafa tak lagi terlihat setelah mandi dan berganti baju tadi sore.


"Mas Kafa ke mana ya?" gumam Salma saat malam telah tiba, dia berdiri tepat di depan jendela yang sudah di tutup selambunya. Kafa sempat memberi pesan jika selambu jendela yang sengaja di hadapkan ke arah pondok putri memamg harus di tutup saat waktu menunjukkan malam hari dan paling lambat ba'da isya' karena peraturan di pesantren yang membebaskan seluruh anggota santrinya memakai baju bebas setelah jam belajar selesai, baju bebas artinya para santri boleh memakai kaos lengan pendek dan melepas hijab di luar kamar dan hal itu di perbolehkan saat jam menunjukkan waktu istirahat tiba setelah seharian menjalankan aktifitas.


"Kamu ngapain di situ?" suara Kafa yang tiba-tiba terdengar sangat mengejutkan Kaf yang sedang berdiri dan larut dalam fikirannya sendiri.


"Apa? aku?" sahut Salma gelagapan.


"Aku cuma lagi merhatiin santriwati lewat doank," jawab Salma santai.


"Yakin?" Kafa kembali bertanya sambil mengangkat kedua alisnya mencoba meyakinkan Salma dengan apa yang di ucapkannya.


"Tentu saja yakin, kenapa aku harus ragu dengan jawabanku sendiri?" Sahut Salma dengan ekspresi meyakinkan, sepertinya dia belum sadar dengan apa yang di ucapkannya sendiri.

__ADS_1


"Wah kamu sakti juga, sejak kapan kamu punya kesaktian tembus pandang seperti saat ini?" Kafa mulai meledek Salma yang terlihat begitu yakin menjawab setiap pertanyaannya.


"Tembus pandang bagaimana maksudnya?" tanya Salma yang sejak tadi memang tengah melamun, matanya memang menatap lurus ke depan tapi dengan tatapan kosong.


"Apa kamu tidak sadar kalau selambunya sudah tertutup sempurna?" Kafa menjelaskan alasan dia mengatakan Salma punya kesaktian.


"Astaghfirullah, Mas Kafa benar juga," lirih Salma tapi masih mampu di dengar oleh telinga Kafa dengan jelas.


"Memang kamu sedang mikirin apa sampai tidak sadar jika jendelanya sudah tertutup selambu?" Kafa mulai penasaran dengan apa yang di fikirkan Salma hingga dia melamun seperti tadi.


"Tidak ada, aku hanya ingin menenangkan diri dengan memfokuskan fikiranku untuk berdzikir," jawaban aneh yang pernah di dengar oleh Kafa.


"Jawaban macam apa itu?" sahut Kafa merasa aneh dengan jawaban yang di berikan oleh Salma.


"Itulah kenyataannya Mas Kafa, aku mengatakan apa yang aku rasakan sebenarnya," uhar Salma.

__ADS_1


__ADS_2