Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Titah Kafa


__ADS_3

"Baik, Mas Kafa," jawab Mila yang tidak pernah bisa menolak permintaan Kafa.


Kafa memilih duduk di atas kursi yang memang Ummi siapkan khusus untuknya saat memperhatikan kegiatan para santri. Cukup lama Kafa menunggu Tari yang harusnya bisa datang lebih cepat sesuai perkiraan Kafa.


Sepuluh menit berlalu dan Tari baru menampakkan batang hidungnya, dia berjalan santai dengan tas ransel yang bertengger indah di punggungnya.


"Lelet," gerutu Kafa saat melihat Tari dengan santainya berjalan ke arahnya.


"Ini baju milik Salma," ucap Tari sesaat setelah sampai di dekat Kafa.


"Hm, terima kasih," jawab Kafa, dia memang sering bersikap dingin, tapi Kafa tidak pernah melupakan tata krama yang pernah Ummi ajarkan padanya.


"Kamu ngapain masih di situ?" tanya Kafa saat melihat Tari masih setia berdiri di hadapannya.


"Aku fikir Masih ada perintah lagi untukku, jika sudah tidak adaaku permisi, assalamualaikum," pamit Tari melenggang pergi meninggalkan Kafa yang kini berjalan masuk ke dalam rumah dengan tas yang sudah berpindah tempat.

__ADS_1


'Ceklek'


Suara pintu terdengar begitu pelan karena Kafa membukanya dengan gerakan begitu pelan, dia berjalan masuk ke dalam kamar.


"Astaghfirullah," gumam Kafa yang hanya mampu di dengar olehnya.


Mata Kafa membulat sempurna saat melihat pemandangan indah di hadapannya, Kafa melihat Salma yang sedang mencoba meraih kemonceng yang sengaja di simpan di atas lemari oleh sang pemilik. Salma yang memiliki tubuh tidak terlalu tinggi begitu kesulitan, berkali-kali Kafa melihat Salma mengangkat tangan ke atas mencoba meraihnya, dan gerakan Salma membuat kaos yang dia pakai bergerak ke atas sesuai dengan gerakan tangan Salma. Meski tak ada rasa cinta dalam hati Salma, tapi dia tetap saja laki-laki normal, dan sebagai laki-laki normal, Kafa merasakan sesuatu yang mengusik jiwanya dan membangkitkan sesuatu yang sedang tertidur lelap di tempatnya.


"Khem," Kafa langsung berdehem mencoba menyadarkan Salma yang masih saja berusaha meraih kemonceng.


"Mas Kafa sudah datang, apa itu bajuku?" sahut Salma yang terlihat biasa saja, sepertinya dia tidak menyadari apa yang sudah dia rasakan.


"Iya, iya," Salma hanya bisa menuruti perintah Kafa tanpa bisa menolaknya.


"Lusa kita akan pergi ke kota dan tinggal di sana sementara. Jadi bersiaplah!" ucap Kafa yang cukup membuat Salma terkejut.

__ADS_1


"Ke kota? kenapa harus pindah ke sana? bukankah lebih baik tinggal di sini menemani Ummi?" Salma mempercepat gerakan mengganti bajunya dan berjalan terburu-buru mendekat ke arah Kafa yang sedang duduk di sofa dekat jendela.


"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan di kota, dan kamu harus ikut menemaniku!" jawaban yang benar-benar tidak bisa di terima begiti saja oleh Salma.


"Beri aku alasan yang tepat Mas Kafa! aku tidak bisa meninggalkan Ummi dan Abah begitu saja," Salma menuntut Kafa menjelaskan alasan yang tepat agar dia bisa menerima apa yang Kafa putuskan.


"Kamu sekarang sudah sah menjadi istriku, jadi ingatlah kewajibanmu dan turuti saja perintahku!" Kafa terlihat begitu kekeh mempertahankan diri untuk tidak mengatakan alasan dia mengajak Salma ke kota.


Salma hanya bisa diam mendengar ucapan Kafa yang benar adanya, meski sebenarnya dia masih bisa mendebat perkataan Kafa untuk mendapatkan jawaban yang masuk akal, tapi kali ini Salma memilih untuk mengalah.


"Cepat pakai hijabmu! kita sudah di tunggu sama keluarga yang lain," Kafa kembali memberi perintah.


"Tunggu sebentar!" sahut Salma berjalan cepat mendekat ke arah ransel yang tadi di bawakan Kafa.


'Semoga Tari memasukkan alat make up ku,' batin Salma.

__ADS_1


"Syukurlah," gumam Salma yang hanya mampu di dengar olehnya sendiri.


Salma sedikit memoles wajahnya dengan bedak dan lipglos, meski begitu wajahnya begitu bersinar dengan bibir yang terlihar merah menggoda setelah di oles lipglos. Dan Kafa hanya bisa menghela nafas saat melihat Salma sedikit berias dengan rambut panjang yang setengah basah, saat ini Salma benar-benar menguji iman.


__ADS_2