Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Pinangan Ghozi


__ADS_3

'Ceklek'


Pintu kamar Kafa terbuka nampaklah Kafa yang masih memakai kaos putih ketat dan sarung dengan rambut basah dan wajah berseri karena habis mandi.


'Glek'


Salma meneguk salivanya, meski dia jengkel dan kurang menyukai Kafa, tapi Salma tidak bisa memungkiri jika saat ini Kafa terlihat begitu tampan dan mempesona.


"Khem!" Kafa yang melihat Salma terdiam menatap ke arahnya langsung berdehem untuk menyadarkannya.


"Astaghfirullah," spontan Salma.


"Kenapa? kamu terpesona melihatku?" tanya Kafa dengan ekspresi sombong dan nada congkak setelah melihat Salma hanya diam mematung sambil menatap ke arahnya.


"Tidak, siapa juga yang terpesona? perasaan biasa saja," elak Salma dengan wajah yang mulai memerah seperti udang rebus.


"Tidak usah mengelak! wajahmu sudah menunjukkan yang sebenarnya," ujar Kafa dengan senyum penuh kemenangan.


"Memang kenapa dengan wajahku?" tanya Salma bingung.


"Merah kayak tomat," jawab Kafa enteng.


"Sudahlah, Mas Kafa di panggil Ummi untuk makan bersama di dapur, permisi," mendengar ucapan Kafa membuat Salma malu dan memilih segera pergi dari hadapan Kafa sebelum Kafa semakin mempermalukannya.


'Kalau lagi malu-malu gitu kenapa tu anak terlihat lucu ya,' batin Kafa.


"Astaghfirullah, sadar Kafa, sadar!" ujar Kafa setelah sadar dengan batinnya yang menurutnya sudah salah.


Tanpa banyak berfikir lagi Kafa langsung menyambar baju kokoh yang tergantung di belakang pintu dan mulai memakainya kemudian berjalan menuju ruang makan untuk menemui Ummi dan makan bersama.


Di ruang makan sudah terlihat ada Abah, Tari, Ghozi dan Salma tinggal Intan dan Kafa yang belum datang.


"Tumben ramai Ummi?" celetuk Kafa sesaat setelah Kafa baru saja sampai di ruang makan.


"Alhamdulillah, Ummi bisa makan dengan sangat nikmat sejak Salma dan Tari datang, mereka bisa mengisi kesepian Ummi karena kami pergi," jaeab Ummi yang cukup menohok di hati Kafa.

__ADS_1


"Kafa sudah kembali Ummi," ujar Kafa.


"Dan Ummi akan tetap mengajak mereka makan bersama sekalipun kamu kembali, karena mereka telah menemani Ummi saat kamu pergi, makanya Ummi ingin mereka tetap ada meski kamu sudah kembali." Ujar Ummi.


Kafa langsung terdiam setelah mendengar jawaban Ummi, dia memilih duduk di samping Ghozi.


"Assalamualaikum," ucap Intan.


Sejak datang Intan yang memang mudah bersosialisasi mengerti dengan ucapan salam yang sering di ucapkan sebagian besar irang yang ada di pesantren ini.


"Waalaikum salam," jawab semua orang yang ada di ruang tamu.


"Duduk dan bergabunglah! kita makan bersama!" sambung Ummi yang di angguki oleh Intan.


Intan memilih duduk tepat di sebelah Salma, karena hanya kursi itu yang tersisa. Makan kali ini terasa begitu lengkap, semua kursi yang ada di meja makan telah terisi tak ada satu kursi kosong yang tersisa, semua orang juga makan dengan lahapnya meski tak ada suara ataupun percakapan yang terjadi, tapi semuanya terasa begitu nikmat.


"Alhamdulillah, akhirnya semua sudah selesai," ujar Tari sambil mengelap tangannya yang basah dengan kain lap setelag mencuci piring kotor sisa makan.


"Terima kasih sudah membantu Ummi," ucap Ummi setelah semua selesai.


"Harusnya kami yang berterima kasih, karena sudah di ajak makan bersama Ummi," sahut Salma.


"Kalau kalian suka, Ummi akan sangat bahagia jika kalian bisa makan di sini setiap hari menemani Ummi," ujar Ummi dengan senyum yang mengembang.


Ummi senang melihat Tari yang selalu apa adanya tanpa ada yang di tutup-tutupi ataupun berpura-pura.


"Maaf, Ummi, teman Salma ini mulutnya memang gak punya saringan, jadi mohon di maklumi ya," ujar Salma dengan ekspresi wajah taj enak hati.


"Tidak apa-apa Salma, lagi pula Ummi senang dengan Tari yang apa adanya dari pada berpura-pura baik tapi aslinya buruk," Ummi mengatakan ala yang ada di dalam hatinya.


"Tuh dengerin! Ummi tidak masalah," ucap Tari dengan pe de nya karena merasa ada yang membela.


"Tapi tetap saja, Tari harus berhati-hati dan bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk untuk di ucapkan agar tidak menyakiti hati orang lain." Tutur Ummi.


"Tuh dengerin! tetap harus ada saringannya, biar gak keminum sama ampasnya," sahut Salma.

__ADS_1


"Teh kali di saring ampasnya segala," sahut Tari.


"Sudah jangan berdebat! tidak baik!" Ummi yang gemas dengan perdebatan Salma dan Tari yang terdengar tak berfaedah itu langsung melerainya agar perdebatan itu tak menjadi panjang.


"Maaf, Ummi, kita jadi berdebat seperti ini di hadapan Ummi," ujar Salma dengan ekspresi wajah penub penyesalan.


"Sudah tidak apa-apa!" jawab Ummi.


"Kami pergi dulu Ummi, assalamualaikum," pamit Tari dan Salma hanya mengikuti langkah Tari mencium punggung tangan Ummi kemudian melenggang pergi menuju asrama.


Jika Salma dan Tari asyik berdebat, maka berbeda dengan Intan dan Kafa yang kini berada di halaman samping sedang berbincang dengan seriusnya.


"Kafa," lirih Intan.


"Ada apa? apa kamu berubah fikiran?" ujar Kafa.


"Apa kamu tidak ingin memberiku kesempatan untuk terus menjadi kekasihmu dan membiarkan aku berubah menjadi gadis yang sejalan denganmu," pinta Intan.


"Untuk saat ini aku masih belum bisa memutuskan Intan, lebih baik kamu kembali ke kota." Jawab Kafa dengan nada dingin seperti biasanya.


Intan hanya bisa tertunduk lemah, ini adalah usaha terakhirnya untuk mempertahankan Kafa sebagai kekasihnya, lebih tepatnya mempertahankan mesin ATM unlimited yang dia miliki.


"Maaf, Intan," ucap Kafa kemudian pergi meninggalkan Intan yang masih duduk di kursi yang ada di halaman.


Intan terdiam menanggapi ucapan Kafa, dia memilih pergi masuk ke dalam kamar menenangkan fikirannya yang sedang kalut, Intan terus berfikir bagaimana caranya agar Kafa bisa tetap mempertahankan hubungan dengannya hingga ras kantuk itu datang karena perut yang terasa kenyang.


~


Ghozi menatap langit sore yang terlihat begotu indah, berwarna jingga yang memancar keseluruh penjuru alam.


"Salma," lirih Ghozi menoleh ke arah Salma yang sedang melipat baju milik Ummi dan keluarganya.


Saat ini keduanya sedang berada di halaman belakang tempat menjemur baju dan Ghozi yang kebetulan sedang menikmati sore setelah membantu Abah memeriksa keuangan pesantren duduk di kursi tak jauh dari tempat Salma melipat baju.


"Iya, Ghozi, ada apa?" sahut Salma sambil terus melipat baju yang menumpuk di hadapannya.

__ADS_1


"Jika aku berniat meminangmu dan menjadikanmu seorang istri, apa kamu bersedia Salma?" sebuah tanya yang terdengar sederhana tapi sangat mengejutkan juga membingungkan hati Salma.


Ghozi memang laki-laki idaman bagi setiap gadis, termasuk Salma, kepribadian lembut penuh pengertian dan kasih sayang juga ilmu yang cukup dalam membuat siapapun merasa senang dan jatuh hati padanya.


__ADS_2