
Pagi yang indah datang menyambut harapan baru yang mungkin kemarin tak bisa di gapai, kali ini Tari tak bersama dengan Salma, entah mengapa hatinya kembali gundah mengingat rasa cinta yang dia simpan dan coba lupakan tak kunjung sirna, untaian do'a telah dia ucap setiap waktu berharap jika dia segera melupakan Ghozi yang memang tak pernah mencintainya, tapi Tari tak bisa membalikkan hatinya begitu saja, karena itu bukanlah kuasanya.
"Ya rob, maha membolak balikkan hati, hamba mohon baliklah hati hamba agar bisa melupakan dia yang tidak menyimpan rasa padaku, hamba tidak ingin terus terbebani dengan rasa yang tak terbalas ini," lirih Tari seraya menatap langit biru yang terlihat cerah.
Tari duduk dengan posisi menekuk kaki dan memeluk lututnya sembari menikmati sayatan hati yang terasa semakin menyiksa, bagaimana bisa hatinya masih memilih Ghozi di saat Tari tahu dan sadar jika saat ini Ghozi mencintai sang sahabat yaitu Salma, meskipun Tari tahu dengan pasti jika Salma tidak mencintai Ghozi dan Ghozi mengetahui hal itu tetap saja hati orang yang dia cintai bukan untuknya.
Mencintai tanpa di cintai itu jauh lebih menyakitkan dan menyiksa dari pada kita di cintai tanpa mencintai, jantung yang terus berdetak saat melihatnya, hati yang selalu berharap sebuah balasan tapi pada akhirnya harus merasa sakut dan kecewa saat tahu dia yang kita cinta mencintai orang lain, apalagi jika yang di cintainya itu sahabat yang selalu bersama dengan kita setiap hari, sungguh penderitaan terlengkap bagi mereka yang merasakannya.
"Pasrah bukan berarti menyerah, berdo'a tanpa sebuah usaha juga akan jadi percuma, dan bersabar adalah kunci dari segala permasalahan yang ada," suara yang sangat di kenal oleh Tari kembali terdengar.
"Ghozi!" lirih Tari yang masih bisa di dengar oleh keduanya.
"Hay Tari, masih galau?" sapa Ghozi.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Tari dengan ekspresi heran yang tergambar jelas di wajahnya.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" bukannya menjawab Ghozi malah balik bertanya.
"Aku yang bertanya lebih dulu, apa tidak sebaiknya kamu menjawabnya terlebih dahulu baru ajukan pertanyaan lagi!" ujar Tari.
"Aku sejak tadi ada di gubuk itu, dan aku lihat kamu berjalan sendirian dan termenung di sini, aku sudah menebak kalau kamu sedang galau dan melamun, ternyatadugaanku benar, sejak tadi aku berdiri di belakangmu tapi kamu tidak menyadarinya," Ghozi menjawab pertanyaan Tari dengan lengkap dan jelas.
"Benarkah?" Tari kembali bertanya seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Benar, dan kamu harus percaya padaku karena aku tidak pernah berbohong," ujar Ghozi sambil tersenyum manis ke arah Tari.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" sambung Ghozi yang merasa belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
"Aku sedang menikmati rasa sakit di hatiku sambil menikmati indahnya ciptaan Tuhan," jawab Tari yang kini kembali mengingat hatinya yang tengah galau dan sakit.
'Kenala kamu selalu datang di saat aku ingin melupakanmu? bagaimana bisa rasa ini hilang jika kamu terus saja datang?' batin Tari seraya menatap lekat ke arah Ghozi.
"Hey, jangan menatapku seperti itu! kalau aku terus kau tatap begitu bisa-bisa aku besar kepala dan jatuh hati padamu nanti," ujar Ghozi yang merasa sedikit salah tingkah di tatap oleh Tari dengan tatapan yang begitu lekat.
'Itulah yang ku harapkan Ghozi, andai kau tahu siapa yang membuatku seperti ini, orang yang aku cintai itu kamu Ghozi dan orang yang ingin aku lupakan juga kamu, andai aku bisa mengatakannya,' Tari kembali membatin dengan tatapan yang masih lurus ke arah Ghozi.
"Tari!" Ghozi mencoba menyadarkan Tari yang terlihatmasih melamun sekalipun dia sudah berusaha menyadarkannya.
"Jangan melamun terus! melamun itu tidak baik untuk kesehatan hati dan jiwa," tutur Ghozi.
"Maaf, aku tadi tidak bisa menahan diri untuk tidak melamun," ujar Tari.
"Jangan meminta maaf padaku, karena kamu tidak memiliki kesalahan apapun." sahut Ghozi.
"Cobalah berbagi kesedihan dengan orang lain agar dirimu bisa merasa lebih baik, kamu juga bisa bercerita padaku jika kamu mau," ujar Ghozi.
"Ghozi, apa kau tahu betapa sakitnya mencintai seseorang tanpa di cintai, melihat dia mengejar cintanya dan mendengar dia memuji orang lain, hatiku terasa teriris tapi tidak berdarah ataupun berbekas, rasa sakitnya jauh lebih sakit dari pada luka yang terlihat." Tari mencoba mengungkapkan segala rasa sakit yang tengah dia rasakan.
__ADS_1
"Aku tahu karena saat ini aku juga merasakannya, tapi ngomong-ngomong siapa laki-laki yang tidak bisa mencintaimu itu, sungguh dia laki-laki yang akan merugi karena aku yakin kamu bukanlah gadis biasa," Ghozi mulai penasaran dengan sosok laki-laki yang tidak bisa mencintai gadis sebaik Tari.
"Dan kamu harus tahu aku bukan wonder women Ghozi, aku gadis biasa sama seperti yang lain," elak Tari yang di bilang bukan gadis biasa.
"Kamu memang bukan wonder women Tari, tapi hati dan fisikmu melebihi wonder women, aku tahu kamu gadis yang tegar dengan segala ujian dan cobaan yang sudah kamu lalui, dan fisikmu aku tahu dengan pasti jika kamu bukanlah gadis lemah yang akan mengeluh dengan keadaan yang tidak mendukungmu," Ghozi menjelaskan maksud dari ucapannya.
'Jika kau tahu betapa aku ini gadis yang begitu mengagumkan, kenapa kamu tidak bisa mencintaiku Ghozi, aku mencintaimu, laki-laki yang kamu bilang rugi itu kamu sendiri Ghozi, kamu bukan orang lain,' batin Tari.
Tanpa terasa air mata Tari menetes keluar membanjiri pipi, sungguh hatinya semakin sakit mendengar ucapan Ghozi yang memuji dirinya tapi mencintai Salma.
"Hey kenapa kamu malah nangis?" tanya Ghozi sambil menatap heran ke arah Tari yang kini menangis dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
"Aku hanya terharu saja masih ada orang yang menganggapku sebagai gadis yang baik seperti yang kamu katakan." Tari mencari alasan agar Ghozi tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Aku fikir kamu kenapa Tari," sahut Ghozi yang tadi sempat khawatir jika Tati menangis karena ada kata-katanya yang menyakitkan atau menyinggung perasaannya.
"Aku baik-baik saja, hanya saja air mataku ini suka membangkang, keluar sendiri tanpa permisi." Jawab Tari.
"Apa kamu punya tips bagaimana cara cepat menghilangkan rasa cinta pada seseorang? atau cara cepat melupakan orang?" sambung Tari menanyakan tips pada Ghozi sang pemilik hati tapi tidak pernah membalas perasaan Tari.
"Ada cara mudah untuk melupakan seseorang dan cara ini adalah cara paling jitu yang pernah aku tahu," jawab Ghozi.
"Cara apa Ghozi?" tanya Tari sambil menatap penuh rasa penasaran ke arah Ghozi.
__ADS_1