
'Dia siapa?' batin Umik menatap pemuh rasa heran ke arah Tari yang justru bersikap seperti biasa.
"Sasa, Tari, masuklah!" sapa Ummi dengan ekspresi wajah bahagia menatap kesayangan Tari dan Sasa yang sudah dia anggap sebagai puterinya sendiri.
"Ummi masak apa hari ini? apa hari ini Mbak Tari yang masak?" pertanyaan yang hampir setiap pagi di tanyakan oleh Sasa dan Ummi sangat hafal dengan pertanyaan dan jawaban apa yang harus dia keluarkan.
"Tentu saja, seperti biasa Sayang, hari ini Mbak Tari yang masak dan Ummi hanya membantunya saja, menu kita pagi ini pepes tongkol dan oseng kangkung, apa Sasa menyukai menu itu?" Ummi menjelaskan apa yang perlu dia jelaskan.
"Apapun yang Mbak Tari masak, Sasa pasti akan menyukainya," jawaban yang juga selalu terucap dari bibir mungil Sasa.
Umik terus saja menatap ke arah Sasa dengan fikiran yang di penuhi rasa penasaran, berbanding terbalik dengan Ghozi yang justru menatap jengah ke arah Sasa, saingan bocilnya. Sedang Ummi yang memperhatikan semua orang yang kini makan bersamanya mengerti dengan tatapan Umik Ghozi yang tak pernah beralih dari Sasa.
"Mbak aku mau pepes tongkolnya," ujar Sasa dengan nada manja yang sering di dengar oleh Tari dan yang lain.
"Apa kamu juga mau sayur ini?" Tari menanggapi sikap manja Sasa dengan penuh kasih sayang, dia yang dulu perwakilan kini berubah menjadi gadis yang di penuhi kelembutan dan kasih Sayang.
"Aku tidak suka Sayur Mbak," sahut Sasa dengan pipi yang menggembung karena tidak suka, drama di meja makan selalu saja terjadi, tapi Ummi dan yang lain sudah terbiasa melihatnya, begitu pula dengan Tari yang sudah terbiasa menghadapi sikap manja Sasa.
__ADS_1
""Makan sayur itu enak loh, Apa kamu tidak mau mencobanya?" rayu tari yang sedang berusaha merayu Sasa agar dia mau memakan sayuran hari ini.
Mendengar rayuan Tari, Sasa hanya terdiam sejenak kemudian dia kembali berceloteh, "Aku mau makan sayur Mbak, Bisakah mbak Tari ambilkan? apakah ini masakan Mbak Tari?" Sasa terus saja bertanya tentang sayuran yang akan dia makan.
"Tentu saja, sayur ini makanan kesukaan mbak Tari, kamu akan rugi jika tidak memakannya," ujar Tari dengan senyum manis yang membuat siapapun yang melihatnya pasti merasa Terkesima.
"Kenapa Mbak Tari tidak bilang sejak tadi? jika aku tahu kalau ini makanan kesukaan mbak Tari maka aku akan memakannya sejak tadi," ujar Sasa dengan senyum polos yang menghiasi wajahnya.
Suasana makan pagi ini terasa begitu lengkap dengan kehadiran Umik di sana, tapi kelengkapan itu terasa ganjil karena tatapan Umik yang terus saja tertuju pada Sasa. Hingga Acara makan pun usai Tari kembali masuk ke dalam pesantren untuk melakukan tugasnya sebagai seorang ustadzah. sedang Umik dan Ummi kini duduk bersantai di teras samping dengan dua cangkir teh juga beberapa toples biskuit yang menemani acara santai keduanya.
"Kenapa Ummi bisa bertanya seperti itu?" tanya Umik merasa heran dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ummi.
" Maaf jika perkiraanku salah, tapi aku sempat melihat tatapan Mata Umik pada saat kita makan tadi, ada banyak pertanyaan yang tersirat tapi tak mampu diucapkan, Karena itulah Aku memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Umik, agar tak ada kesalah pahaman yang mungkin terjadi jika hal ini tidak segera diperbincangkan," Ummi menjelaskan semua alasan yang mendasari dirinya untuk bertanya pada Umik.
"Aku memang memiliki sejuta pertanyaan yang muncul ketika aku melihat kedekatan Tari dan Sasa, tapi mendengar panggilan Sasa pada Tari membuatku berpikir hal lain, dan aku mencoba berpikir positif jika Sasa bukan siapa-siapanya Tari atau dia memang adiknya Tari," Umik menjelaskan apa yang saat ini ada dalam hatinya.
"Sebenarnya Sasa adalah Putri seorang CEO di suatu perusahaan besar di kota, dia sengaja ditaruh di pesantren ini karena Sasa sudah tak memiliki seorang ibu lagi, sedang sang Ayah sangat sibuk dengan perusahaan yang sedang ia kelolah, Karena itulah Sasa ditaruh di sini untuk sementara waktu hingga keadaan memungkinkan untuknya kembali pulang dan berkumpul bersama sang ayah. Sasa memang dekat dengan Tari semua itu terjadi karena Tari memiliki hati yang lembut, dia begitu penyayang pada anak kecil, apalagi Sasa sekamar dengan Tari Karena itulah Sasa begitu lengket dan menyayangi Tari seperti dia menyayangi ibunya sendiri," Ummi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa Sasa sebenarnya.
__ADS_1
Mendengar penjelasan Umi membuat Umi semakin yakin Jika pilihan putranya memang tepat dan benar meski Sasa bukan berasal dari keluarga Kyai tapi dia memiliki Hati Bagai malaikat yang jarang sekali dimiliki oleh gadis lain bahkan jika gadis itu Putri seorang Kyai sekalipun.
Seperti biasa Umik dan Ummi selalu memiliki banyak hal untuk diperbincangkan, hingga keduanya lupa waktu sampai Ghozio datang untuk mengingatkan Umik jika sudah waktunya tiba, untuk kembali pulang ke pesantren. Karena di pesantren pasti ada banyak yang sedang menanti kehadiran Umik.
"Kalau begitu Umik pulang dulu. besok Umik akan datang lagi untuk melamar gadis pilihanmu itu, aku harap dia dan keluarganya siap untuk menerima kedatangan Umik," pesan Umik sebelum dia pergi meninggalkan Ghozi yang terdiam mematung di tempatnya, dia memang ingin segera menikah dengan Tari, tapi kenapa bisa secepat ini? bagaimana mungkin Tari siap menerima pinangan darinya Secepat saat ini.
Sesaat setelah Umik masuk ke dalam mobil dan melenggang pergi meninggalkan Ghozi, dia Melangkah dengan langkah lebar dan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah untuk menemui Ummi dan mengatakan semua pesan yang baru saja dia dengar.
"Ummi," panggil Ghozi dengan langkah lebar.
"Iya, ada apa?" sahut Ummi dengan ekspresi wajah bingung yang terlihat jelas di wajah Ummi saat ini.
"Ummi, baru saja aku mendengar Umik berpesan jika besok dia ingin melamar Tari, bagaimana ini? Aku belum mengatakan apapun pada Tari, dan bagaimana dengan keluarganya? Apa mereka bisa menerimku Ummi?" Ghozi terlihat begitu takut dan khawatir dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Kamu tenang saja Ghozi! Ummi akan berusaha sebisa mungkin untuk membantumu agar semua urusan menjadi lancar, jadi kamu tenang saja, sekarang lebih baik kamu kembali ke kamar dan selesaikan pekerjaanmu! biarkan Ummi yang mengurus semuanya," sahut Ummi dengan penuh keyakinan yang membuat Ghozi yakin untuk menuruti semua yang di inginkan Umik.
"Kalau begitu, aku permisi dulu Ummi." Pamit Ghozi melenggang pergi setelah yakin jika Ummi akan membantunya.
__ADS_1