Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kafa Si Mulut Pedas


__ADS_3

Satu porsi makanan yang berisi cukup banyak telah tandas tak tersisa satu butir nasi di atasnya, Kafa yang terlalu menikmati menu makanan yang di masak oleh Salma dan Ummi tak memperdulikan sekitar, terutama Ummi yang sejak tadi menatapnya sambil geleng kepala.


"Alhamdulillah," lirih Kafa, perutnya terasa begitu kenyang setelah menghabiskan satu porsi makanan di hadapannya.


"Kenapa Ummi melihatku seperti itu?" tanya Kafa saat menyadari tatapan lekat yang di tujukan padanya oleh Ummi.


"Tidak ada apa-apa, kamu mau nambah lagi?" tawar Ummi, sedang Ghozi hanya tersenyum tipis melihat apa yang di lakukan oleh Kafa, saat ini Kafa terlihat sama seperti dulu yang terkadang suka jaim dan sulit mengakui beberapa hal.


"Tidak , Ummi, aku sudah kenyang," jawab Kafa


Ummi hanya manggut-manggut sambil tersenyum mendengar jawaban Kafa, kini Kafa terlihat sama seperti dulu sebelum kejadian buruk itu terjadi, sedang Salma hanya tersenyum melihat sikap Kafa yang berbeda dengan apa yang di bicarakan.


"Aku pergi dulu." Pamit Kafa setelah menyadari jika Ummi mulai memperhatikan sikapnya.


"Kamu mau ke mana Kafa?" cegah Ummi saat melihat Kafa sang putera berdiri hendak pergi meninggalkan Keluarga.


"Kafa mau istirahat dulu Ummi. Capek," jawab Kafa melenggang pergi meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.


"Kalau seperti ini Kafa masih terlihat sama ya Ummi," celetuk Ghozi.


"Iya, Ghozi, Ummi berharap suatu saat nanti Kafa akan berubah dan kembali seperti dulu," jawab Ummi sambil melirik ke arah Salma yang hanya diam kemudian menundukkan kepala setelah melihat lirikan Ummi.


Apa yang di lakukan Ummi semakin membuat Ghozi yakin jika Ummi berencana menjodohkan Salma dan Kafa, sudut hati Ghozi berdenyut merasakan sakit, rasa sakit yang entah berasal dari mana karena hati itu tak tersentuh.


"Semoga apa yang Ummi harapkan akan menjadi kenyataan," sahut Ghozi dengan senyum yang mengembang meski hatinya masih saja terasa sakit.

__ADS_1


"Amin," ujar Ummi.


"Kalau begitu Ghozi pergi dulu Ummi." Pamit Ghozi setelah menghabiskan makanannya.


"Assalamualaikum," sambungnya berdiri melenggang pergi setelah Ummi dan Salma menyahuti salamnya.


"Biar Salma saja yang membersihkannya Ummi," cegah Salma saat melihat sang Ummi berdiri mengambil piring kotor di hadapannya.


"Sudah, tidak apa-apa, biar Ummi yang membereskannya! kamu kembali saja ke asrama untuk istirahat! Ummi yakin kamu pasti capek setelah masak tadi," larang Ummi seraya melanjutkan mengambil piring yang kotor dan menumpuknya menjadi satu.


"Baiklah, Salma peegi dulu, Ummi." Pamit Salma, dia memang merasa lelah setelah memasak dan membersihkan peralatan memasaknya tadi, tapi yang paling membuatnya lelah adalah Kafa, sejak tadi Salma berusaha keras menekan segala rasa yang ada di hatinya, bukan perasaan cinta atau sayang sebagai seorang kekasih, tapi rasa jengkel yang menyelimuti hatinya melihat juga mendengar sikap Kafa yang terkesan seenaknya.


"Khem, Puteri Ummi mau ke mana?" suara Kafa yang kini mulai familiar di telinga Salma terdengar saat dia berjalan melewati kamar Kafa.


Mendengar ucapan Kafa langkah Salma langsung terhenti, sejenak dia mendongak melihat Kafa yang kini bersandar di sisi pintu.


"Sejak kapan kamu mengaku sebagai Puteri Ummi?" pertanyaan Kafa membuat langkah Salma kembali terhenti.


Perlahan Salma membalikkan badan menoleh ke arah Kafa. Entah mengapa kini dia memiliki keberanian yang entah muncul dari mana.


"Sejak Ummi membawaku ke mari, dan berkata jika dia menganggapku sepeti puterinya sendiri, kasihan Ummi, dia terlihat kesepian sejak Putera semata wayangnya pergi hanya karena seorang gadis yang memang bukan jodohnya, Permisi." Sahut Salma yang langsung meninggalkan Kafa tanpa peduli lagi tanggapan apa yang akan di berikan oleh Kafa putera Ummi itu.


Mendengar apa yang di katakan Salma membuat hati Kafa mendidih, emosi yang sebenarnya entah ke mana kini mulai meluap, saat ini Kafa sangat ingin memberi pelajaran pada gadis yang berani melawannya, seumur hidup baru kali ini ada gadis yang berani melawannya.


"Hey, Salma! jangan pergi kamu! aku belum selesai bicara," ucap Kafa sedikit meninggikan suaranya tapi Salma yang mendengarnya semakin mempercepat langkahnya agar Kafa tak bisa mengejar ataupun berusaha mengintimidasinya.

__ADS_1


'Ampun, kenapa bisa ya? Ibu dan Ayahnya berhati malaikat dan nada bicaranya begitu lembut bak sutera, tapi Anaknya sangat berbeda sungguh luar biasa, mulutnya begitu pahit untuk di dengar,' batin Salma heran.


Salma terus berjalan cepat hingga keluar dari ndalem dan sampai di asrama, sedang Kafa kembali ke kamar setelah merasa tak akan berhasil mengejar Salma yang kini telah menghilang di balik pintu ruang tamu khusus wali santri puteri.


"Tari!" panggil Salma saat melihat sang sahabat sedang asyik menulis di sebuah buku.


"Apa?" sahut tari tanpa mengubah posisinya yang kini tidur tengkurap.


"Aku baru saja ketemu orang paling nyebelin di dunia," jawab Salma seraya mencari posisi ternyaman untuk dia bercerita.


Kini Salma tidur berbantal punggung Tari yang masih setia tengkurap dan menulis.


"Orang yang paling nyebelin di dunia, maksud kamu siapa?" tanya Tari mulai kepo dengan apa yang akan di ceritakan oleh salma, dia menaruh bolpoin yang sejak tadi di pakai.


"Siapa lagi kalau bukan anaknya Ummi, dia itu masya allah Tari," jawab Salma dengan nada lirih tapi masih bisa di dengar oleh Tari.


"Kenapa? tampan ya? pasti kulitnya putih mulus wajahnya tampan dan senyumnya menawan, sejarah Ummi begitu cantik anaknya pasti tampan," seru Tari sambil menaik turunkan alisnya.


"Wajahnya emang lumayan, kulitnya juga gak hitam, eh tapi kok bahas fisik sih, aku itu lagi bahas sifatnya yang nyebelin, kenapa jadi bahas fisiknya?" ujar Salma.


"Kenapa nyebelin? emang kamu di apain kok sampek bilang nyebelin gitu?" tanya Tari.


"Kau tahu Tari, mulutnya itu bener-bener bisa bikin orang naik darah, pedes banget," jawab Salma dengan ekspresi wajah bersungut-sungut.


"Aku kira cuma cabe aja yang pedes Salma, ternyata mulut calon suamimu juga pedes, tapi kalau di fikir-fikir asyik juga punya pasangan yang mulutnya pedes," ujar Tari seraya membayangkan sesuatu.

__ADS_1


"Kok asyik Tari? kalau punya pasangan mulutnya pedes bahagia kagak makan hati tiap hari iya," Salma terlihat bingung mendengar penuturan Tari yang menurutnya aneh.


"Enaklah Salma, kalau mulutnya udah pedes kita gak perlu cari bakso atau makanan pedes lain kalau lagi pengen yang seger-seger, tinggal sosor aja tu mulut dah kepedesan," jelas Tari yang sukses membuat Salma menepuk jidat mendengar penjelasan Tari yang sungguh salah besar.


__ADS_2