
"Sotonya enak," cicit Ghozi.
Saat ini dia berusaha keras mengalihkan pandangannya dan menghilangkan rasa khawatir yang menelusup ke dalam hati Ghozi setelah melihat tatapan tajam Kafa, sedang Salma masih acuh tak mau memperdulikan Kafa, sungguh suasana makan yang tidak menyenangkan bagi ketiga insan yang sedang berada dalam suasana yang cukup mencekam.
Apa yang di rasakan Intan, Ghozi dan Kafa sangat berbeda dengan apa apa yang di rasakan oleh Intan, dia merasa sangat puas dan senang bisa membuat Kafa tercengan kaget melihatnya seperti tadi, Intan akui jika Salma memang ahli membuat orang lain kagum padanya.
"Salma, ajarkan aku hal lain yang mungkin bisa membuatku jauh lebih baik lagi dari sekarang!" pinta Intan yang di balas senyuman oleh Salma.
"Aku akan mengajarkan apapun yang ingin kamu ketahui, tapi apa yang ingin kamu ketahui itu harus hal yang baik, karena aku sendiri hanya tahu tentang kebaikan," jawab Salma membuat senyum Intan terlihat begitu manis dan tulus.
"Sudah jam segini, aku harus pulang dan beristirahat untuk melihat pertandingan nanti malam, Honey! aku pulang dulu. Sampai ketemu nanti malam," pamit Intan melenggang pergi meninggalkan rumah Kafa.
"Mas Kafa mau ke mana nanti malam?" kini giliran Kafa yang harus di interogasi oleh Salma.
Kafa yang sejak tadi diam karena masih merasa marah dengan sikap Salma yang perhatian pada Ghozi kini diam tanpa suara, dia lebih memilih berdiri meninggalkan Salma masuk ke dalam kamar dari pada menjawab pertanyaan Salma.
"Mas Kafa kenapa?" tanya Salma yang kini menatap Ghozi penuh dengan rasa bersalah.
Dan Ghozi yang mengerti alasan di balik kemarahan Kafa hanya bisa mengedikkan bahu acuh karena dia tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan Kafa dan Salma, sudah cukup Ghozi menjadi bahan pembalasan bagi Salma atas apa yang sudah di lakukan oleh Kafa.
Ghozi yang tak ingin terlalu ikut campur masalah rumah tangga Kafa memilih melenggang pergi meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarnya untuk mengecek keuangan resatauran yang kini di percayakan padanya oleh Abinya.
"Kenapa mereka semua jadi aneh begini?" keluh Salma duduk di kursi meja makan menatap kosong sisa makanan yang belum habis tadi.
__ADS_1
Melihat keadaan yang sudah sepi dan rasa cemburu yang sebenarnya masih tersisa membuat Salma bingung, tapi di sisi lain Salma masih penasaran dengan alasan Kafa yang terlihat marah, tak mau banyak berfikir akhirnya Salma memutuskan untuk pergi ke kamar.
Salma berjalan masuk ke dalam kamar menyusul langkah Kafa yang mungkin sudah sampai di kamar sejak tadi.
'Ceklek'
Pintu kamar terbuka, nampaklah Kafa yang sedang duduk diam di sofa yang berada di dekat jendela, Kafa terdiam menatap lurus kedepan tanpa peduli pada Salma yang baru saja masuk.
"Mas Kafa!" panggil Salma lembut seraya duduk di samping Kafa mencoba mendekat dan berbicara apa yang sebenarnya terjadi.
"Mas!" Salma kembali memanggil Kafa yang tak merespon panggilan Salma.
"Hm," sahut Kafa singkat tanpa menoleh ke arah Salma yang duduk di sampingnya.
"Kamu fikir saja sendiri!" sahut Kafa dingin.
"Setiap rumah tangga pasti ada selisih faham atau kesalahan yang di lakukan oleh salah satu pasangan kita, alangkah baiknya jika ada yang menjelaskan dan memberi tahu apa yang sudah aku lakukan sampai Mas Kafa bersikap demikian padaku?" Salma mencoba bertanya pada Kafa dengan harapan dia mau menjelaskan apa yang sudah dia lakukan agar Salma bisa memperbaikinya.
Menyerah sudah melihat sikap dingin dan acuh yang di tunjukkan oleh Kafa membuat Salma menyisihkan rasa cemburunya dan terus bertanya agar Salma tahu ke mana Kafa akan pergi nanti malam dan Salma juga mengerti kesalahan apa yang telah dia perbuat.
"Lain kali jangan pernah menyiapkan ataupun mengambilkan makanan untuk laki-laki lain selain aku saat kita makan bersama!" Kafa memberi peringatan agar Salma lebih bisa menjaga diri dan tidak melakukan hal-hal yang bisa menyakiti ataupun menyinggung perasaannya.
'Astaghfirullah, ternyata cuma soal mengambilkan makanan yang jadi masalah, apa Mas Kafa tidak sadar kalau apa yang di lakukannya tadi juga menyakiti perasaanku?' batin Salma.
__ADS_1
"Menatap gadis lain yang bukan muhrim hukumnya juga haram, apa lagi kalau sampai janjian bertemu di malam hari, astaghfirullah, bagaimana itu hukumnya?" sindir Salma dengan nada yang penuh penekanan.
"Baiklah, aku mengaku salah karena tidak memberitahukan kamu jika aku akan bertemu dengan Intan nanti malam, percayalah aku tidak membuat janji temu hanya berdua dengan Intan, aku ke sana juga sudah membuat janji dengan sepupunya Intan dan teman-teman yang lain," jelas Kafa dengan ekspresi penuh harap, Kafa berharap Salma bisa mengerti dan memaklumi apa yang baru saja dia jelaskan.
"Aku ingin ikut bersamamu nanti malam," ucap Salma yang cukup membuat Kafa terkejut karenanya.
Sangat tidak mungkin Kafa mengajak Salma ke arena balap nanti malam, iya Kafa membuat janji temu untuk ikut bertanding balap motor bersama geng yang dia tinggalkan selama dia pergi ke pesantren.
"Kenapa diam? Mas Kafa tidak mau mengajakku nanti malam," Salma kembali berbicara, Salma masih berusaha keras agar mendapat izin untuk ikut, jika tidak di izinkan setidaknya Salma ingin Kafa tidak pergi, entah mengapa hatinya tak rela jika Kafa pergi dan bertemu dengan Intan nanti malam.
"Aku tidak mungkin mengajakmu ke sana Salma, terlalu berbahaya jika kamu ikut," jujur Kafa.
"Berbahaya karena aku pasti akan mengganggu kalian berdua," ujar Salma berdiri dan hendak pergi meninggalkan Kafa, tapi Kafa yang sigap tak ingin Salma pergi begitu saja, Kafa langsung memeluk Salma dari belakang.
Apa yang di lakukan Kafa benar-benar membuat Salma terdiam, dia mematung di tempat mendapat pelukan tiba-tiba dari Kafa. Ada aliran aneh mengalir indah dalam tubuh Salma menuntut sebuah sentuhan yang lebih dari sekarang.
"Maaf, aku tidak mungkin mengajakmu ke sana, semua itu demi keselamatanmu Salma, aku tidak mungkin membahayakanmu atau mengajakmu ke tempat yang tidak pantas bagi seorang wanita yang baik sepertimu," helas Kafa.
"Jika aku tidak boleh ikut maka Mas Kafa juga jangan pergi!" sahut Salma tak ingin kalah dengan Kafa.
"Tidak bisa Salma, aku sudah berjanji, maka aku harus menepati janjiku," ucap Kafa.
Kafa memang sudah berjanji untuk datang dan bertanding nanti malam, tapi Salma terlihat berusaha mencegah kepergian Kafa.
__ADS_1
"Mas Kafa bilang jika di sana bukan tempat wanita baik sepertiku, dan itu artinya di sana banyak gadis tidak baik yang selalu menggoda iman, bagaimana bisa Mas Kafa pergi ke sana tanpaku? bagaimana kalau yang ada di posisi Mas Kafa saat ini aku? bagaimana kalau aku yang pergi ke tempat di mana di sana tidak ada laki-laki baik sepertimu? apa Mas Kafa mengizinkanku?" tanya Salma.