Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Harapan Salma


__ADS_3

Semalaman Kafa memikirkan bagaimana cara melawan dan mengatasi masalahnya bersama Intan hingga tanpa terasa dia terlelap di bangku tunggu depan kamar dimana Salma di rawat.


"Salma!" panggil Intan saat dia tanpa sengaja melihat Kafa terlelap di bangku.


"Iya, ada apa Tari?" sahut Salma.


"Mas Kafa tidur di bangku tunggu depan kamarmu, kasihan dia pasti kedinginan," jawab Tari yang masih memiliki rasa belas kasihan saat melihat orang lain dalam kesusahan.


"Kalau memang kayak gitu kamu kasihkan aja selimutku! biar dia gak kedinginan," usul Salma.


"Mana mungkin aku ngasih selimut aku ke dia, kan kamu masih sakit, sembuh kagak makin parah iya," tolak Tari yang merasa jika ide yang di cetuskan Salma bukanlah ide yang baik.


"Aku cuma kecapek'an Tari, bukan sakit yang parah," elak Salma yang tak ingin di katakan sakit parah oleh Tari.


"Mau kecapean ataupun parah yang namanya sakit ya tetep sakit Salma," sahut Tari.


"Iya, iya, kamu kalau lagi bawel kayak gitu lebih mirip ibu kost yang lagi nagih uang kontrakan tau gak," Salma masih sempat bercanda menanggapi ucapan Tari.


"Biarin yang penting kamu sembuh dulu, apa kamu gak bosen diam di dalam kamar ini aja?" ujar Tari.


"Bosen sih, tapi di sini lumayan enak juga, gak engap kayak di pesantren plus ada banyak makanan yang bisa kita makan di dalam lemari es, jadi berasa orang kaya aku di sini," seru Salma yanh cukup membuat Tari terkejut, bagaimana bisa seorang pasien mengatakan jika di rumah sakit jauh lebih enak dari pada di pesantren.


"Kamu ini aneh, orang kalau masuk rumah sakit itu pengen cepet-cepet pulang lah ini malah sebaliknya bilang enak tinggal di sini," cicit Tari yang merasa aneh dengan apa yang di ucapkan oleh Salma.

__ADS_1


"Aku mengatakan realita yang ada Tari, di kamar ini fasilitasnya lengkap bahkan sangat lengkap sampai TV dan Ac juga ada, dan aku tidak perlu memikirkan biaya yang nanti harus aku bayar setelah keluar dari sini, karena itulah yang membuatku merasa jika di aini lebih enak dari pada di pesantren, coba bayangin aja di pesantren kita tidur udah kayak pepes tongkol, berjajar dan saling berhimpitan," Salma menjelaskan alasan dia mengatakan jika di rumah sakit ini jauh lebih enak dari pada di pesantren.


Tari yang mendengar penjelasan Salma hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata apa-apa lagi, dia mulai memikirkan apa yang di katakan oleh Salma dan semua yang di katakan olehnya memang benar adanya.


"Tapi apa yang kamu katakan memang benar sih, di sini jauh lebih nyaman dan enak, tapi tetap saja sehat itu adalah nikmat yang tidak bisa di bandingkan dengan apapun," Beo Tari.


"Sudahlah, jangan berdebat yang tidak penting, lebih baik kita istirahat sekarang, aku ngantuk," Salma yang mulai merasa sangat mengantuk akhirnya lebih memilih untuk merebahkan diri di atas kasur rumah sakit yang terasa jauh lebih empuk dan nikmat dari pada kasur lantai yang ada di pesantren.


"Lah dia tidur, terus Mas Kafa bagaimana? kan kasihan kalau di biarin aja," gumam Tari tapi masih bisa di dengar oleh Salma karena suasana rumah sakit di malam hari begitu sunyi tanpa suara hingga gumaman yang keluar dari bibir Tari terdengar di telinga Salma.


"Sudah jangan fikirkan dia! sekali-sekali dia merasakan bagaimana susahnya kehidupan, toh selama ini dia selalu nyakitin aku, biarlah dia sedikit kesusahan karena menjagaku yang terus terluka karena ucapan dan sikapnya." Ujar Salma yang membuat Tari mengerti apa yang di maksud dengan Salma, tanpa berdebat lahi kini Tari melangkah menjauh dari tempat tidur Salma kemudian kembali tidur di tempatnya sendiri dan mulai merangkai mimpi yang mungkin akan indah nanti.


Malam terus berlalu berganti siang yang itu berarti mentari telah siap menggantikan tugas sang rembulan juga bintang yang semalam menghiasi langit. Memberikan cahaya juga kehangatan bagi penduduk bumi yang tadinya terlelap kini mulai terbangun karena kehadirannya.


"Ternyata cukup enak juga ya tidur di sini, aku gak perlu lari-lari takut telat ikut jamaah tapi aku bisa langsung tidur lagi setelah sholat," gumam Tari sambil menggeliat pelan.


Tari berdiri berjalan mendekat ke arah Salma yang baru membuka mata.


"Tari aku mau pulang, badanku sudah jauh lebih baik dan tidak sakit lagi," ucap Salma.


"Aku gak bisa ngabulin keinginanmu itu Salma, kalau kamu mau pulang nanti bilang aja ke Kafa, biar dia yang bilang dan konsultasi pada dokter kamu bisa pulang atau tidak," jawab Tar


Salma langsung terdiam dan menunduk setelah mendengar ucapan Tari, tanpa membalas ucapannya lagi kini Salma diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapa Kafa dengan mata panda yang nampak kelas di wajahnya, dia terlihat begitu lelah dan letih, Salma dan Tari beranggapan jika keadaan yang di ali Kafa saat ini di karenakan dia menunggu Salma di luar kamar.


"Waalaikum salam," jawab Salma dan Tari hampir bersamaan.


"Aku mau pergi ke kantin, apa ada sesuatu yang kalian inginkan? atau kalian mau makan apa pagi ini?" tanya Kafa yang terlihat begitu kaku.


"Aku makan apa aja Mas Kafa, yang penting halal, enak dan yang paling penting aku bisa kenyang," jawab Tari apa adanya.


"Tari," lirih Salma sambil melirik Tari yang terlihat biasa saja tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Sorry Salma, aku keceplosan," sahut Tari sambil tersenyum lebar ke arah Salma yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Tari yang tidak pernah bisa berubah.


"Mas Kafa bisa belikan apa saja, kami tidak sedang ingin makan sesuatu kecuali nasi untuk sarapan," ucap Salma dengan nada lembut, selembut sutera.


"Baiklah, sebentar lagi aku akan belikan," sahut Kafa yang kini malah beranjak menuju kamar mandi dan meninggalkan Salma juga Tari di dalam kamar.


"Mas Kafa kalau lagi baik gitu terlihat tampan mempesona ya," bisik Tari lada Salma.


"Sudahlah, kita doain aja biar Mas Kafa itu tetap bersikap manis seperti sekarang dan tidak jahat lagi kayak kemarin," sahut Salma yang ikut berbisik takut Kafa yang jadi topik utama itu mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Amin, semoga saja," jawab Tari seraya mengusapkan kedua telapak tangannya ke arah wajah dengan harapan tekabulnya do'a Salma.


Salma dan Tari terdiam mematung setelah Kafa keluar dari kamar mandi dan melewati keduanya keluar dari kamar, tapi setelah Kafa menutup pintu dan tak lagi terlihat tawa Tari terdengar menggelegar memecahkan kesunyian dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2