
"Maaf, aku tidak sengaja, sungguh," sambung Salma dengan ekspresi memelas dan penuh belas kasihan.
Kafa tak menggubris ucapan Salma, dia hanya diam kemudian beralih memperhatikan hal lain dan kembali mengecek barang yang perlu dia beli, semua keperluan telah di catat kini Kafa kembali pergi meninggalkan Salma yang masih setia diam do dapur menata kembali bahan masakan yang tadi sudah di periksa oleh Kafa.
"Salma!" panggil Kafa sebelum dia benar-benar pergi dari dapur.
"Iya, ada apa? apa ada yang kurang?" sahut Salma.
"Besok pergilah ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang perlu di beli bersama Tari!" titah Kafa.
"Oh, hanya membeli bahan, baiklah, besok setelah bantuin Mbok Bat aku akan ke pasar buat beli." Jawab Salma enteng.
Kafa melangkah pergi menjauh setelah mendapat jawaban pasti dari Salma yang kini berjalan menuju kantin untuk menemui Tari dan Mbok Bat yang di yakini masih berada di sana.
"Ha ha ha," suara tawa Tari terdengar begotu nyaring di telinga siapapun yang lewat, dan Salma merasa jika Tari dan Mbok Bat sedang asyik bercerita tanpa dirinya.
"Assalamualaikum," ucap Salma saat masuk ke dalam kantin.
"Waalaikum salam," sahut Mbok Bat dan Tari hampir bersamaan.
"Loh kok sudah balik?" tanya Tari.
"Urusannya sudah selesai," jawab Salma.
"Kenapa cepet banget?" tanya Tari.
"Ishhh kamu berharapnya gimana? sudah tahu kalau aku bakal tersiksa jika deket dengan Mas Kafa, kamu masih aja ngebiarin aku bareng sama dia," tutur Salma dengan ekspresi penuh kekesaĺann.
"Habis ketemu calon suami kok malah cemberut marah-marah hak jelas. Harusnya kamu senang bisa bertemu dengan calon suami seperti saat ini," sela Mbok Bat.
__ADS_1
"Sudahlah Mbok, jangan bahas calon suami lagi capek aku," keluh Salma berjalan mendekat ke arah Tari dan duduk tepat di sampingnya.
Bersama dengan Kafa adalah hal yang paling bisa membuat Salma lelah dan jengkel, rasa lelah dan jengkel yang hinggap di hatinya belum juga usai kini seorang Santri kembali memanggilnya.
"Mbak Salma!" panggil Seorang Santri.
"Iya, ada apa Mbak?" sahut Salma.
"Mbak Salma di panggil Ummi!" jawab Sang santri.
"Ummi di mana?" Salma kembali bertanya.
"Kata Ummi, Mbak Salma di tunggu di ruang tamu dan satu lagi Ummi berpesan agar Mbak Salma merapikan diri karena beliau mau mengajak Mbak Salma pergi." Sang Santri kembali menyampaikan pesan sang Ummi.
"Baiklah, aku akan segerake sana." Jawab Salma pasrah.
"Dandan yang cantik ndok, biar Mas Kafanya makin cinta dan makin gak bisa lepas dari kamu." Kini giliran Mbok Bat yang ikut-ikutan meledek Salma.
Salma hanya memutar bola mata malas tanpa ada niat untuk membalas ucapan keduanya. Sungguh hari ini dia harus menyiapkan mental sekuat baja agar dia mampu menghadapi Kafa jika nantidia harus bertemu dengannya lagi.
"Aku pergi dulu Mbok, Tari, assalamualaikum," pamit Salmaa melenggang pergi meninggalkan kantin tanpa peduli entah salamnya itu telh di jawab atau tidak, Salma hanya ingin segera bersiap dan ikut ke mana Ummi pergi agar semuanya cepat selesai.
Pertunangan ataupun pernikahan yang biasanya selalu di tunggu-tunggu dengan rasa bahagia yag membuncah di hati kedua mempelai kini tak di rasakan oleh Salma, dia malah cenderung malas dan lelah setiap kali bertemu dengan Kafa, sikap Kafa yang dingin dan ucapannya yang selalu menusuk hati menjadi salah satu alasan Salma merasa tidak bahagia dengan perjodohan yang dia alami.
Apa lagi di tambah dengan sikap sebagian besar santri yang terkadang berlebihan membuatnya risih, meski terkadang sikap berlebihan para santri itu menguntungkan, tapi tetap saja Salma merasa risih dan tidak nyaman tinggal di peaantren.
"Neng Salma!" panggil seorang santri.
"Eh, iya, kenapa?" sahut Salma.
__ADS_1
"Neng mau ke mana?" tanyanya dengan senyum yang terlihat begitu tamah dan lebar.
Sejak hari pertunangan itu ada banyak santri yang sok kenal dan sok dekat menyapa, bahkan tak jarang juga mereka memperkenalkan diri agar bisa berteman dengan Salma, entah pertemanan seperti apa yang di maksud, apa dia tulus atau hanya mencari muka saja, sungguh Salma tak bisa membedakan, yang jadi pegangannya saat ini hanya satu, dia selalu mengingat pesan Ratna untuk selalu berhati-hati.
"Aku mau balik ke kamar." Jawab Salma, meski sebenarnya dia tidak suka dengan panggilan Neng yang di sematkan sebagian besar santri padanya, Salma tetap tak bisa lagi melawan, pasalnya mereka yang memanggil neng selalu saja punya sejuta alasan kenapa mereka memanggil Salma seperti itu.
"Neng, aku baru aja di jenguk sama orang tuaku, bagaimana kalau kita makan bersama? apa Neng Salma mau?" tawarnya.
"Sebenarnya aku mau, bukan hanya mau tapi mau banget malah, tapi maaf, aku harus pergi karena Ummi sudah menungguku, bagaimana kalau lain waktu saja?" Salma menolak santri itu dengan halus.
Bukan hanya sekali, bahkan sudah sering sekali ada santri yang menawarkan makan bersama setiap kali mereka di jenguk oleh orang tuanya, apa lagi kalau di hari jum'at dan minggu, bisa di pastikan Salma akan kebanjiran makanan entah itu dari santri ataupun wali santri yang ingin tahu bagaimana paras Salma. Sungguh hal yang paling tidak pernah di duga oleh Salma.
"Oh, Neng Salma mau pergi sama Ummi?" santri itu memaatikan jika apa yang doa dengar barusan benar.
"Iya, maaf ya," jawab Salma dwngan ekspresi tak enak hati.
"Gak apa-apa, Neng Salma cepatlah bersiap sebelum Ummi menunggu terlalu lama." Ujar Santri itu kemudian pergi meninggalkan Salma yang kini kembali berjalan menuju kamarnya untuk bersiap ikut bersama Ummi.
'Mbak Ratna benar, ada banyak santri yang cari muka dan bersikap baik di depanku, mereka semua terlihat tulus dan aku tak bisa membedakan mana yang benar-benar tulus atau yang berpura-pura bersikap tulus.' batin Salma.
Salam hanya busa menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya perlahan mengumpulkan segala kesabaran dan kekuatan yang dia miliki untuk menghadapi setiap kejadian tak terduga dalam hidupnya.
"Assalamualaikum," ucap Salma sesaat setelah sampai di ruang tamu.
"Waalaikum salam," sahut semua yang ada di ruang tamu, ternyata Ummi tak sendiri di ruang tamu, ada Abah, Ghozi dan Kafa juga di sana, ke empatnya terlihat sedang duduk dan menunggu kedatangan Salma.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu datang juga, Nak, ayo kita berangkat!" Ummi yang melihat kedatangan Salma langsung berdiri memberi isyarat agar semua orang yang ada di ruang tamu juga ikut berdiri dan mengikuti langkahnya.
"Ayo, Nak!" Ummi juga memberi isyarat pada Salma agar ikut bersamanya.
__ADS_1