Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kafa Panik


__ADS_3

"Tetap saja aku tidak mau, untuk apa aku menaiki wahana yang tidak aku inginkan?" jawab Salma yang terlihat enggan untuk naik ke wahana yang di tunjuk oleh Kafa.


"Ayolah Salma! aku ingin sekali naik di wahana itu," Kafa sedikit memaksa Salma, meski saat ini wajah Salma terlihat enggan untuk menuruti apa yang di inginkan Kafa.


"Aku takut Mas, dan aku enggan untuk menaikinya," sekali lagi Salma menjelaskan alasan dirinya menolak apa yang Kafa minta.


"Sudah jauh-jauh ke sini tapi aku tidak di temenin naik wahana yang aku inginkan," ujar Kafa yang terlihat kecewa dengan apa yang di katakan oleh Salma.


Sejenak Salma diam menatap bingung ke arah Kafa yang terlihat semakin merajuk, bagaimana mungkin Salma bisa menemani Kafa sedangkan dirinya begitu takut dengan ketinggian.


Jika Salma merasa bingung maka hal berbeda di lakukan oleh Kafa, dia memanfaatkan kebingungan Salma dengan terus memasang wajah kecewa agar Salma berubah fikiran dan mau ikut naik bersamanya.


"Jangan memasang wajah seperti itu! Mas terlihat tua dan jelek kalau seperti itu," ujar Salma berusaha


"Bukankah kamu akan jauh lebih senang jika aku terlihat tua dan jelek, dari pada terlihat tampan dan keren?" sahut Kafa.


"Aku suka keduanya, apapun yang ada pada Mas Kafa aku menerima apa adanya," jawaban yang cukup membuat Kafa bahagia, kata sederhana tapi memiliki makna yang jauh lebih dalam, sedalam samudera.


"So sweet sekali istriku ini," ujar Kafa sambil mencubit kedua pipi Salma yang lembut selembut sutera.


"Ishhh, sakit Mas," keluh Salma seraya memegang kedua pipinya yang terasa panas dan memerah.


"Ayo naik gonitri!" Kafa masih saja belum lupa dengan niat dia tadi, meski Salma sudah mencoba mengalihkan pembicaraan, tetap saja Kafa tak melupakan apa niat awalnya agar Salma mau ikut naik permainan.

__ADS_1


Salma hanya diam, tak menjawab ucapan Kafa tapi dia berjalan beriringan di samping Kafa.


"Sayang, ayolah!" Kafa kembali memaksa.


"Baiklah," menyerah sudah.


Salma tak bisa lagi menolak apa yang di minta oleh Kafa, meski sejuta kali dia menolak maka sejuta kali Kafa akan memaksanya untuk menuruti apa yang Kafa minta, egois memang tapi itulah Kafa dan kebanyakan laki-laki, terkadang mereka meminta tanpa mengerti apa yang sedang kita rasakan ataupun kita alami, yang mereka tahu hanya satu mereka berjuang dan berkorban untuk kita tanpa sadar jika kita juga tengah berjuang dan berkorban untuk mereka.


"Ayo Sayang!" dengan penuh semangat Kafa mengajak Salma berjalan mendekat ke arah gonitri yang tengah berputar, Kafa terlihat tersenyum penuh rasa lega dan bahagia, tapi hal sebaliknya terlihat di wajah Salma yang tengah berperang melawan rasa takut yang kian menguasainya.


"Jangan takut Sayang! aku akan terus berada di sampingku," bisik Kafa saat melihat Salma diam dengan ekspresi takut di sampingnya.


Salma terus berusaha melawan rasa takutnya, dengan badan sedikit bergetar dia melangkah masuk ke dalam anting yang sedang di buka pintunya.


"Pelan-pelan!" ujar Kafa seraya memegang erat lengan Salma agar dia tidak jatuh.


"Jika kamu masih takut, duduklah di sampingku!" titah Kafa saat anting yabg menjadi tempatnya duduk mulai berputar naik.


Mendengar tawaran Kafa yang terdengar begitu manis tak menggoyahkan rasa takut Salma yang semakin menjadi-jadi, wajah yang tadinya putih bersih kini mulai terlihat pucat, hal itu sukses membuat Kafa bingung, pasalnya saat ini anting yang mereka naiki sudah berada di posisi paling atas.


"Sayang! apa kamu baik-baik saja?" tanya Kafa yang kini terlihat begitu cemas melihat Salma semakin pucat dan ketakutan, dan apa yang terjadi sukses membuat Kafa panik, tanpa di beritahu ataupun di perintah, Kafa yang mengerti dengan keadaan Salma langsung berpindah tempat, Kafa langsung duduk tepat di samping Salma dan mulai memeluknya dari samping, berharap rasa takut yang kini di rasakan Salma bisa menghilang.


Salma terus saja diam tanpa bisa melakukan apapun, tubuhnya seolah bergetar merasa pusing dan sedikit mual, hancur sudah, rencana yang di bayangkan Kafa tak berhasil seratus persen, dia yang sejak tadi berangan bisa memeluk Salma dengan mesra kini malah memeluk Salma yang tengah ketakutan.

__ADS_1


"Tutup matamu Sayang!" titah Kafa yang memiliki ide untuk menutup mata Salma.


"Tutup dan bayangkan jika saat ini kita tidak sedang berada di atas tapi kita sedang duduk menikmati indahnya taman dengan berbagai bunga yang tumbuh di sekitarnya," bisik Kafa, entah mengapa ide dan kata-kata yang cukup berhasil menenangkan Salma yang sedang ketakutan itu.


Perlahan nafas Salma yang tadinya memburu kini mulai teratur, tubuh yabg tadinya bergetar perlahan mulai tenang, cara yang di lakukan Kafa benar-benar efektif untuk menghilangkan rasa takut Salma.


Tangan Kafa terus berada si wajah Salma, menutup penglihatannya agar Salma tak bisa melihat di mana dia sedang berada hingga gonitri yang mereka naiki perlahan turun dan sampai di bawah.


"Sudah, Ayo turun!" ajak Kafa saat melihat Salma masih menutup mata meski tangannya sudah tak ada lagi di wajahnya.


"Apa kita sudah sampai?" bukannya langsung membuka mata dan turun, Salma malah sibuk bertanya sambil terus menutup mata.


"Apa kamu mau naik lagi? cepatlah turun! masih ada orang yang menunggu untuk naik!" Kafa yang gemas dengan sikap Salma langsung mengatakan apa yang memang sedang terjadi dan benar saja, Salma langsung membuka mata dan segera turun setelah sadar jika dirinya sudah ada di bawah.


"Lain kali ajak aku ke tempat yang menyenangkan, bukan ke tempat seperti ini," protes Salma sesaat setelah turun dari permainan yang cukup membuat Salma sport jantung karenanya.


"Maaf, Aku tidak tahu jika reaksinya akan seperti itu," lirih Kafa dengan nada penuh penyesalan dia berucap.


"Tidak apa-apa Mas, jika bukan Mas Kafa yang memaksaku tadi, mungkin seumur hidup aku gak bakal bisa naik permainan itu," ujar Salma yang merasa jika semua yang terjadi tidak perlu di sesali ataupun permasalahan, toh pada akhirnya semua sudah berlalu.


"Meski begitu aku minta Maaf, melihatmu ketakutan seperti tadi sudah cukup memberiku pelajaran dan mengingatkanku jika tak semua keinginanku harus terpenuhi," Kafa masih saja merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi, meski Salma sekarang terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, tetap saja tak mengurangi rasa bersalahnya.


Kafa tak mau lagi mengambil resiko, kelak jika Salma mengatakan tidak karena dia memang tidak bisa, maka Kafa akan berusaha menerimanya tanpa harus terus memaksa, karena tak semua keinginan bisa di kabulkan.

__ADS_1


Salma langsung tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Kafa yang sungguh tak pernah dia duga, keputusan Salma untuk tidak menyesali ataupun mempermasalahkan apa yang sudah terjadi memang benar dan membuahkan hasil tanpa di duga.


"Benarkah?" spontan Salma langsung menoleh ke arah Kafa dengan senyum yang langsung melebar.


__ADS_2