
Setelah puas menatap wajah sang istri dan mencurahkan segala rasa yang tengah Kafa rasakan, kini Kafa beranjak pergi menuju kamar mandi membersihkan diri dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah Kafa melaksanakan kewajibannya kini waktunya Kafa menyiapkan air hangat untuk Salma mandi sesuai dengan apa yang dia katakan tadi malam, Kafa bukan tipe orang yang suka ingkar janji, maka dari itu setelah menunaikan kewajibannya kini Kafa mulai melaksanakan janjinya.
"Sayang, bangun!" bisik Kafa sambil mengusap lembut lengan Salma yang terlihat begitu lelah.
"Sayang," Kafa kembali memanggil Salma mencoba membangunkannya.
"Sayang!" kali ini suara Kafa sudah naik satu oktaf karena Salma tak kunjung bangun.
"Ooaaammm aahh," Salma menguap selelbar-lebarnya sambil menggeliat pelan di atas kasur merasakan sesuatu telah mengusik tidur lelapnya.
Perlahan Salmaa membuka mata mencoba bangun dan melihat apa yang telah mengganggunya, hingga dia terbangun dari tidur ternyaman yang pernah di rasakan oleh Salma.
"Mas Kafa," lirih Salma menarik selimut dan kembali tidur memejamkan mata tanpa peduli pada Kafa yang berdiri dengan sedikit menunduk mencoba membangunkannya sejak tadi.
"Astaghfirullah, anak ini kenapa malah tidur lagi?" keluh Kafa.
Tanpa berbicara lagi Kafa langsung mengangkat tubuh ringan Salma yang memang memiliki berat badan yang hanya berada di kepala empat.
"Astaghfirullah," spontan Salma setelah Kafa di gendhong oleh Kafa.
"Mas Kafa mau ngapain? jangan di gendong seperti ini! turunin Mas," pinta Salma yang kini memberontak dalam gendongan Kafa.
"Diamlah! atau kamu mau kita lakukan lagi apa yang sudah kita lakukan semalam?" ancam Kafa.
"Tapi kenapa harus di gendong segala? aku bisa jalan sendir Mas," elak Salma.
__ADS_1
"Kamu yaakin mau jalan sendiri?" tanya Kafa dengan tatapan mencurigakan yang tidak dapat di artikan oleh Salma.
"Tentu saja, kalau cuma jalan aku pasti bisa Mas Kafa," balas Salma yang merasa sedikit eisih jika harus di gendong, padahal dia hanya perlu berjalan sebentar untuk ke kamar mandi, jarak antara tempat todur dan kamar mandi juga tidak terlalu jauh juga.
"Baiklah, sekarang aku turunkan, tapi jangan mengeluh jika ada sesuatu yang kurang nyaman kamu rasakan," Kafa mencoba memperingatkan dan akhirnya dia lebih memilih menurunkan Salma dari pada harus berdebat di pagi yang indah itu.
"Auuu," bebar saja, Salma langsung merintih sesaat setelah dia di turunkan dan Salma baru berjalan satu langkah terasa ada yang mengganjal dan sedikit perih di bawah sana.
"Astaghfirullah, apa yang sudah terjadi? kenapa jadi sakit seperti ini Mas?" tanya Salma sambil memegang ala yang terasa sakit di bawah sana.
"Kenapa jadi perih dan mengganjal seperti ini?" tanya Ghozi.
"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu sejak tadi, tapi kamu tidak mau percaya, ya sudah aku biarkan kamu berjalan sendiri, sekarang tahukan alasan kenapa aku menggendongmu?" ujar Kafa yang di balas anggukan penyesalan dari Salma.
"Sekarang kamu maunya bagaimana?" sambung Kafa yang merasa tidak tega dengan Salna, bagaimanapun keadaannya semua yang terjadi pada Salma karena perbuatannya.
"Gendong aku seperti tadi, Mas," pinta Salma yang merasa jika dirinya masih merasa kurang nyaman untuk berjalan.
"Siap Kang Mas, aku akan lakuin apapun yang Mas Kafa suruh," jawab Salma dengan senyum yang merekah.
"Bagus, sudah sana berendam! atau perlu aku temani?" tawar kafa serayamengedipkan mata mencoba menggoda Salma.
"Tidak terima kasih, aku hanya perlu di antarkan?" tolak Salma dengansenyum yang merekah di bibirnya.
Kafa hanya tersenyum lucu melihat reaksi Salma, lagi pula dia tak ada niat untuk melakukan hal yang semalam, bukan karena Kafa tak ingin tapi dia tidak mau melihat salma semakin merasa sakit dan semakin bingung.
Kafa melenggang pergi meninggalkan kamar menuju dapur, tanpa ada rasa gengsi lagi Kafa mulai membuat susu hangat dan beberapa camilan pengganjal perut untuk Salma dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar. Usai masuk terlihat Salma sedang mengerjakan sholat sesuai dengan apa yang di minta oleh Kafa.
__ADS_1
'Betapa tenangnya hatiku saat melihatmu menjalankan kewajibanmu dan menutup aurat yang memang harus kau tutupi, aku merasa menjadi laki-laki spesial saat kamu membuka hijab di hadapanku karena hanya aku yang bisa melihat rambut indah milikmu dan menatap mulusnya lehermu, sungguh tak ada lagi hal lain yang membuatku memungkiri nikmat yang di berikan padaku,' batin Kafa menatap indah Salma yang sedang menjalankan sholat subuhnya.
Kafa terus saja menatap Salma hingga dia selesai sholat dan berjalan mendekat ke arah Salma dengan langkah pelan nan anggun.
"Bagaimana? apa masih sakit?" tanya Kafa penuh perhatian.
"Sudah tidak terlau sakit Mas, setelah berendam tadi rasa sakitnya sedikit berkurang," jawab Salma yang kini duduk di samping Kafa.
"Mas Kafa sedang apa di sini?" tanya Salma.
"Menatap bidadari surga yang kini menjadi ratu di hati dan rumahku," jawab Kafa seraya menatap lekat ke arah Salma.
"Mas Kafa ngomong apa sih? pagi-pagi sudag ngelantur," sahut Salma merasa aneh dengan sikap dan ucapan Kafa.
"Aaku mengatakan apa yang kamu tanyakan Salma, apa salah kalau aku menjdaikanmu bidadari bumi yang berhasil aku jadikan istri dan aku nobatkan kamu sebagi ratu dalam hati dan rumahku yang akan menjadi istana kita dan tempat tinggal anak-anak kita nanti?" tanya Kafa dengan senyummanis yang dia tampakkan pada Salma.
"Sudahlah Mas, jangan bicara yang aneh-aneh! apa Mas sudah sholat subuh?" tanya Salma.
"Sudah, aku juga sudah buatkan susu hangat dan membawakan satu toples cemilan untuk mengganjal perutmu," Kafa berdiri dan berjalan mendekat ke arah nakas yang berada tak jauh dari tempatnya duduk tadi.
"Ini, makanlah!" titah Kafa.
"Bagaimana kalau kita makan di balkon kamar? aku rasa duduk menikmati udara subuh seperti ini akan terasa jauh lebih nikmat," usul Salma.
"Kamu benar juga, ayo ke balkon!" ajak Kafa.
"Sini biar aku yang bawakan nampannya!" pinta Salma saat melihat Kafa membawa nampan berisi secangkir kopi, segelas susu coklat dan satu toples biskuit.
__ADS_1
"Tidak usah! biar aku yang membawakannya, kamu jalan saja duluan!" jawab kafa melarang Salma membawakan nampan yang ada di tangan Kafa.
Salma tak lagi memaksa Kafa untuk memberikan nampan yang dia bawa pada dirinya, dia hanya menurut tanpa protes, dan berjalan menuju balkon kamar menikmati cuaca subuh dengan satu nampan makanan yang di bawakan oleh Kafa, sungguh suasana subuh yang sangat indah dan penuh sejarah, pasalnya baru kali ini Kafa menyiapkan minum ataupun makan untuk Salma, meskipun hanya setoples biskuit dan segelas susu, tetap saja hal itu memiliki kesan tersendiri bagi Salma yang belum pernah mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari Kafa sebelumnya.