Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Salma Sakit


__ADS_3

Kafa menikmati satu cangkir kopi yang tadi telah di buatkan oleh Mbok Sumik seraya menyalakan televisi menikmati siaran berita yang ada.


"Astaghfirullah, zaman sudah akhir," lirih Kafa saat melihat berita tentang seorang Ibu yang tega membunuh buah hatinya sendiri.


"Zaman memang sudah akhir Mas Kafa, bukan hanya Ibu yang tega menyakiti anaknya, seorang ayahpun juga ada yang tega merusak masa depan puterinya," sahut Ghozi saat melihat berita tentang kasus pembunuhan yang di lakukan oeh Ibu kandungnya yang kini menjadi gila karena perbuatannya itu.


Kafa hanya manggut-manggut mendengar sahutan dari Ghozi, cukup lama Kafa menonton televisi hingga acara yang di lihat telah habis.


Kafa beranjak pergi ke kamar untuk ikut bergabung bersama Salma beristirahat dan menikmati mimpi yang mungkin akan indah.


"Aduhh sakit ...." keluh Salma seraya memegang perutnya yang tiba-tiba terasa begitu sakit karenanya.


Tadi Salma menikmati tidur dan mimpi indahnya hingga dia terbangun dan merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, perut Salma tiba-tiba merasa seperti di tusuk-tusuk dan rasanya teramat sakit.


"Salma! kamu kenapa?" tanya Kafa yang baru saja masuk ke dalam kamar, Kafa langsung berlari mendekat ke arah Salma yang kini meringkuk di atas kasur karena rasa sakit yang cukup menyiksa dirinya.


"Salma!" Kafa mencoba memanggil Salma sekali lagi karena saat ini Salma sedang meringkuk dengan posisi tangan meremas kuat perutnya dan mata tertutup.


"Kamu tidak apa-apa? apa yang terjadi?" sambung Kafa sambil menegang perut Salma dan mengusapnya pelan.


"Sakit Mas," sahut Salma yang sukses membuat Kaf semakin panik.


"Sakit? mana yang sakit?" Kafa langsung panik dan meraba beberapa bagian tubuh Salma mencoba mencari bagian mana yang terasa sakit.


"Perut ku sakit Mas," jawab Salma yang masih menutup mata dengan tangan yang meremas kuat perutnya.


"Jangan seperti ini! nanti kamu makin sakit!" larang Kafa berusaha menyingkirkan tangan Salma yang terus saja meremas kuat bagian perutnya.


"Sakit, Mas," Salma hanya bisa mengeluh tanpa bisa melakukan apapun, rasa sakit yng dia rasakan saat ini teras begitu hebatnya hingga diatak mampu mengatakan apapun selain mengeluh atas apa yang dia rasakan.

__ADS_1


"Tunggu di sini!" Kafa beranjak berlari ke arah pintu dan mencari Mbok Sumik yang Kafa fikir mungkin mengerti kenapa Salma bisa sakit perut karena biasanya sesama wanita itu saling mengerti satu sama lain.


"Mbok Sumik!!!" suara Kafa menggelegar hampir ke seluruh ruangan, dia menggunakan seluruh kekuatan yang dia punya untuk memanggil Mbok Sumik yang entah ada di mana.


Sedang Mbok Sumik yang sedang berada di dapur langsung mematikan kompor dan berlari ke arah asal suara.


"Iya, Mas Kafa, ada apa?" tanya Mbok Sumik tergopoh-gopoh menemui Kafa, tidak seperti biasanya Kafa berteriak sekencang itu hanya untuk memanggilnya, pasti ada hal yang tidak beres yang terjadi sampai Kafa berteriak dengan kencang seperti tadi.


"Mbok Salma merintih kesakitan, apa Mbok bisa melihatnya? tolong Mbok!" pinta Kafa dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran dan rasa takut.


Kafa begitu panik saking paniknya sampai dia tidak bisa berfikir dengan jernih, kali ini otaknya sama sekali tak terfikirkan untuk menelfon dokter, Kafa malah mencari Mbok Sumik. Sedang Mbok Sumik yang di beri tahu Kafa langsung berlari ke arah kamar untuk melihat keadaan Salma yang katanya sesang merintih kesakitan.


Kafa dan Mbok Sumik sama-sama panik tapu hal itu berbeda dengan Ghozi yang melihat semuanya langsung menelfon dokter langganan keluarga Kafa di kota, Ghozi punya nomor telfon itu karena dulu pernah di minta Ummi untuk menghubungi dokter saat Kafa sakit.


"Neng Salma kenapa?" tanya Mbok Sumik seraya mengusap pelan punggung dan kepala milik Salma.


"Mas Kafa tolong buatkan teh hangat ya!" pinta Mbok Sumik.


"Atau Mbok aja yang buat Mas Kafa tolong jagain Neng Salma sebentar!" sambung Mbok Sumik yang baru sadar jika dirinya telah memerintah Mas Kafa.


"Tidak perlu Mbok, biar aku yang buatkan, Mnok tolong jaga Salma!" sahut Kafa.


Kafa merasa semakin bingung dan kacau saat melihat Salma merintih, karena itulah dia lebih memilih membuatkan teh hangat dari pada harus menjaga dan melihat Salma merintih.


Kafa berjalan dengan langkah yang sangat lebar, dia benar-benar tak bisa menahan diri untuk bersabar, Kafa membuat teh dengan gerakan cukup cepat hingga satu gelas teh hangat siap untuk di hifangkan, setelah usai Kafa langsung kembali ke kamar, tapi betapa terkejutnya Kafa saat melihat Dokter Wawan sudah berjalan masuk ke dalam kamar, Kafa yang melihatnya langsung berjalan cepat.


'Siapa yang menghubunginDokter Wawan?' batin Kafa.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Kafa setelah Dokter Wawan memeriksa keadaan Salma yang kini sudah tidak merintih.

__ADS_1


"Neng Salma mengalami nyeri di perutnya karena haid, dan saya sudah memberikan obat anti nyeri agar rasa sakitnya sedikit berkurang, setelah ini Neng Salma harus makan agar obat yang di minum bisa bekerja dengan baik," jelas Dokter Wawan.


"Terima kasih sudah datang Dok," ujar Kafa.


"Tidak masalah, untung saja Ghozi tadi menelfon, kalau tidak mungkin Salma akan pingsan karena rasa sakitnya," sahut Dokter Wawan.


"Iya, terima kasih Dok," sekali lagi Kafa mengucapkan terima kasih kepada Dokter Wawan.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Ini resep obat yang harus di tebus, tadi saya sudah menyuntikkan obat agar rasa sakitnya bisa berkurang," Dokter Wawan memberikan tulisan yang penuh dengan misteri hanya dia dan apoteker yang tahu apa maksudnya.


Usai memberikan resep Dokter Wawan berpamitan pulang karena masih ada pasien yang harus dia tangani di rumah sakit.


"Terima kasih Ghozi," ucap Kafa saat dia melihat Ghozi baru saja keluar dari kamarnya.


"Bagaimana keadaan Salma?" tanya Ghozi.


"Alhamdulillah, Salma baik-baik saja sekarang," jawab Kafa.


"Syukurlah kalau begitu, lain kali hubungi Dokter dulu kalau ada yang darurat!" Ghozi mencoba mengingatkan Kafa agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama.


"Aku pasti akan melakukannya, terima kasih sudah mengingatkanku," jawab Kafa.


Kafa yang merasa jika dirinya memang bersalah tak lagi mendebat ataupun melawan ucapan Ghozi, karena apa yang di katakan Ghozi memang benar adanya.


"Baguslah, cepat lihat keadaan Salma! jangan terlalu lama meninggalkannya sendirian!" Ghozi yang melihat Kafa diam kini mencoba mengingatkannya.


"Apa kamu tidak ingin melihat keadaannya?" tanya Kafa sebelum melangkah meninggalkan Ghozi.


"Apa Mas Kafa mengizinkanku masuk ke kamar kalian untuk melihat keadaan Salma?" Ghozi balik bertanya, sejak tadi Ghozi ingin melihat keadaan Salma, tapi dia tidak berani melakukannya, bukan karena dia takut pada Kafa, tapi Ghozi ingin menjaga perasaan Kafa, dia tidak ingin Kafa kembali salah faham seperti kemarin.

__ADS_1


__ADS_2