Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Salma Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

"Permisi, apa kalian keluarga dari saudara Salma?" tanya seorang Suster berjalan mendekat ke arah Kafa.


"Benar Suster, bagaimana keadaan Salma saat ini?" sahut Kafa yang langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arah Sang Suster.


"Mas nya bisa tanya sendiri tentang keadaan pasien pada Dokter yang memeriksanya, saat ini pasien berada di pavilliun anggrek nomor satu, dan Mas nya bisa datang kw sana untuk melihat keadaan pasien secara langsung," tutur sang suster.


"Baik, terima kasih informasinya," jawab Kafa dengan senyum ramah yang terlihat jelas di wajahnya.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi." Pamit sang suster.


"Ummi, lebih baik sekarang kita lihat keadaan Salma lebih dulu," ujar Kafa yang di angguki oleh Ummi, sedang Salma hanya mengikuti langkah Ummi dan Kafa untuk melihat dan menemui sang sahabat.


Ummi mengangguk kemudian berjalan mendekat ke arah Kafa di ikuti Tari kemudian berjalan mengikuti langkah Kafa mencari di mana keberadaan Salma.


"Pavilliun, anggrek," gumam Tari seraya celingukan mencari letak kamar yang di tempati Salma.


"Mas Kafa, apa itu kamar yang di maksud Suster tadi?" ujar Tari seraya menunjuk ke arah Kanan di mana terdapat tulisan besar bertuliskan anggrek.


"Mungkin saja, ayo kita ke sana!" sahut Kafa.


Ketiganya melangkah mendekat menuju kamar bertuliskan nomor satu.


"Permisi Dok," ucap Kafa saat melihat seorang dokter keluar dari ruangan yang baru saja mereka datangi.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" sahut Sang Dokter bername tag Reyno.


Dokter tampan dengan kulit putih bersih bak proslen dan senyum yang terlihat tegas tapi menawan.

__ADS_1


"Apa benar ini ruangan pasien bernama Salma?" tanya Kafa dengan ekspresi wajah penuh harap yang terlihat jelas di wajahnya.


"Benar, apa kalian keluarga pasien?" sang dokter menjawab sekaligus mengajukan pertanyaan pada Kafa dan yang lain.


"Iya, Dok, kami keluarganya," sahut Ummi dengan ekspresi cemas yang terlihat jelas di wajahnya.


"Pasien sedang istirahat, lebih baik jangan di ganggu dulu," ujar Dokter.


"Bagaimana keadaan kesehatannya Dok?" tanya Kafa yang kini juga terlihat khawatir sama seperti Ummi.


"Tidak ada yang serius, pasien hanya kelelahan dan tekanan darahnya sangat rendah, maka dari itu saya menganjurkan untuk banyak istirahat sementara waktu supaya tekanan darahnya kembali normal," tutur Sang Dokter.


"Baik, Dok," jawab Kafa.


"Terima kasih Dokter," sahut Ummi yang di tanggapi dengan anggukan oleh Sang Dokter.


"Baik, Dok," jawab Kafa.


Ummi yang sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Salma langsung berjalan masuk ke dalam ruangan tanpa memperdulikan yang lain.


"Ummi, jangan ganggu Salma dulu! biarkan dia istirahat." Cegah Kafa sebelum Ummi melakukan sesuatu yang bisa membangunkan Salma.


"Mas Kafa benar Ummi, lebih baik kita duduk di sana saja sambil menunggu Salma bangun," ajak Tari yang sejak tadi diam kini mulai bersuara.


"Kamu benar," lirih Ummi yang kini melangkah perlahan menuju tempat tidur khusus untuk keluarga pasien yang menjaga.


"Bagaimana ceritanya sampai-sampai Salma bisa jadi seperti ini Tari?" tanya Ummi saat keduanya sudah duduk di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Tari tidak tahu Ummi, pasalnya Salma tidak mengeluh ataupun mengatakan sesuatu, semalam Tari terbangun dan tidak sengaja memegang tangan Salma yang terasa panas, awalnya Tari kira panas biasa makanya Tari hanya mengompresnya semalam, Tari sempat ketiduran sampai subuh dan baru bangun ketika Mbak Ratna bangunin Tari, saat itu Tari baru tahu jika panas yang di alami Salma semakin parah dan Mbak Ratna mengusulkan untuk memberitahu Ummi, dan dia langsung pergiuntuk ngasih tahu Ummi. Selebihnya Tari enggak tahu," tutur Tari yang menjabarkan secara detail kejadian yang sebenarnya.


Ummi hanya diam mendengarkan semua penuturan Ummi, sedang Kafa hanya menggelengkan kepala heran mendengar semua penuturan Tari yang terdengar begitu padat dan jelas sejelas-jelasnya.


"Semoga saja Salma segera sembuh dan tidakakan terjadi sesuatu yang lebih parah dari pada ini," untaian harapan terdengar dari bibir Ummi.


Ummi, Tari dan Kafa kini kompak duduk menunggu Salma bangun, Ummi duduk berdampingan dengan Tari sedang Kafa duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Salma. Suasana begitu hening, Ummi menatap sendu ke arah Salma. Begitu pula Tari yang ikut menatap Salma dengan tatapan penuh kekhawatiran, sejak nenek Tari meninggal Salma sudah menjadi saudara sekaligus sahabat satu-satunya dalam hidup Tari, apapun yang terjadi pada Tari, Salma selalu ada bahkan di saat dia sakit Salmalah yang merawat Tari hingga sembuh, pantas saja jika saat ini Tari merasa begitu khawatir dengan keadaan Salma yang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit.


'Cepat sembuh saudaraku, sungguh aku tidak pernah tega jika harus melihatmu seperti itu,' batin Tari sambil terus menatap ke arah Salma.


Jika kedua insan yang duduk di atas kasur khusus penjaga pasien, maka berbeda dengan Kafa yang terlihat sibuk dengan ponselnya hingga satu panggilan masuk ke dalam ponsel Kafa mengusik sang empu yang sedang serius menatap laporan keuangan dari kariyawan Kafa.


"Assalamualaikum, Abah, ada apa?" ucap Kafa sesaat setelah mengangkat telfon.


"Apa itu telfon dari Abah Kafa?" Ummi yang mendengar Kafa menyebut nama Abah langsung berdiri dan menghampiri Kafa seraya bertanya.


"Iya, Ummi, ini Abah yang telfon," jawabKafa.


"Berikan telfonnya pada Ummi!" titah Ummi yang langsung di turuti oleh Kafa.


"Assalamualaikum, Abah, Salma sakit dan sekarang sedang ada di rumah sakit," ujar Ummi dengan ekspresi wajah yang di balut dengan kesedihan.


"Tapi Ummi ingin menemani Salma, Abah," Ummi kembali berucap.


"Baiklah, Ummi akan pulang." ujar Ummi dengan raut wajah yang terlihat semakin sedihjuga kecewa.


"Kenapa Ummi?" tanya Kafa yang penasaran dengan ekspresi sedih campuŕ kecewa yang nampak jelas di wajah Ummi.

__ADS_1


__ADS_2