
"Maksud kamu bagaimana Tari?" pertanyaan mudah tapi memiliki jawaban yang sulit di lontarkan oleh Kafa yang selalu cepat tanggap jika ada sesuatu yang berhubungan dengan Salma sang istri tercinta, sedang Tari yang sering sekali keceplosan langsung menutup mulut menyadari jika saat ini dia kembali keceplosan.
'Ya Tuhan, aku keceplosan lagi, bisakah aku lakban saja mulutku ini?' batin Tari mengutuk dirinya sendiri yang sering sekali keceplosan dan tidak busa menahan apa yang seharusnya tidak perlu di ungkapkan.
"Khem, aku hanya asal bicara, maaf," jawab Tari yang merasa enggan untuk menceritakan masa lalu Salma tanpa seizin orangnya, dan untung saja Kafa yang sudah tahu dari mana Salma punya kemampuan untuk mengendarai motor balap merasa enggan untuk memaksa Tari menjawab pertanyaannya, Kafa lebih memilih kembali memakan makanan yang tadi sudah di ambilkan oleh Salma.
Sejenak suasana berubah menjadi hening dan sedikit menegangkan hingga acara makan selesai hanya suara Ummi dan Mbok Sumik yang terdengar mengobrol sebentar.
"Apa kamu benar-benar sudah siap untuk bertanding?" tanya Kafa saat melihat keyakinan muncul di wajah Salma.
"Tentu saja, aku akan selalu siap untuk berjuang demi keutuhan rumah tanggaku," jawab Salma penuh dengan semangat dan keyakinan.
"Semoga kamu bisa menang Sayang," Kafa mengecup kening Salma mencoba menyalurkan rasa cinta yang dia miliki.
"Semoga saja," ujar Salma sesaat setelah Kafa melepas kecupannya.
Kafa meraih tangan Salma menuntunnya keluar dari kamar menuju ruang keluarga di mana Ummi dan yang lain sudah menunggu keduanya.
"Kita mau latihan di mana?" tanya Ummi saat melihat Kafa dan Salma baru turun dari tangga.
"Di komplek sebelah, Ummi," jawab Salma dengan nada lembut penuh kasih sayang.
"Ya sudah, tunggu apa lagi? ayo berangkat!" ajak Ummi yang terlihat lebih bersemangat dari pada yang lain.
"Ummi dan yang lain naik mobil, biar aku dan Salma naik motor," tutur Kafa setelah sampai di garasi.
__ADS_1
Ghozi yang mengerti jika Kafa memberitahunya meski tidak secara langsung mengiyakan ucapan Kafa dengan anggukan kepala kemudian menyalakan mobil setelah membuka pintu memberi isyarat pada Ummi dan Tari agar segera masuk.
Apa yang di lakukan Kafa dan yang lain malah terlihat seperti orang yang akan pergi liburan dari pada latihan.
Latihan kali ini terasa begitu spesial karena Salma mendapat dukungan penuh dari sang suami dan keluarganya, juga dari sahabat yang cukup lama dia rindukan.
Matahari yang sejak tadi bersembunyi di balik awan hitam yang tak kunjung meneteskan air hujan kini mulai bergulir kembali ke peraduan, awan hitam yang menghiasi langit perlahan sirna berganti senja yang terlihat begitu indah, tapi keindahan senja tak mampu mengurangi sebaran jantung Salma yang kini tengah berpacu, perasaan Salma campur aduk, antara semangat, khawatir dan rasa bahagia karena semua keluarganya datang untuk mendukung dirinya.
Malam yang semakin larut tak menyurutkan semangat Salma tak menyurutkan semangat Salma dan Kafa untuk mengikuti pertandingan yang sudah di sepakati.
Salma berganti baju, dia yang biasanya memakai abaya kini berganti memakai celana jeans yang di padukan dengan Hem kotak-kotak berwarna biru muda, lengkap dengan sepatu sport yang biasa di gunakan anak muda zaman now.
Salma benar-benar terlihat trandy dan cantik menawan.
"Kenapa pertandingannya harus di batalkan? bukankah hari ini adalah hari yang kita tunggu, kita juga bisa kembali ke pesantren juga jika kita bisa menang dalam pertandingan ini," ujar Salma dengan penuh kelembutan dia berkata
"Kamu memang benar, tapi rasanya aku tak rela jika ada orang lain yang bisa mihat kecantikan dirimu," ujar Kafa dengan wajah penuh ketidak relaan Kafa melihat Salma yang begitu cantik.
"Mas Kafa jangan menggombal saat kita sedang dalam suasana genting seperti saat ini," sahut Salma yang merasa jika sekarang bukan waktu yang tepat untuk mendengarkan gombalan Kafa yang sering berakhir di atas ranjang.
"Kata-kata manisku merupakan bekal semangat agar kamu bisa menang nanti," Kafa memberi alasan agar Salma tidak lagi menyalahkan dirinya.
"Ishhh, alasan," sahut Salma berjalan keluar kamar menemui anggota keluarga yang sejak tadi sudah siap menunggu keduanya di garasi.
Seperti tadi siang Ummi dan yang lain pergi menggunakan mobil sedang Salma dan Kafa menaiki sepeda motor.
__ADS_1
Suasana jalanan terlihat sepi terlihat satu dua orang sedang mengendarai motor dan mobil melewati jalanan yang sunyi.
Suasana sepi di jalan menuju tempat pertandingan sangat berbeda dengan kondisi yang terlihat di tempat pertandingan yang begitu ramai, terlihat ada banyak pemuda pemudi yang tengah nongkrong di pinggir jalan, ada yang duduk di pinggir jalan ada juga yang duduk di atas sepeda mereka masing-masing.
"Bagaimana? Apa kamu siap?" tanya Kafa yang melihat Salma berdiri mematung menatap begitu banyaknya pemuda dan pemudi yang ada di sekitarnya.
"Siap atau tidak, aku harus tetap melawannya, jika tidak maka duri dalam rumah tangga kita tak akan pernah tercabut," sahut Salma.
Kafa tersenyum senang mendengar ucapan Salma, hati Kafa berbunga-bunga karena saat ini dia merasa di cintai karena Salma sedang berjuang demi keutuhan rah tangganya.
"Semangat Sayang! aku akan selalu mendukungmu apapun yang terjadi, jangan menyerah! menang atau kalah aku tetap akan memilihmu," kata-kata manis kembali terdengar dari bibir Kafa.
"Hay, Honey! apa kabar?" sapa Intan yang terlihat begitu cantik dan mempesona dengan celana pendek di atas lutut yang di padukan dengan kaos panjang yang hampir menutupi celananya.
Bukannya menyahuti sapaan Intan, Kafa malah mengabaikannya. Dia malah memeluk Salma penuh cinta seolah menunjukkan jika saat ini Salma adalah gadis yang menguasai hatinya.
"Baik, bagaimana dengan kabarmu? apa tidurmu nyenyak?" Salma menyahuti ucapan Intan saat dia melihat Kafa yang enggan menyahuti malah memperlihatkan kemesraan di depan Intan yang terlihat biasa saja saat melihat kemesraannya.
"Apa kamu sudah siap untuk bertanding?" Intan yang tak mendapat respon dari Kafa kini beralih menanyakan kesiapan Salma.
"Tentu saja aku siap, bagaimana denganmu?" Salma balik bertanya.
Salma dan Intan terlihat tidak saling bermusuhan malah terlihat seperti teman yang baru saja bertemu setelah lama tak berjumpa.
"Aku akan selalu siap untuk melawanmu, Salma," sahut Intan penuh percaya diri dengan senyum sinis yang terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1