Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Enaknya Jadi Orang Kaya


__ADS_3

"Ini kopinya," Salma meletakkan secangkir kopi di atas meja yang ada di hadapan Kafa, kemudian berdiri hendak pergi.


"Kamu mau ke mana?" cegah Kafa menghentikan langkah Salma.


"Aku mau ke dapur." Jawab Salma.


"Kamu mau ngapain lagi ke dapur?" Kafa kembali bertanya karena dia merasa tidak menemukan kata-kata yang pas untuk pertanyaan yang dia ajukan.


"Aku mau bantuin Mbok Sumik masak," jawab Salma seperlunya saja.


Kafa hanya menganggukkan kepala tanda jika dia sudah mengerti dan menyetujui apa yang akan di lakukan Salma.


Tanpa memperdulikan tanggapan Kafa, Salma melenggang pergi meninggalkan Ruang keluarga menuju dapur untuk membantu Mbok Sumik.


"Mbok Sumik!" panggil Salma sesaat setelah sampai di dapur.


"Loh, Neng Salma kok ke dapur lagi?" sahut Mbok Sumik.


"Aku pengen bantuin Mbok Sumik masak," jawab Salma dengan senyum ramah yang terlihat menyejukkan hati siapapun yang melihatnya.


"Tidak perlu Neng, Mbok bisa kok masak sendiri, Neng Salma bisa beristirahat atau santai-santai bareng Mas Kafa, bukankah tadi Neng Salma baru nyampek, Mbok yakin kalau Neng Salma masih lelah karena menempuh perjalanan yang cukup lama," tolak Mbok Sumik yang merasa sungkan jika Salma membantunya.


"Aku sudah istirahat tadi Mbok, bahkan aku tertidur sebelum sampai di rumah ini," Salma masih ngotot ingin membantu Mbok Sumik memasak di dapur.


"Kalau Neng Salma memang sangat ingin memasak Mbok tak bisa menolak, lagi pula pekerjaan Mbok akan jauh lebih ringan kalau di bantuin," ucap Mbok Sumik menerima bantuan yang Salma tawarkan.


"Mbok bisa aja, pakai acara menolak segala," ujar Salma yang membuat Mbok Sumik tersenyum senang karenanya, sudah cukup lama suasana rumah itu tegang, tak ada lagi tawa setelah Bella dan Mas Kafa batal menikah, di tambah Intan yang suka seenaknya sendiri keluar masuk sesuka hatinya dan menyuruh Mbok Sumik seenaknya.


Keduanya terlihat asyik memasak meskipun Salma baru bertemu dengan Mbok Sumik, tapi keduanya terlihat begitu akrab.

__ADS_1


"Khem," suara deheman seorang laki-laki terdengar mengejutkan Salma dan Ghozi.


Spontan Salma dan Ghozi langsung menoleh ke asal sumber suara.


"Ghozi, ada apa?" spontan Salma menyapa Ghozi yang baru saja datang.


"Aku haus, apa ada yang mau membuatkan minuman untukku?" ujar Ghozi dengan ekspresi wajah memelas yang terlihat jelas di wajahnya.


"Biar Mbok Sumik yang membuatkannya, Neng Salma mending mandi dan siap-siap! sebentar lagi akan masuk waktu sholat maghrib," sela Mbok Sumik.


"Aku pengennya Salma yang buatin Mbok, sekali-sekali aku pengen ngerasain minuman buatan nyonya rumah ini," Ghpzi masih kekeh menginginkan Salma yang membuat minuman itu untuknya.


"Sudahlah Mbok, tidak apa-apa kalau hanya minuman saja Salma tidak keberatan kok," Salma yang tak ingin ada perdebatan kini menyela mencoba meyakinkan Mbok Sumik agar membiarkan dirinya yang membuat minum.


"Tapi Neng, ini sudah sangat sore, apa Neng Salma tidak takut kesorean nanti," Mbok Sumik masih terlihat tidak rela dan mencari alasan agar Salma segera pergi untuk membersihkan diri.


"Kamu mau minum apa Ghozi?" tanya Salma setelah Mbok Sumik berlalu menuju tempat cuci piring untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan yang belum terselesaikan.


"Kalau jus jeruk bagaimana? apa kamu mau membuatkannya untukku?" jawab Ghozi.


"Tentu saja, tunggu sebentar!" sahut Salma yang kini kembali berkutat di dapur menyelesaikan permintaan Ghozi.


"Terima kasih," ujar Ghozi sembari duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan Salma yang begitu terampil membuat jus jeruk.


"Ini jus jeruknya, aku tinggal dulu ya." Salma langsung memberikan jus jeruk yang baru saja sia buat, kemudian melangkah pergi menuju kamar untuk membersihkan diri sesuai dengan apa yang Mbok Sumik katakan.


Salma berjalan dengan langkah pelan hingga langkah kakinya tak terdengar, perlahan dia membuka mata berharap Kafa tidak ada di dalam kamar dan apa yang di harapkan Salma menjadi kenyataan, suasana kamar terlihat begitu sepi dan hening seperti tak ada. kehidupan.


"Ahhh bebasnya," seru Salma yang langsung merebahkan diri di atas kasur dengan tangan yang terlentang menikmati empuknya kasur milik Kafa yang di yakini memiliki harga cukup mahal.

__ADS_1


"Enak ya jadi orang kaya, mau ino itu tinggal tunjuk dan gak perlu susah payah nabung dulu buat beli," Salma mengomel sendiri sambil merentangkan tangan menikmati hidupnya.


"Siapa bilang jadi orang kaya itu enak?" suara seorang laki-laki yang begitu familiar di telinga Salma kini terdengar.


"Astaghfirullah," sahut Salma yang kini berganti posisi duduk di atas kursi setelah mendengar suara Kafa yang ternyata sedang berdiri bersandar pad pintu penghubung antara kamar dan balkon, ternyata sejak tadi Kafa berada di balkon dan Salma tidak tahu.


"Beri aku alasan kenapa jadi orang kaya itu enak!" pinta Kafa berjalan perlahan mendekat ke arah Salma dan duduk tepat di sampingnya.


Apa yang di lakukan Kafa membuat Salma merasa tegang, saat ini Kafa duduk begitu dekat dengannya.


"Ayo katakan!" Kafa terdengar sedikit memaksa Salma untuk mengatakannya.


"Huft ...." salma membuang nafas kasar mencoba menyiapkan rangkaian kata untuknya.


"Jadi orang kaya itu enak Mas Kafa, pengen apapun tinggal beli tanpa harus nabung dulu kan enak," ujar Salma.


"Kata siapa? apa kamu lupa kalau orang kaya juga butuh usaha yang keras agar dia bisa di katakan kaya, apa lagi nanti kalau di akhirat, orang kaya timbangan dan pertanggung jawabannya jauh lebih banyak dan panjang, karena ada banyak barang yang harus kita jelaskan di gunakan untuk apa?" Kafa mencoba memberitahu Salma apa yang ada dalam fikirannya.


Salma langsung diam tanpa kata setelah Kafa berucap, dia mencoba merangkai kata untuk membalas ucapan Kafa.


"Sudah tahu berat, tapi kenapa ada banyak orang yang bersusah payah agar bisa kaya dan di katakan kaya?" Salma tak mau kalah dia kembali bertanya pada Kafa.


"Itulah sifat manusia yang selalu ingin terlihat lebih menonjol dari pada yang lain, tapi tak selamanya niat orang jadi kaya terkadang berneda-beda, ada yang ingin kaya hanya karena pamer, ada pula yang memperkaya diri agar bisa membantu sesama, jangan melihat casing jika kamu tidak tahu apa yang tersembunyi di dalam jiwanya," jelas Kafa.


"kenapa diam?" tanya Kafa yang melihat Salma diam tanpa sanggahan.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa jika apa yang mau katakan memang benar adanya," jawab Salma dengan kepala yang menunduk malu di sampingnya


Suasana berubah jadi hening seperti tak berpenghuni, tak ada lagi yang berbicara.

__ADS_1


__ADS_2