Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kisah Tentang Kafa


__ADS_3

"Nabila adalah putri teman Ummi, dia di titipkan di sini karena terlalu badung oleh orang tuanya, semua berjalan sebagaimana mestinya, Nabila perlahan berubah dan mulai dekat dengan Kafa, awalnya Ummi diam dan menyetujui hubungan keduanya bahkan Ummi dan Abah sempat merencanakan pernikahan dan menjodohkan Nabila dengan Kafa," Ummi menunduk sedih sambil menghirup udara sebanyak mungkin kemudian mengeluarkannya perlahan seolah-olah mengumpulkan kekuatan untuk kembali bercerita.


"Tapi Ummi membatalkannya," sambung Ummi.


"Kenapa di batalkan, Ummi?" tanya Salma semakin antusias mendengar cerita Ummi.


"Waktu itu Ummi tak sengaja melihat Nabila bersama dengan seorang laki-laki yang belum pernah Ummi lihat sebelumnya, awalnya Ummi mengira jika dia adalah saudara Nabila, sampai Ummi mendengar kata-kata menyayat hati yang tak seharusnya Ummi dengar," jawab Ummi menceritakan apa yang telah terjadi.


"Kata-kata apa, Ummi?" Salma semakin penasaran dengan kelanjutan cerita Ummi yang semakin seru setelah di dengarkan.


"Laki-laki itu ternyata kekasih Nabila, dan betapa terkejutnya Ummi saat mendengar jika Salma menikah dengan Kafa hanya ingin menikmati apa yang di miliki oleh puteraku, Nabila berniat memanfaatkan Kafa untuk menfasilitasi dan memenuhi kebutuhan Nabila dan laki-laki itu, dan Ummi kembali terkejut saat tahu jika Nabila telah memiliki anak yang sedang di asuh olehnya." Ummi menceritakan semua yang terjadi pada Salma.


Salma tercengang dan hanya bisa diam saat mendengar cerita Ummi, sungguh gadis yang sangat rugi, melihat kebaikan Ummi dan Abah membuat siapapun akan merasa tenang berada di dekat keduanya.


"Dulu, Kafa putera yang sangat baik, penurut juga penyayang, dia begitu perhatian pada semua orang, tutur katanya lembut menenangkan hati, tapi setelah Ummi memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahannya dengan Nabila, Kafa berubah menjadi seorang anak yang brutal dan pembangkang, sikap lembutnya sirnah entah ke mana, dia pergi ke tempat baru dengan alasan ingin melupakan semua rasa sakit yang dia rasakan, sikapnya berubah dingin dan seenaknya sendiri, begitu pula dengan kebiasaan dan pergaulannya, sungguh Kafa berubah seratus delapan puluh derajat," Ummi menceritakan kisah Kafa dengan linangan air mata yang mulai menetes perlahan.


"Sabar Ummi, setiap orang pasti punya ujian yang harus mereka lewati, aku yakin Ummi bisa melewati semuanya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan," ucap Salna sambil memegang tangan Ummi yang ada di atas album.


"Ummi sangat berharap kamu bisa menolong Ummi untuk merubah kembali Kafa, Ummi yakin jika kelembutan dan kesabaran yang kamu miliki bisa meluluhkan kerasnya hati Kafa saat ini," ucapan Ummi membuat Salma kembali diam, bagaimanapun Salma masih belum siap menikah untuk saat ini.


Salma yang mendengar ucapan Ummi hanya bisa diam dan menunduk tanpa bisa menjawab.


"Kamu tenang saja, Ummi tak memintamu menjawab sekarang, Ummi hanya ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padamu, karena Ummi berharap kamu bisa mempertimbangkan segalanya," sambung Ummi.


"Terima kasih," ujar Salma sambil menatap mata Ummi.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Ummi dengan ekspresi bingung yang tergambar jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Terima kasih, karena Ummi begitu pengertian padaku," jawab Salma dengan senyum manis yang kini terlihat di wajahnya.


"Harusnya Ummi yang berterima kasih karena kamu tak langsung menolak permintaan Ummi, dan kamu masih mau mempertimbangkannya," ujar Ummi sambil mengusap pelan punggung tangan Salma mencoba menyalurkan segala rasa sayang yang di miliki Ummi untuk Salma.


"Ummi memang seorang Ibu idaman, malaikat tak bersayap yang sengaja Allah pertemukan denganku yang sudah sebatang kara ini, aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Ummi," ungkap Salma seraya memeluk Ummi dengan air mata yang sudah menetes.


Salma merasa Ummi adalah pengganti Ibunya yang telah pergi menyusul sang Ayah ke surga, meninggalkan dirinya seorang diri tanpa saudara, Ibu salma anak tunggal dan sang Ayah berasal dari kota yang cukup jauh, butuh waktu sehari semalam untuk sampai di kota asal almarhum Ayah Salma, karena itulah Salma sebatang kara tanpa saudara ataupun orang tua.


"Dan kamu bidadari surga yang Ummi temukan, semoga saja bidadari yang saat ini memeluk Ummi ini jodoh dari putera Ummi yang akan menuntunnya kembali ke jalan yang benar," sahut Ummi.


Keduanya tersenyum selepas berpelukan, terlihat jelas di wajah mereka sebuah rasa syukur yang ada di hati masing-masing.


Suara adzan berkumandang menandakan jika waktu sholat dzuhur telah tiba, Ummi dan Salma terdiam mendengarkan dan menyahuti setiap kalimat yang di ucapkan muadzin kemudian memanjatkan do'a selesai adzan.


"Khusus saat ini kita jama'ah berdua ya Salma," ujar Ummi.


"Baik, Ummi, tapi Salma ke kamar dulu mau ambil mukenah." Pamit Salma.


Keduanya sholat berjama'ah bersama di mushollah ndalem, di rumah Ummi memang ada mushollah kecil yang sengaja di sediakan untuk dirinya dan Ummi sholat ketika tengah malam.


"Salma!" panggil Ummi sesaat setelah sholat usai.


"Iya, Ummi," sahut Salma menghentikan kegiatannya melipat mukenah dan beralih menoleh ke arah Ummi yang masih setia duduk di atas sajadah.


"Kamu panggil Tari setelah ini! ajak dia ke dapur untuk membantu Ummi memasak makan malam nanti." Titah Ummi.


"Baik, Ummi," Salma menuruti semua yang di perintahkan oleh Ummi, dia berjalan menuju kamar setelah selesai merapikan mukenah yang baru saja dia pakai.

__ADS_1


"Tari!" panggil Salma.


Saat ini Tari sedang asyik mengobrol dengan Mbak Ratna ketua kamar mereka, kepribadian Tari yang santai membuat dia mudah akrab dengan santri yang lain.


"Apa?" sahut Tari.


"Kamu di panggil Ummi," jawab Salma.


"Di panggil? memangnya ada apa?" sahut Tari tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya.


"Kamu di suruh bantuin masak buat entar malem," jelas Salma.


"Oh, masak, apa kamu juga ikut?" bukannya segera berdiri menghampiri Salma, Tari malah terus bertanya.


"Isshh nih anak banyak tanya, iya, aku juga ikut ayo! jangan tanya mulu!" Salma sedikit gemas melihat respon Tari yang menurutnya lelet.


"Ayolah!" sahut Tari berjalan mendekat ke arah Salma setelah menyambar kerudung yang teronggok begitu saja di atas bantal yang bertumpuk rapi di samping tempatnya duduk.


Keduanya berjalan beriringan menuju dapur ndalem rumah Ummi dengan niat membantu Ummi memasak sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Ummi.


"Assalamualaikum," ucap keduanya hampir berbarengan.


"Waalaikum salam," sahut Ummi.


"Masuklah!" sambungnya.


"Kita mau masak apa hari ini Ummi?" tanya Tari langsung pada intinya tanpa basa basi.

__ADS_1


"Hari ini kita masak soto ayam kampung sama tempe goreng," jawab Ummi.


Ketiganya pun memasak dengan senyum yang tak pernah luntur, bahkan terkadang suara tawa terdengar begitu membahagiakan. Rasa kesepian yang selama ini menemani Ummi seakan hilang saat dia bersama Tari dan Salma.


__ADS_2