
"Terus kalau bukan mengejar mimpi apa namanya?" tanya Kafa yang sengaja ingin menggoda Salma.
"Kalau itu emang dasar Mas aja yang pengen," ujar Salma.
"Pengen apa?" Kafa memasang mimik wajah polos bertanya pada Salma.
"au ah gelap," sahut Salma mengalihkan pandangan menatap lekat ke arah TV.
"Apanya yang gelap Sayang?" Kafa semakin gencar menggoda Salma yang kini justru terlihat cemberut.
Salma tak lagi menjawab pertanyaan Kafa yang dia tahu jika saat ini Kafa sedang menggodanya.
"Sayang! apa yang gelap?" Kafa kembali bertanya, tapi Salma tak menggubrisnya.
Melihat Salma terdiam Kafa langsung mengambil inisiatif untuk menggelitikinya, tanpa aba-aba, Kafa langsung menggerak-gerakkan kepala yang sejak tadi berada di depan perut Salma, apa yang di lakukan Kafa sontak membuat Salma merasa geli, hingga dia tertawa terbahak-bahak karenanya.
"Mas, hentikan!" pinta Salma merasa seluruh tubuhnya lemas karena merasa geli.
"Katakan dulu, apa yang gelap!" Kafa tak mau melepaskan Salma, dia terus saja menggerakkan kepala sesekali menciumi perut Salma yang ada di hadapannya.
"Aku hanya asal bicara Mas, sudah hentikan!" kali ini suara Salma terdengar memohon agar Kafa segera menghentikan aksinya.
"Baiklah, sebagai hukuman karena kamu bicara asal, sekarang pijitin aku!" titah Kafa.
"Mas Kafa bisa saja, cari kesempatan dalam kesempitan," sahut Salma.
"Pinggangku prasanya pegal, dan semua itu gara-gara kamu Sayang," ujar Kafa mencari pembelaan.
"Kok gara-gara aku Mas?" tanya Salma sambil mengerutkan dahi bingung dengan ucapan Kafa.
"Ini semua karena kamu selalu menggodaku hingga aku tak bisa menahan diri untuk tidak bercin**a denganmu, meski aku tahu jika setelahnya pinggangku akan sakit aku tetap tak bisa menahan diri," Kafa menjelaskan alasan dirinya mengatakan kalau rasa sakit yang dia rasakan saat ini di sebabkan oleh Salma.
"Siapa juga yang menggoda Mas Kafa, emang dasar Mas Kafanya aja mata keranjang," ujar Salma yang tak ingin di salahkan atas kesalahan yang memang tidak dia perbuat.
"Sudahlah, apa pun itu, lebih baik sekarang pijitin pinggangku!" Kafa yang tak ingin berdebat terlalu lam akhirnya memilih meminta Salma memijatnya.
Salma yang mengerti akan tugas yang susah menjadi kewajibannya memilih untuk mengikuti apa yang Kafa minta, dia mulai memijat tubuh Kafa perlahan tapi pasti Salma memijat tubuh Kafa dari kaki hingga kepala, tak ada sedikit pun bagian tubuh yang tertinggal.
__ADS_1
"Pijatan tanganmu lumayan enak juga," puji Kafa saat merasakan sentuhan tangannya di tubuh Kafa.
"Benarkah? kalau begitu aku mau buka panti pijat saja, menurut Mas bagaimana?" sahut Salma.
Kafa langsung bangun dan menoleh ke arah Salma yang kini tersenyum manis menatapnya dengan lekat.
"Kenapa?" tanya Salma seraya mengerutkan dahi bingung dengan apa yang terjadi.
"Coba saja buka panti pijat! aku akan membakar panti pijatmu sebelum ada yang pijat di sana," ancam Kafa.
Salma hanya bisa bergidik ngeri mendengar ancaman Kafa yang terlihat tidak main-main.
"Aku akan melaporkanmu jika kamu berani membakar panti milikku," Salma balik mengancam Kafa dengan ekspresi wajah datar Salma menjawab semua ancaman Kafa dengan ancaman pula.
Kafa yang mendengar ancaman Salma mulai tersulut emosi, tanpa ada kata Kafa langsung menarik tangan Salma dan mulai membungkam mulut Salma dengan mulutnya, apa yang di lakukan Kafa membuat Salma terkejut, dia langsung membulatkan mata sempurna melihat ke arah Kafa yang wajahnya berada sangat dekat dengan Kafa.
Awalnya hanya menempel biasa hingga tak ada perlawanan dari Salma membuat Kafa merasa jika Salma tidak marah dan setuju jika Kafa terus melakukan apa yang memang seharusnya di lakukan.
Perlahan Kafa mejulurkan lidah menjelajah ke setiap sudut mulut Salma, mengabsen setiap hal yang ada di dalamnya. Cukup lama bi**r keduanya saling terpaut dan menyatu, menyalurkan rasa cinta yang keduanya miliki hingga Salma melepas dengan paksa tautan keduanya.
Kafa tersenyum mengusap bi**rnya yang masih basah setelah terlepas dari bi**r milik Salma.
'Cup'
Satu kecupan sayang mendarat indah di kening Salma yang kini memejamkan mata menikmati sentuhan hangat yang di berikan oleh Kafa sang suami.
"Mas Kafa, Neng Salma!" panggil Mbok Sumik saat melihat keduanya sedang duduk dengan posisi menundukkan kepala.
"Iya, Mbok," sahut Salma menoleh ke arah Mbok Sumik yang berdiri tak jauh dari tempat Kafa dan Salma yang duduk di depan televisi.
"Makanannya sudah siap, Mas Kafa dan Neng Salma bisa makan sekarang," ujar Mbok Sumik seraya memberi isyarat agar Salma dan Kafa mendekat ke arah meja makan.
Kafa langsung meraih tangan Salma mengajaknya berjalan menuju ruang makan untuk menikmati makan sore.
"Mbok masak apa?" tanya Salma seraya berjalan beriringan menuju ruang makan bersama Kafa.
"Hari ini Mbok memasak Sayur asem, pepes tongkol sama tempe goreng, sebagai pelengkap Mbok juga masak sambal bajak," jelas Mbok Sumik.
__ADS_1
"Wah makan enak kita hari ini, sayur asem sama pepes tongkol lauk yang aku suka," sahut Salma.
"Benarkah? sejak kapan kamu suka pepes tongkol?" tanya Salma.
"Sejak dulu," jawab Salma seraya mengambil nasi dan lauk yang dia suka untuk Kafa dan dirinya sendiri.
"Kok aku baru tahu?" Kafa kembali bertanya.
"Mas Kafa tidak pernah bertanya ataupun memperhatikan aku, jadi wajar kalau Mas Kafa gak tahu kalau aku suka sayur asem dan pepes tongkol," ujar Salma dengan senyumyang mengembang di wajahnya.
Salma langsung melahap habis satu porsi penuh makanan yang tadi dia ambil. Sedang Kafa menatap heran ke arah Salma yang terlihat makan dengan begitu lahapnya.
"Mbok Sumik!" panggil Kafa setelah makanan miliknya juga habis tak tersisa.
"Iya, Mas Kafa," sahut Salma menoleh ke arah Kafa.
"Besok masak menu yang sama!" Kafa menjawab pertanyaan Mbok Sumik dengan sebuah perintah.
"Baik, Mas Kafa," jawab Mbok Sumik.
Mbok Sumik memang menjawab pertanyaan Kafa dengan cepat, tapi tatapan matanya menatap ke arah Salma dengan tatapan heran.
"Kenapa harus menu yang sama Mas?" tanya Salma yang tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Aku suka melihatmu makan dengan lahap seperti tadi, dan besok aku ingin melihatmu makan seperti tadi agar kamu tetap sehat dan bisa cepat hamil," jawab Kafa berdiri melenggang pergi meninggalkan Salma yang masih setia duduk di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
"Cie ... senangnya yang dapat perhatian dari suami," goda Mbok Sumik.
"Bukan senang yang aku rasakan saat ini Mbok," lirih Salma.
"Kalau bukan senang apa Neng?" tanya Mbok Sumik yang malah penasaran dengan jawaban Salma.
"Aku justru bingung Mbok," ujar Salma.
"Bingung kenapa?" tanya Mbok Sumik.
"Aku bingung, sejak kapan Mas Kafa jadi perhatian seperti itu? Aku tidak sedang bermimpi kan Mbok?" ujar Salma seolah tak percaya jika Kafa bisa seperhatian sekarang.
__ADS_1