Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Salma Memilih Mbok Sumik


__ADS_3

"Aku terpaksa Mbok," jawab Salma jujur.


Mendengar jawaban Salma membuat Mbok Sumik penasaran dengan apa yang terjadi, dia terus berjalan di samping Salma agar dia bisa bertanya lebih detail tentang apa yang sebenarnya terjadi, terkadang Mbok Sumik juga berprofesi sebagai reporter khusus untuk Ummi.


"Masuklah!" Kafa membukakan pintu depan agar Salma masuk.


"Maaf Mas Kafa, aku di belakang saja bareng Mbok Sumik. Biar Ghozi yang di depan," jawab Salma yang tak ingin duduk di samping Kafa, saat ini Salma merasa nyaman bersama Mbok Sumik.


"Baiklah, terserah kamu!" sahut Kafa yang tak ingin berdebat dengan Salma, dia tahu dengan pasti jika saat ini Salma sedang tak enak hati gara-gara cadar yang di pakaikannya.


"Ghozi, tolong pindah ke depan, aku mau duduk di belakang bersama Mbok Sumik," pinta Salma yang langsung di turuti oleh Ghozi, bagi Ghozi duduk di depan ataupun belakang sama saja, yang penting sampai di tempat tujuan dengan selamat.


"Siap," sahut Ghozi yang langsung keluar dari mobil dan masuk kembali duduk di kok bagian depan sesuai dengan permintaan Salma.


"Ayo masuk Mbok!" ajak Salma.


Mbok Sumik hanya tersenyum menanggapi ajakan Salma sambil masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Salma duduk.


"Neng Salma kenapa?" bisik Mbok Sumik, suara Mbok Sumik di pelankan agar Kafa dan Ghozi tak mendengar apa yang sedang di bicarakan keduanya.


Benar saja Kafa dan Ghozi tak mendengar perbincangan Salma dan Mbok Sumik, selain karena mereka duduk di jok depan dan sedang serius menyetir, suara musik juga membuat suara Mbok Sumik tak terdengar.


"Aku merasa jengkel dengan Mas Kafa, Mbok," jawab Salma yang ikut berbisik agar tak terdengar oleh yang lain.


"Jengkel kenapa? ingatlah anakku! dua suamimu dan kamu harus menghormati dan mematuhi semua yang dia perintah selagi itu baik," sahut Mbok Sumik.


"Mas Kafa memakaikan cadar ini dengan alasan aku tidak boleh memperlihatkan wajahku di tempat umum karena tadi aku memolesnya, padahal aku hanya memakai sedikit lipglos dan bedak juga sedikit maskara, aku tidak dandan menor Mbok, tapi Mas Kafa malah menceramahiku, katanya aku di larang dandan kalau keluar rumah, aku hanya boleh dandan kalau sedang di rumah atau ketika aku menyambutnya pulang kerja," Salma menceritakan segala yang telah terjadi dan Mbok Sumik malah tersenyum lebar ke arah Salma.


"Loh, Mbok kok senyum sih?" tanya Salma menatap aneh ke arah Salma.


"Kamu kurang peka atau kamu memang tidak mengerti Neng Salma?" bukannya menjelaskan Mbok Sumik malah balik bertanya.

__ADS_1


"Maksud Mbok bagaimana? aku tidak mengerti," sekali lagi Salma di buat bingung oleh Mbok Sumik.


"Maksud Mbok, apa Neng Salma tidak tahu kalau Mas Kafa itu sedang cemburu padamu," jelas Mbok Sumik.


"Mas Kafa tidak ingin orang lain melihat Neng Salma yang begitu cantik setelah dandan di lihat oleh laki-laki lain selain dirinya," jelas Mbok Sumik.


"Bagaimana dengan Ghozi? bukankah Ghozi juga laki-laki lain? dia juga bukan muhrimku ataupun saudara Mas Kafa," Salma mengungkapkan pendapatnya.


"Tentu berbeda Neng Salma, kalau Ghozi sudah biasa melihat Neng Salma dan dia tidak akan merebut Neng Salma dari Mas Kafa karena tugas dia melindungi Neng Salma dan tugas itu Ummi yang memberikan, itu artinya Ummi sudah percaya pada Ghozi yang hanya akan menjaga Neng Salma tanpa niat merebut Neng Salma dari Mas Kafa, tapi akan berbeda jika Neng Salma berpenampilan cantik di hadapan laki-laki lain yang berpotensi buruk nantinya," Mbok Sumik kembali menjelaskan apa yang ada di dalam fikirannya.


Salma terdiam setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Mbok Sumik, fikirannya sedang bekerja keras menerima setiap kata yang di ucapkan oleh Mbok Sumik.


"Apa benar seperti itu, Mbok?" Salma mencoba meyakinkan dirinya sendiri atas apa yang di katakan oleh Mbok Sumik.


"Tentu saja benar, Neng," jawab Mbok Sumik dengan penuh keyakinan.


"Coba Neng Salma fikirkan! untuk apa Mas Kafa repot-repot mencari cadar dan memakaikannya ke Neng Salma jika bukan untuk melindungi Neng Salma dari laki-laki yang akan mengganggumu, dan yang paling penting Mas Kafa tidak ingin Neng Salma tergoda dengan laki-laki lain, dan itu artinya Mas Kafa sangat mencintai Neng Salma," Mbok Sumik kembali menjelaskan maksud dari Mas Kafa yang memakaikan cadar ke Salma.


"Apa itu artinya Mas Kafa takut kehilangan aku ya?" tanya Salma.


Salma hanya diam setelah mendengar jawaban Mbok Sumik, dia lebih memilih memandang jalanan yang terlihat di balik jendela sembari meresapi setiap kata yang di ucapkan oleh Mbok Sumik.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang terlihat tak terlau ramai padahal hari ini hari minggu.


"Ayo turun!" ajak Mbok Sumik seraya mencolek lengan Salma yang terlihat diam mematung dan sibuk dengan fikirannya sendiri.


"Eh, iya Mbok," sahut Salma ikut keluar dari mobil mengikuti langkah Mbok Sumik.


"Kita mau makan apa?" tanya Ghozi menatap penjual makanan yang begitu banyak berjajar di tepi jalan.


"Bagaimana kalau kita makan nasi padang saja?" usul Kafa seraya melirik ke arah Salma yang terlihat sibuk memperhatikan sekelilingnya.

__ADS_1


"Aku setuju, bagaimana dengan Mbok Sumik dan Neng Salma?" tanya Ghozi.


"Mbok Sumik tidak apa-apa makan Nasi padang?" Salma justru bertanya pada Mbok Sumik, dia khawatir kalau Mbok Sumik tidak bisa makan Nasi padang.


"Apa aku boleh makan nasi jagung saja?" tawar Mbok Sumik, dia tidak berani makan nasi padang karena memiliki riwayat penyakit kolesterol dan tidak bisa makan nasi pladang.


"Tentu saja Mbok, ayo kita makan nasi jagung!" Salma menarik lengan Mbok Sumik tanpa memperdulikan Ghozi dan Kafa yang berdiri di dekatnya.


Sedang Kafa dan Ghozi saling menatap satu sama lain, keduanyanmenatap heran satu sma lain, sikap seenaknya yang di tunjukkan Salma membuat Kafa dan Ghozi bingung, tapi beberapa detik kemudian keduanya berjalan melangkah dengan langkah lebar menyusul Salma sudah berjalan agak jauh dari keduanya.


"Salma Tunggu!" panggil Kafa mencoba menghentikan langkah Salma dan Mbok Sumik.


"Apa?" sahut Salma menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ghozi dan Kafa.


"Tunggu!" Kafa kembali berucap.


"Kenapa kalian malah mengikutiku?" tanya Salma yang kini bergantian menatap aneh ke arah Ghozi dan Kafa.


"Kita makan bersama." Jawab Kafa.


"Loh kenapa kita harus makan bersama? bukankah kalian ingin makan nasi padang?" tanya Salma.


"Tidak jadi," sahut Fhozi dengan cepat.


""Terus kalian mau ngapain ngikutin kita?" Salma kembali bertanya.


"Kami akan makan bersamamu." Kali ini Kafa yang menjawab.


"Kalian serius?" Salma terlihat ragu dengan keputusan yang di buat oleh keduanya.


"Tentu saja kami serius," Ghozi kembali meyakinkan Salma dengan keputusan yang dia buat.

__ADS_1


"Kami mau akan nasi jagung, apa kalian mau makan nasi jagung?" Salma masih saja terlihat ragu, meski Ghozi dan Kafa sudah berusaha keras untuk meyakinkannya.


"Iya, sudah jangan banyak bertanya! Lebih baim sekarang kita jalan untuk beli nasi jagung," ujar Kafa meraih jemari tangan Salma tanpa permisi dan berjalan pelan menuju gerai yang menjual nasi jagung.


__ADS_2