Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Salah Faham


__ADS_3

Sebungkus cilok daging dengan toping bawang goreng di tambah saos pedas dan kecap kini sidah ada di tangan Salma, rasanya pasti sangat nikmat apa lagi jika di makan bersama suami tercinta.


"Kamu tunggu di sini!" titah Kafa setelah berada di atas kursi di bawah pohon mangga yang sudah di sediakan panitia untuk para pengunjung yang ingin bersantai menikmati suasana atau hanya sekedar melihat segerombolan orang yang sedang melakukan senam.


"Mas Kafa mai ke mana?" tanya Salma saat melihat Kafa hendak pergi meninggalkan dirinya.


"Aku mau beli minum dulu." Pamit Kafa.


"Baiklah, hati-hati!" pesan Salma.


"Harusnya kamu yang hati-hati! jangan sampai merespon orang yang tidak penting!" pesan Kafa sebelum pergi.


"Iya Mas Kafa, tenang saja! aku sudah biasa di keramaian seperti ini dulu, lagi pula siapa juga yang mau ngajak aku ngobrol," sahut Salma yang mulai merasa jengah dengan apa yang Kafa lakukan.


Kafa langsung berjalan menuju stand es Boba yang banyak di gemari kalangan remaja, kemudian beralih membeli es degan untuk menyegarkan tenggorok'an. Sedang Salma sedang menikmati suasana ramai di sekelilingnya, cukup lama Salma tidak pergi ke tempat ramai seperti saat ini, dulu sewaktu Ibunya masih hidup Salma selalu datang jika ada even seperti saat ini dan berjualan bersama sang Ibu begitu juga dengan Intan yang ikut berjualan bersama dengannya.


Sungguh masa-masa paling indah tapi juga menyedihkan, ekonomi Salma dan Ibunya sangat sulit, jangankan mau makan enak nasi padang yang di tawarka Kafa tadi pagi adalah makanan mahal yang hanya bisa di beli jika semua dagangan Salma habis, begitu juga dengan Intan yang harus berjuang seorang diri, apa lagi jika dagangan yang dia jual masih banyak, Intan akan menumpang makan ke rumah Salma.


Setiap manusia pasti punya kisahnya sendiri, ada yang sedih ada pula yang bahagia, yang pasti sebuah kesusahan itu tidak akan pernah abadi begitu pula dengan kebahagiaan, maka tetap bersyukur adalah jalan terbaik yang bisa di lakukan.


Tak terasa air mata menetes tanpa sebuah perintah, kepingan kenangan kini tengah berbaris rapi untuk saling menyatukan diri agar menjadi sebuah kisah yang akan terngiang dalam fikiran Salma.


"Pakai ini! jangan menangis di depan umum!" suara Ghozi terdengar di samping Salma duduk.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja?" tanya Salma seraya mengambil alih tisu yang di sodorkannya tadi.


"Aku baru beli baju," jawab Ghozi.


"Bajumu yang tadi ke mana?" Salma kembali bertanya.


"Aku buang ke tong sampah," jawab Ghozi santai.


"Di buang? kenapa harus di buang? apa tidak sayang?" Salma terus saja bertanya.


"Tadi terkena tumpahan jus," dengan penuh kesabaran Ghozi menjawab satu persatu pertanyaan Salma tanpa mengeluh.


Tadi Ghozi memakai baju kokoh berwarna putih dan kebetulan terkena tumpahan jus ketika makan, dan sialnya jus yang mendarat indah di baju Ghozi itu jus buah naga, alhasil warna putih yang tadinya terlihat begitu bersih kini terlihat berwarna dan Ghozi yang kurang menyukai hal itu lebih memilih untuk melepas baju dan menggantinya dengan baju yang lain yang sudah dia beli.


Salma hanya bisa menganggukkan kepala mendengar penjelasan Ghozi, bagi Salma Ghozi dan Kafa itu sama saja, sama-sama anak seorang Kiyai pemilik pesantren yang Salma yakini pasti berdompet tebal, hanya saja Ghozi tak pernah menampakkan seberapa tebal dompet yang dia punya.


"Mas Kafa tadi bilangnya mau beli minum dan Mbok Sumik tadi pamit mau jalan-jalan sendiri," jelas Salma.


Salma dan Ghozi kini duduk menghadap ke arah lapangan di mana ada segerombol orang sedang berolah raga di pandu oleh satu orang yang berdiri di atas pentas, suasananya memang cukup bising karena itulah Ghozi duduk tidak terlalu jauh dari tempat Salma duduk agar keduanya bisa mengobrol dnegan baik.


Tapi hal berbeda sedang terjadi di belakang Salma, Kafa yang baru saja selesai membeli es untuknya dan Salma kini berjalan dengan langkah lebar, Kafa tersulut emosi saat melihat Salma tak lagi sendiri, dia terlihat duduk dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal.


"Sungguh menyebalkan, baru aku tinggal sebentar saja dia sudah punya kenalan laki-laki lain, inilah yang membuat aku terpaksa menyuruhnya memakai cadar," sungut Kafa.

__ADS_1


Semakin dekat langkah Kafa menuju Salma maka semakin lebar pula dia melangkah, dengan hati yang menggumpal Kafa mendekat ke araj Salma.


"Khem, sudah aku bilang! jangan dekat dengan lelaki manapun Salma, kenapa sekarang kamu malah mengobrol akrab?" tanya Kafa dengan nada tinggi yang sukses membuat Ghozi tersenyum, ingin rasanya saat ini dia tertawa melihat kelakuan Kafa yang seperti orang kehilangan akal cuma karena melihat Salma duduk dengan laki-laki lain.


Kafa tidak tahu jika yang duduk di samping Salma itu Ghozi, karena Ghozi sudah berganti baju, sedang Salma yang mendapat pertanyaan bernada sentakan hanya terbengong menoleh ke arah Kafa, hatinya ingin mengatakan apa yang terjadi tapi bibirnya begitu keluh dan kaku untuk berucap.


"Kenapa kamu diam seperti itu? apa kamu tidak bisa menjelaskan? hah?" sekali lagi Kafa bertanya dengan nada kasar.


Ghozi masih enggan untuk berbalik, dia tetap pada posisinya membelakangi Kafa, saat ini Ghozi ingin tahu sebesar apa Kafa mencintai Salma, Kafa yanh Ghozi kenal memang posesif kini mulai menunjukkan keposesifannya.


"Eh, i~itu Mas," Salma jafi tergagap karena terkejut dengan nada bicara Kafa.


"Apa?? katakan!" sahut Kafa.


Tanpa banyak berfikir lagi Salma yang tak ingin melihat Kafa semakin emosi dan semakin membuat keributan, Salma langsung menarik pundak Ghozi mencoba memberitahu Kafa kalau yang duduk bersamanya itu Ghozi bukan laki-laki lain seperti yang Kafa tuduhkan.


"Apa Mas Kafa? mau marah lagi? sok silahkan aku dengarkan!" ujar Ghozi tanpa rasa bersalah ataupun dosa.


"Ishh kenapa Neng Salma terburu-buru sih? padahal aku masih ingin lihat Mas kafa marah," sambung Ghozi sambil nyengir kuda.


"Aku gethok juga kepalamu nanti Ghozi," ancam Kafa.


"Maaf Mas Kafa, aku Kan manusia biasa yang akan sangat terhibur saat melihat Mas Kfa salah faham seperti sekarang," ujar Ghozi meminta maaf pada Kafa atas apa yang sudah dia lakukan barusan.

__ADS_1


"Lain kali jangan di i ulangi!" Kafa memberi peringatan pada Salma dang Ghozi.


"Aku tidak melakukan apapun, jadi jangan salahkan aku Mas!" sahut Salma yang tak merasa bersalah karena sejak tadi Kafa sendiri yang salah faham dan marah tanpa alasan.


__ADS_2