
"Apa ini rumahmu, Tari?" tanya Ghozi sambil melihat sekeliling rumah yang nampak sederhana dan biasa saja.
"Lebih tepatnya rumah Ibu tiriku," jawab Tari yang terlihat kurang menyukai sang Ibu Tiri dan apapun yang berhubungan dengannya, sedang Ghozi hanya menganggukkan kepala sambil terus melihat sekitar ruangan hingga Ayah Tari datang.
"Tari," lirih sang Ayah yang tampak terkejut dengan penampilan Tari saat ini.
"Iya, Ayah," jawab Tari yang langsung berdiri meraih tangan Ayahnya kemudian mencium punggung tangannya.
"Sejak kapan kamu berhijab?" Ayah Tari langsung menanyakan apa yang mengusik hatinya, sedang Ghozi ikut berdiri mencium punggung tangan Ayah Tari sebagai tanda jika dia menghormati Tari.
"Sejak aku mengerti jika hidup ini bukan cuma tentang harta dan tahta Ayah," jawaban yang menohok terdengar dari mulut Tari, apa yang di ucapkan Tari sukses membuat Ummi dan Ghozi terkejut, kedua nya sampai melongo setelah mendengar jawaban Tari yang singkat dan menohok itu.
__ADS_1
"Mereka siapa?" Ayah Tari yang merasa jika puterinya tak akan pernah bisa bersikap baik dan bermulut manis itu langsung mengubah topik pembicaraan.
"Perkenalkan saya Pemilik pesantren jannah dan ini putera tunggal pemilik pesantren Assalamu," jawab Ibu yang langsung mengerti dengan keadaan yang terjadi, satu hal yang Ummi mengerti, saat ini Tari sedang menahan emosi yang entah apa penyebabnya, tapi Ummi yakin jika di balik sikap Tari kepada kedua orang tuanya pasti memiliki alasan tertentu.
"Apa? pemilik pesantren Jannah dan Assalam?" sahut Ibu Tari yang terlihat begitu terkejut dengan jawaban Ummi.
"Iya," sahut Ghozi cepat, awalnya Ghozi hanya diam hingga dia mengerti dengan keadaan sekitar.
"Kenapa kalian ke sini? apa anak kami baik-baik saja, atau dia sudah melakukan kesalahan sampai kalian datang kemari?" terlihat jelas jika Ayah Tari kurang menyukai Tari.
"Tidak, kami dtng ke sini untuk meminta restu dan mengharap kehadiran bapak di pernikahan Tari nanti, bukankah Bapak masih sah menjadi wali dari Tari?" sekali lagi Ummi membuat Ayah Tari dan Ibu Tirinya semakin terkejut, bahkan Ibu Tiri Tari terlihat menajamkan mata mendengar jawaban Ummi.
__ADS_1
"Apa kamu serius dengan apa yang baru saja kamu katakan?" sela Ibu Tiri Tari yang terlihat tak memiliki sopan santun itu.
"Tentu saja, kami sangat serius, kami ke sini karena mau bagaimana pun keadaan orang tua Tari, mereka berhak tahu, apa lagi Tari masih membutuhkan Wali agar pernikahannya di nyatakan sah secara hukum dan agama," Ummi mencoba sekali lagi meyakinkan Ayah dan Ibu Tiri Tari yang sejak tadi masih terlihat ragu sampai saat ini.
"Menurut Ibu dan Ayah, bagaimana?" Ghozi yang sejak tadi merasa sedikit geregetan dengan sikap dan reaksi yang di tunjukkan oleh keduanya kini kembali bertanya agar dia segera mendapat jawaban pasti dan bisa segera pulang.
"Kalau aku hanya bisa mengikuti apa yang di inginkan oleh Tari, jika dia setuju dan mau maka aku setuju-setuju saja," jawaban yang sejak tadi ingin di dengar oleh Ghozi.
"Bagaimana denganmu, Tari?" Ummi yang mengerti dengan pertanyaan Ayah Tari langsung memberikan jawaban dengan bertanya langsung kepada Tari di hadapan Tari.
"Aku bersedia, Ummi," satu kata yang cukup membuat Ummi senang.
__ADS_1
"Besok saya mengharap kehadiran kalian di acara pertunangannya Tari dan Ghozi, meski hanya acara sederhana aku berharap kalian mau datang dan memberi do'a restu untuk mereka berdua," tutur Ummi.
"Baiklah, besok aku dan istriku akam datang." Ayah Tari terlihat begitu yakin untuk datang ke tempat pertunangan Tari dan Ghozi, karena itulah Ummi tersenyum senang melihatnya.