
Salma langsung terperanjat kaget mendengar ucapan Kafa yang terdengar begitu pede, mata Salma sukses melebar sempurna mendengar ucapan Kafa yang begitu narsis.
"Alasan apa yang membuat Mas Kafa berkata seperti itu? apa aku pernah menunjukkan gelagat seperti itu? atau apa aku pernah mengatakan jika aku menyukaimu?" Salma mengutarakan pertanyaannya dengan ekspresi wajah mengejek yang di tujukan ke arah Kafa.
Mendengar ucapan Salma membuat Kafa merasa malu, dia hanya diam dan mulai berfikir mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa diam? gak bisa jawab? jadi jangan pernah mengambil kesimpulan yang tidak memiliki dasar," sambung Salma semakin membuat Kafa malu karenanya.
"Sudahlah, aku sudah menanyakan apa yang ingin aku tanyakan, dan kamu boleh pergi dari sini!" ucapan Kafa membuat Salma semakin melotot dan heran.
Salma hanya bisa memutar bola mata malas melihat sikap Kafa yang terkesan seenaknya sendiri. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun selain menuruti permintaan Kafa.
"Baiklah, aku pergi dulu, assalamualaikum," pamit Salma berdiri meninggalkan Kafa yang masih terdiam di tempat.
"Waalaikum salam," jawab Kafa.
Salma tersenyum penuh kemenangan setelah membalas ucapan Kafa kemudian pergi meninggalkannya kembali ke asrama dengan penuh kebahagiaan.
"Salma!" panggil Ummi saat melihat Salma berjalan melewati ruang keluarga.
"Iya, Ummi," jawab Kafa.
"Kamu dari mana?" tanya Ummi merasa aneh melihat Salma berjalan dari halaman belakang.
"Tadi di panggil Mas Kafa," jawab Salma jujur.
Ummi langsung tersenyum mendengar jawaban Salma yang mengatakan jika dia habis menemui Kafa.
"Ada apa Kafa manggil kamu?" tanya Ummi yang mulai kepo dengan urusan sang putera.
"Tidak ada apa-apa Ummi, hanya membicarakan hal kecil saja," jawab Salma dengan senyum yang mengembang menunjukkan jika dirinya sedng baik-baik saja.
"Syukurlah jika memang tidak ada apa-apa," ujar Ummi yang ikut tersenyum bahagia melihat senyuman Salma.
"Setelah ini kamu mau ke mana Salma?" tanya Ummi.
"Salma mau balik ke asrama Ummi, memangnya ada apa?" tanya Salma.
__ADS_1
"Hari ini Ummi mau buat rempeyek kacang untuk Kafa, kalau Ummi minta bantuan kamu bagaimana? apa kamu mau?" ujar Ummi.
"Tentu saja aku mau Ummi," jawab Salma.
"Ayo ke dapur!" ajak Salma.
Salma tersenyum menanggapi ucapan Ummi sambil berjalan mengikuti langkahnya menuju dapur untuk membuat rempeyek kacang kesukaan Kafa.
"Salma bantu Ummi mengupas kacangnya!" pinta Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Salma.
Dengan penuh semangat Salma membantu Ummi mengupas kacang dan membuat rempeyek kacang untuk Kafa hingga satu toples besar rempeyek sudah matang.
"Alhamdulillah, semua sudah siap," ujar Ummi.
"Alhamdulillah ya Ummi, akhirnya selesai juga," sahut Salma.
Salma yang merasa sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia langsung berpamitan pergi meninggalkan Ummi di dapur menuju asrama untuk membersihkan diri, karena membuat rempeyek itu membutuhkan waktu dan tenaga yang ekstra, butuh kesabaran ekstra untuk membuatnya agar selesai dengan sempurna.
Saat ini sudah menunjukkan jam empat sore, dan di jam seperti ini sebagian besar santri banyak yang mandi, alhasil kamar mandi yang biasanya sepi akan berubah menjadi sangat ramai saat ini.
"Salma!" suara seorang gadis yang sejak tadidia cari akhirnya terdengar saat Salma sampai di kamar mandi.
"Astaga Tari, aku tadi mencarimu. Aku kira kamu ada di mana? gak tahunya sudah nangkring di sini aja," sahut Tari.
"Di kira ayam kali aku pakai nangkring segala," bela Tari yang membuat Salma tersenyum lucu.
"Kamu mau ngapain ke sini?" sambung Tari.
"Kalau orang mau ke kamar mandi itu biasanya ngapain, Tari?" sahut Salma dengan nada gemas menatap Tari yang bertanya dengan ekspresi wajah polos tanpa dosa, padahal apa yang. di tanyakannya adalah pertanyaan konyol.
"Aku kira kamu cuma mau nyariin aku, kenapa gak mandi di kamar mandi ndalem Salma?" tanya Tari.
"Ishhh, mana bisa mandi di sana kalau gak di suruh ataupun dapet izin dari Ummi, bisa-bisa aku di tegur lagi sama si mata tajam," jawab Salma.
Sejak kejadian di restauran Salma memanggil Kafa dengan sebutan si mata tajam, dan sebutan itu terkadang membuat Tari tersenyum geli mendengarnya, sungguh Tari tak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti jika Kafa dan Salma menikah sedang sang suami sering sekali menatap tajam ke arah Salma.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Salma seraya menatap heran ke arah Tari yang terlihat tersenyum lucu menatap ke arahnya.
"Aku tidak apa-apa, hanya lucu saja," jawab Tari semakin membuat Salma heran.
"Lucu? memangnya apa yang lucu? perasaan tak ada apapun yang lucu di sini," ujar Salma menatap heran ke arah Tari yang masih tersenyum tidak jelas di hadapannya.
"Aku cuma bayangin bagaimana jadinya rumah tangga kamu nanti, yang satu lemah lembut dan yang satu suka sekali melotot dan menatap dengan tatapan tajam," Tari menjelaskan alasan dia tersenyum sendiri.
"Tidak ada yang lucu Salma, aku tidak akan menyerah begitu saja jika di tindas oleh si mata tajam, enak saja, aku juga punya hak untuk bahagia," ujar Salma dengan semangat dan kepercayaan diri yang terpancar dan berkobar-kobar di wajahnya.
"Kita lihat saja nanti, jika kalian memang di taksirkan bersama maka aku akan lihat di antara kalian siapa dulu yang akan jatuh hati, si mata tajam atau malah kamu Salma," seru Tari yang juga menunjukkan semangat yang berkobar tak kalah dengan semangat yang di tunjukkan oleh Salma.
"Oke, kita lihat saja nanti," ucap Salma menantang ucapan Tari.
"Eh Tari, kamu udah dapet antrian belum?" sambung Salma.
"Udah, kenapa? mau ikut antrian atau mau mandi sebelum aku?" tawar Tari.
"Ya ampun, sahabatku ini memang paling tahu apa yang aku inginkan dan paling mengerti dengan kebutuhanku," puji Salma, sedang Tari yang mendengar pujian Salma hanya bisa memutar bola mata malas saat mendengarnya, karena Salma terlalu sering mengatakannya ketika dia mendapat bantuan dari Tari.
"Kamu harus bersyukur punya sahabat seperti aku, nanti kalau santri di kamar mandi nomor dua sebelah kanan sudah keluar, kamu bisa masuk dan mandi setelahnya!" jelas Tari yang sangat mengerti jika Salma pasti belum sholat ashar dan jika dia masih mencari antrian maka bisa di pastikan jika dia tidak akan bisa sholat ashar karena kehabisan waktu.
"Wah, terima kasih sahabatku," ujar Salma tersenyum manis ke arah Tari.
"Sudah gak usah senyum gitu! gak ngaruh juga kali," sahut Tari cuek.
-
-
-
-
Kakak2 maaf ya kalau kedepannya aku telat atau cuma update sedikit, hari ini aku melahirkan alhamdulillah, lahirannya normal dan lancar, jadi gak bisa nulis sebanyak biasanya, tapi aku bakal usahain tetap up tiap hari. mohon do'anya ya kak, biar semuanya sehat, dan terima kasih sudah berkenan mampir dan baca cerita aku, lope2 untuk kalian semua 😍😍😘😘😘😇
karena dukungan kalian membuatku tetap semangat. 🤗🤗🤗
__ADS_1