
Setelah mengerti dengan apa yang di katakan olrh Tari, Salma langsung berjalan keluar dari kamar menuju rumah Ummi dan langsung masuk ke dalam kamar karena keadaan rumah memang sepi seperti tak berpenghuni.
"Astaghfirullah hal adzim," spontan Salma kemudian berbalik badan dan menutup wajahnya setelah melihat pemandangan tak terduga di depan wajahnya.
"Ngapain kamu berbalik? bukannya masuk, cepat masuk dan tutup pintunya! sebelum ada orang lain lewat," titah Kafa yang gemas melihat tingkah Salma saat ini.
"Astaghfirullah," lirih Salma yang langsung masuk dan menutup pintu dengan kepala yang menunduk.
"Kenapa tidak pakai baju? karena Mas Kafa mata suciku jadi ternodai," ujar Salma yang masih setia menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Salah sendiri masuk kamar gak ketuk pintu, main masuk seenak jidatnya aja," sahut Kafa berjalan tanpa dosa ataupun rasa bersalah sedikitpun pada Salma, saat ini Kafa memang sedang tidak memakai baju, fia hanya memakai celana pendek yang biasa dia pakai daleman sarung.
"Apa Mas Kafa lupa jika sekarang kamar ini juga jadi kamarku?" Salma memulai perdebatan karena tak mau di salahkan oleh Kafa.
"Apa kamu juga lupa kalau sekarang aku ini suamimu?" balas Kafa yang cukup membuat Salma mati gaya dan tak lagi bisa menjawab ucapan Kafa.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat bukanlah hal yang dilarang, jadi bereaksi biasalah saat melihatku seperti tadi, jangan berlebihan! norak tau," ledek Kafa dan Salma cukup emosi mendengar ledekan Kafa, dia hanya bisa menghembuskan nafas kasar sebagai pelampiasannya.
Salma tidak lagi memperdulikan Kafa, dia mulai mengemas semua barang yang akan dia bawa ke dalam koper yang di berikan oleh Kafa tadi pagi.
"Mas Kafa mau bawa apa saja besok?" tanya Kafa saat Salma sudah menyiapkan barang yang akan dia bawa.
"Aku tidak perlu bawa apa-apa, cukup bawakan satu setel baju kokoh dan kaos untuk ganti di perjalanan!" jawab Kafa seraya duduk di sofa dekat jendela dengan laptop yang ada di pangkuannya.
"Salma!" panggil Kafa setelah dia selesai mengerjakan pekerjaannya dan melihat Salma yang juga sudah selesai dengan acara beres-beresya.
"Kemarilah!" Kafa kembali memberi perintah agar Salma mendekat ke arahnya dan menunjuk kursi yang ada di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Salma saat dia sudah duduk di hadapan Kafa.
"Ini untukmu." ucap Kafa sambil memberikan kartu kecil bertuliskan ABC yang Salma tahu tempat penyimpanan uang.
__ADS_1
"Kartu ini untuk apa Mas Kafa?" Salma kembali bertanya pada Kafa tentang kartu yang di berikan oleh sang suami.
"Itu uang belanjamu, aku akan kirim sejumlah uang ke dalam kartu itu, pergunakan dengan baik, karena Mbok Sumik akan pulang satu minggu setelah kita berada di sana,"
Bukannya menampakkan wajah bahagia karena telah mendapatkan sebuah kartu dambaan para wanita, kartu yang tidak akan pernah habis meski Salma belanja apapun yang dia inginkan.
"Maaf sebelumnya, bukannya aku mau menolak ataupun protes dengan pemberian Mas Kafa, tapi ~" ucapan Salma terpotong, terlihat jelas di wajah Salma jika saat ini dia tengah takut bercampur gelisah.
"Kamu kenapa?" tanya Kafa sambil menatap aneh ke arah Salma yang masih setia diam tanpa kata dengan wajah yang gelisah.
"Em~ aku," Salma masih ragu untuk mengtakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan! jangan membuatku bingung dan penasaran dengan apa yang kau fikirkan saat ini!" Kafa terdengar begitu emosional melihat kediaman Salma.
"Maaf, aku belum pernah memegang ataupun punya kartu yang seperti ini? jadi aku bingung cara mempergunakannya," jujur Salma yang terharu bercampur bingung.
__ADS_1