Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Mulut Lemes Tanpa Rem


__ADS_3

Mendengar ucapan Tari membuat Salma tersenyum dengan lebarnya, dia tak lagi memikirkan kehidupan pahit yang telah di lalui dan di jalaninya, bagi Salma saat ini dia sudah cukup bahagia hidup di kelilingi orang-orang yang sayang dan perhatian padanya.


"Nah, gitu donk, senyum yang manis biar wajahmu terlihat menarik gak datar kayak tembok," canda Tari mencoba menghibur Salma yang dia tahu dengan pasti jika saat ini Salma pasti merasa sedih.


"Wajahku bukan gula Tari, sampai kamu bilang manis segala," elak Salma dengan senyum yang semakin lebar, dia mengerti jika saat ini Tari hanya ingin menghiburnya dan berusaha membuat dia lupa akan kesedihan yang pernah dia rasakan.


"Aku tahu wajahmu bukan gula, tapi senyummu jauh lebih manis di banding gula saat di pandang." Tari selalu saja bisa menghoda Salma dan membuatnya tersenyum karenanya.


"Halah, kamu ini bisa aja," seru Salma.


"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat, apa lebih baik aku tunggu di luar saja?" suara Kafa mengalihkan pandangan Tari dan Salma yang kini masih asyik bercanda ria dengan tawa umyang terdengar begitu renyah.


"Kata siapa Mas Kafa datang di waktu yang tudak tepat, sekarang waktu yang sangat tepat karena kita sudah sangat lapar dan ingin segera makan," sahut Tari mengatakan apa yang dia rasakan tanpa ada filter, Tari tak perduli jika Kafa menganggapnya apapun, yang dia tahu saat ini, Tari ingin sekali segera makan dan menikmati makanan yang di bawa oleh Kafa.


"Kalau begitu makanlah!" ujar Kafa berjalan mendekat sambil mengulurkan dua bungkus makanan yang dia bawa dari kantin tadi.


"Mas Kafa beli apa ini?" bukannya langsung memakannya Tari bertanya lebih dulu sesaat setelah mengambil bungkusan yang di ulurkan Kafa.


"Itu nasi padang, kalian suka nasi padang bukan?" jawab Kafa sambil menanyakan apakah Salma dan Tari menyukai nasi padang yang dia beli.


"Kalau kita makan apa aja suka, Mas Kafa tenang aja kita bukan tipe pemilih pada makanan, asal halal pasti kami makan, iya Kan Salma?" jawab Tari sambil melempar pertanyaan ke arah Salma yang terlihat diam memperhatikan Tari dan Kafa berbincang.


"Iya," jawab Salma dengan nada lembut yang terkesan sedikit lemah.

__ADS_1


"Kalau gitu makanlah nasinya, kalau kurang atau tidak cocok bilang saja padaku, nanti akan aku belikan lagi." Pesan Kafa kemudian berbalik akan pergi meninggalkan keduanya.


"Loh, Mas Kafa mau ke mana? apa Mas Kafa tidak ikut makan juga?" Salma yanh merasa tidak enak hati langsung bertanya mencegah Kafa yang hendak pergi.


"Aku mau ambil makanan pesananku di depan." Jawab Kafa.


"Oh ya, bagaimana keadaanmu? apa masih ada yang sakit? atau ada sesuatu yang kamu inginkan?" Kafa terlihat jauh berbeda dari biasanya, Kafa yang biasa berkata dengan kata-kata yang pedas bak cabe rawit kini berbicara dengan nada sedikit lembut dan juga senyum yang terlihat tulis, hal itu sangat jauh berbeda dengan Kafa yang setiap hari di temui oleh Salma.


"Keadaanku sudah lebih baik, aku tidak ingin apapun dan terima kasih sudah ikut menjagaku, aku juga minta maaf karena sudah merepotkanmu," jawab Salma yang saat ini memang tidak menginginkan apapun, dia hanya ingin mengatakan terima kasih dan maaf pada Kafa yang sudah menjaganya.


"Hm," satu kata singkat terucap dari bibir Kafa kemudian dia melenggang pergi meninggalkan keduanya yang masih diam mematung menstap kepergian Kafa yang kini menghilang di balik pintu.


"Kamu ngerasa ada yang aneh gak dengan sikap Kafa Salma?" Tari yang selalu tak bisa menahan rasa penasarannya langsung bertanya setelah melihat Kafa tak lagi nampak dan menghilang di balik pintu.


"Kafa terlihat bersikap lebuh lembut dan tulus dari pada biasanya, apa dia kemasukan perawat baik hati di rumah sakit ya?" Tari mulai mengatakan hal yang tidak masuk akal pada Salma.


"Mungkin dia baru aja dapat arisan kali Tati, makanya baik banget," Salma malah mengatakan hal yang jauh lebih aneh lagi, bagaimana mungkin Kafa mengikuti arisan seperti seorang wanita saja.


"Dugaanmu jauh lebih aneh dari dugaanku Salma," sewot Tari yang merasa Salma benar-benar sama lebih parah dari pada dirinya.


"Sudahlah, jangan menduga-duga! tidak baik itu, lebih baik kita makan nasi padang ini saja, lumayan makan enak gratis pula," ujar Salma yang langsung membuka bungkusan makanan yang baru saja dia ambil dari tangan Tari.


"Kamu benar Salma, nasi padang ini terlihat begitu menggiurkan," sahut Tari yang sudah membuka satu bungkus nasi yang dia pegang. Tanpa ba bi bu lagi Salma dan Tari melahap habis nasi padang yang di bawakan Kafa.

__ADS_1


Apa yang di lakukan Salma dan Tari juga di lakukan oleh Kafa, kini dia sedang menikmati satu bungkus makanan yang tadi dia pesan, jika Salma dan Tari makan nasi padang, berbeda dengan Kafa yang makan nasi pecel yang juga kesukaannya.


"Tari, Salma!" panggil Kafa.


Saat ini Kafa sedang berada di ruang rawat Salma setelah menghabiskan sebungkus nasi pecel yang dia pesan.


"Ada apa Mas Kafa?" sahut Salma.


"Aku ada urusan di luar dan urusan ini sangat penting, jika kalian aku tinggal apa tidak jafi masalah?" tanya Kafa sebelum pergi meninggalkan Tari dan Salma.


"Tidak apa-apa, kami sudah terbiasa sendiri, jadi Mas Kafa tidak perlu khawatir lagi! Mas Kafa bisa pergi sekarang." Jawab Tari dan Salma hanya mengangguk sebagai tanda jika dirinya telah setuju.


"Kalian tenang saja, aku cuma sebentar kok, lagi pula urusanku kali ini dekat dengan rumah sakit jadi tidak akan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya," pesan Kafa sebelum meninggalkan Kafa dan Tari.


"Iya, kami pasti baik -baik saja, Mas Kafa tidak perlu khawatir!" kali ini Salma ysng menyahuti pesan Kafa dengan senyum yang terlihat meyakinkan.


"Baiklah, aku tinggal dulu. Ingat kalau ada apa-apa langsung hubungi aku saja!" titah Kafa kemudian pergi keluar dari kamar.


"Eh Salma, kamu harus tahu, tadi Mas Kafa ngasih aku telfon supaya bisa ngehubungi kamu jika ada sesuatu yang tidak di inginkan terjadi, dan kau tahu Salma, aku melihat banyak sekali foto dan memory juga chat yang pasti akan membuatmu syok," Tari yang mengingat sesuatu yang tadi dia lihat di ponsel Mas Kafa tiba-tiba mulutnya berbicara pada Salma.


"Emangnya kamu lihat apa?" tanya Salma penuh rasa penasaran.


'Mati aku, bukankah tadi aku sudah berniat tidak akan mengatakannya pada Salma, kenapa sekarang mulutku malah bocor,' batin Tari ketika mulut lemesnya tak bisa dia rem, padahal tadi Tari sudah bisa mengendalikannya.

__ADS_1


__ADS_2