
Abah dan Ummi memang bukan seorang pengusaha, keduanya mendapat penghasilan dari beberapa tokoh besar di berbagai tempat, Abah juga memiliki beberapa sawah yang cukup luas dan sapi perah yanh di pelihara oleh orang kepercayaannya. Abah membangun pesantren dari hasil usahanya itu.
"Abah tak lagi bisa memikirkan hal lain untuk mengubah Kafa saat ini, hanya itu satu-satunya ide yang ada di fikiran Abah saat ini Ummi," ujar Abah.
"Coba fikirkan hal lain Abah! setidaknya ada hal yang jauh lebih baik dari pada menghentikan fasilitas yang kita kasih," ujar Ummi.
Keduanya terdiam membisu karena tengah sibuk dengan fikiran mereka masing-masing, memikirkan cara agar Kafa bisa berubah jauh lebih baik dari sekarang.
"Bagaimana jika kita jodohkan Kafa dengan seorang gadis Ummi?" usul Abah.
"Menjodohkan Kafa, apa Abah yakin Kafa mau di jodohkan?" tanya Ummi dengan ekspresi ragu yang tergambar jelas di wajahnya.
"Bagaimana kalau Ummi pura-pura sakit saja dan meminta Kafa menikah dengan gadis pilihan kita, bilang saja kalau ini permintaan terakhir Ummi!" Abah kembali mengeluarkan ide yang muncul di kepalanya.
"Apa tidak dosa membohongi anak sendiri Abah?" Ummi terlihat ragu dengan ide yang di ungkapkan oleh Abah.
"Berbohong demi kebaikan seseorang bukanlah hal yang buruk dan Abah yakin Allah pasti tahu apa tujuan kita berbohong, ini juga demi kebaikan Kafa Ummi," jawab Abah.
Ummi terdiam memikirkan apa yang di katakan oleh Abah, menimang baik dan buruknya masalah yang akan tombul jika Kafa benar-benarenikah dengan gadis yang mereka pilihkan, pasalnya Ummi sudah mengetahui jika Kafa sudah memiliki kekasih di luar sana.
__ADS_1
"Tapi Kafa sudah punya kekasih di luar sana Abah, apa dia akan setuju jika Ummi meminta dia menikah?" Ummi kembali mengungkapkan keraguannya.
"Percayalah Ummi, seberapa brutal Kafa, dia tetap menyayangimu sebagai Ummi yang telah melahirkannya dan Abah yakin dia akan menuruti keinginan Ummi sebagai tanda baktinya padamu," Abah memncoba mematahkan segala keraguan yang terlihat di wajah sang istri.
"Jika Kafa memang mau menikah, kira-kira siapa gadis yang mau kita jodohkan dengan putera kita? bukankah sudah menjadi rahasia umum jika putera kita telah berubah dan menjadi laki-laki brutal Abah," ucap Ummi.
Berita tentang perubahan sikap Kafa memang sudah menyebar di seluruh kalangan, tapi meski berita buruk tentang Kafa tersebar tak menyurutkan minat orang untuk menaruh putera puteri merwka di pesantren yang Ummi dan Abah kelolah, semua itu karena kebaikan yanh Abah dan Ummi tebar setiap waktu.
Ummi dan Abah selalu melakukan bakti sosial membagikan makanan dan beberapa lembar uang pada anak yatim setiap hari kamis, dan kembali bersedekah setiap hari jum'at membagikan makanan pada pengemis dan orang-orang yang kurang mampu di jalan raya, tak lupa juga Ummi swlalu menyediakan sarapan gratis yang di letakkan di tempat khusus yang di letakkan di pinggir jalan dan siapapun bisa mengambilnya.
Sungguh Ummi dan Abah adalah panutan meski putera mereka terkenal brutal tak mampu menutupi kebaikan yang telah di sebar oleh keduanya.
"Salma," lirih Ummi seraya menerawang jauh ke atas menimang apa yang di usulkan oleh Abah.
"Apa Salma mau di jodohkan dengan Kafa, Abah? dan apa Kafa bisa menerima Salma juga membahagiakannya?" Ummi mengungkapkan keraguan yang dia rasakan mengingat janji yang sudah dia ucapkan pada mendiang Ibu Salma. Sejak Ummi berjanji pada Ibu Salma untuk menjaga puterinya jika terjadi sesuatu, Ummi merasa memiliki tanggung jawab atas hidup Salma dan menganggapnya seprti puterinya sendiri, maka dia tak mau egois menikahkan Puteranya dengan Salma jika pada akhirnya Salma tak bisa bahagia.
"Abah yakin perlahan Kafa pasti akan menerima Salma, dan kafa tidak akan menyakitinya karena Abah yakin jika Kafa masih memegang teguh apa yang telah kita ajarkan padanya," jawab Abah.
Ummi kembali terdiam memikirkan setiap kata yang terucap dari bibir sang suami, selama ini Ummi juga tahu dengan pasti jika Kafa memang masih memegang teguh apa yang telah Ummi dan Abah ajarkan padanya. Tapi rasa ragu yang tumbuh di hati Ummi masih saja muncul, meski rasa ragu itu hanya sebiji jagung.
__ADS_1
"Besok Ummi akan berusaha mengatakannya pada Salma, dan semoga saja Salma bersedia menerima perjodohan ini," ucap Ummi.
"Semoga saja Ummi, Abah bisa melihat ketulusan dan kelembutan di setiap tatapan mata Salma dan sikap yang Salma tunjukkan, maka dari itu Abah yakin jika Salma bisa mengubah Kafa secara perlahan, meski Abah tahu dengan pasti jika semuanya butuh proses tapi Salma pasti bisa melewatinya." Ungkap Abah.
"Ummi juga berfikiran seperti Abah meski ada ragu yang masih saja terselip tapi Ummi yakin jika Salma bisa melewati semuanya, dan memberikan hasil yang baik." Ummi juga ikut mengungkapkan apa yang dia rasakan.
Ummi kini terlihat sedikit lebih tenang, dia kembali beristirahat mempersiapkan diri untuk mengatakan rencana yang telah beliau susun bersama Abah pada Salma esok hari.
Malam terus berlalu meninggalkan dunia mimpi yang di penuhi dengan keindahan yang hanya sementara.
Sejak subuh tadi Ummi terus memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengatakan rencananya agar Salma mau menerima perjodohan yang sudah di susun untuk sang putera dan Salma. Sedangkan Salma kini sedang asyik memasak di dapur bersama Tari dan Mbok Yem, menyiapkan makanan untuk sarapan para santri.
"Ternyata kalau kita melakukannya dengan ikhlas dan tak menganggapnya beban, semua terasa begitu menyenangkan ya Salma," ujar Tari dengan senyum secerah mentari yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kamu benar Tari, kita masih beruntung bisa mendapat tempat tinggal gratis dan juga pekerjaan yang bagus seperti sekarang di tambah dengan semua pelajaran yang di ajarkan Ghozi, semuanya terasa begitu lengkap," ungkap Salma yang kini juga terlihat bahagia.
"Mbok Yem juga merasa bersyukur bisa mengenal kalian dan di bantu oleh kalian, meski kita baru bertemu tapi Mbok bisa langsung merasa nyaman memasak bersama kalian," sahut Mbok Yem yang kini ikut bergabung mengupas sayur sop yang menjadi menu hari ini.
Ketiganya terlihat begitu akrab, padahal Tari dan Salma baru beberapa hari di sana, tapi ketiganya sudah sangat akrab dan kompak, sungguh pemandangan yang indah di pandang mata.
__ADS_1