
"Ummi akan memberimu izin asal kamu menikah dulu dengan Salma sebelum kembali ke kota," ungkap Ummi memberi syarat pada Kafa.
"Apa? menikah?" spontan Kafa.
"Iya, kamu harus menikah dengan Salma dulu," Ummi kembali mengulangi syarat yang harus di penuhi oleh Kafa agar dia bisa kembali ke kota.
"Bagaimana bisa aku menikah secepat itu Ummi, bukankah acara pernikahannya sudah di tentukan dan persiapannya baru akan selesai satu bulan lagi," Kafa mengutarakan alasan dirinya yang tidak bisa menerima syarat Ummi begitu saja.
"Semuanya bisa di atur Kafa, kamu jangan khawatir semua akan siap tepat waktu, tinggal kamunya aja mau atau tidak?" ujar Ummi dengan wajah penuh kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.
Kafa terdiam mendengar semua ucapan Ummi yang menurutnya tidak masuk akal itu, bagaimana mungkin persiapan pernikahan yang harusnya selesai satu bulan lagi bisa selesai dalam waktu satu minggu.
"Kamu jangan khawatir dan jangan banyak mikir! serahkan semuanya pada Ummi," ucap Ummi dengan penuh percaya diri mencoba meyakinkan Kafa agar dia mau menerima syarat yang di ajukan oleh Ummi.
Kafa sejenak berfikir, mengingat semua yang terjadi dan memperkirakan apa yang akan terjadi jika dirinya menolak atau jika dirinya menerima syarat yang di berikan oleh Ummi.
"Baiklah, aku akan menerima syarat yang Ummi berikan asal Ummi mau memberi Kafa izin untuk pergi ke kota." Menyerah sudah, Kafa tidak punya pilihan lain selain menerima syarat yang di ajukan oleh Ummi, bagaimanapun juga syarat yang di berikan pasti akan terjadi meski harusnya tidak saat ini.
"Alhamdulillah, aku akan beri tahu Salma tentang rencana pernikahan yang sudah di majukan, dan kamu Kafa! bersiaplah untuk menjadi suami yang baik nanti." Ujar Ummi berdiri dan sedikit mengintimidasi Kafa agar dia bisa menuruti semua yang Ummi ucapkan tadi.
"Iya, Ummi, Kafa sangat mengerti dan Ummi tidak perlu mengatakannya berulang kali," seru Kafa yang merasa jika sang Ummi sudah berkali-kali mengatakan jika Kafa harus menjadi suami yang baik untuk Salma.
"Bagus, Ummi mau balik ke kamar Salma. Kamu mau ikut Ummi atau masih mau tetap di sini?" tanya Ummi sebelum dia benar-benar pergi dari hadapan Kafa.
__ADS_1
"Ummi balik duluan saja. Kafa masih mau nikmati udara segar di sini." Jawab Kafa yang membuat Ummi bingung, Ummi langsung mengerutkan dahi mendengar ucapan Kafa yang menurutnya tidak masuk akal, meskipun yang di katakannya ada benarnya, tapi tetap saja tidak bisa di bilang udara segar.
Saat ini Kafa berada di taman yang ada di tengah-tengah rumah sakit, suasananya memang asri dan sesekali angin memang berhembus menerpa wajah, tapi bau obat dan bau khas rumah sakit tidak bisa di hilangkan, baunya cukup menyengat menyeruak ke dalam hidung.
Ummi terus melangkah meninggalkan Kafa yang masih setia duduk seraya menikmati suasana di sekitarnya, Kafa terus memikirkan bagaimana kehidupannya ke depan nanti, dan apakah Salma bisa di ajak hidup di kota.
"Astaghfirullah," lirih Kafa saat dia menyadari sesuatu dalam benaknya.
"Bagaimana jika Intan tahu kalau aku sudah menikah dengan Salma, apa dia akan baik-baik saja? bagaimana kalau Intan sampai melukai Salma? apa Salma bisa melawan Intan yang tempramental?" gumam Kafa saat menyadari jika dirinya telah membawa Salma dalam bahaya.
Kafa terus merenung memikirkan apa yang akan terjadi dan bagaimana cara mengatasinya, Kafa tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, Ummi pasti akan marah dan kecewa lagi jika dia tahu yang sebenarnya.
"Aku akan mengatakan segalanya pada Salma, dan aku harap dia bisa menerima juga siap menghadapi semuanya bersamaku," ungkapan hati Kafa yang merasa jika dirinya harus memberitahukan segalanya sebelum Salma tahu dari orang lain dan membuatnya marah juga kecewa.
Jika Kafa masih sibuk bergelut dengan segala pemikirannya dan solusi yang bisa dia ambil dalam menyelesaikan semua masalah, maka jauh berbeda dengan Ummi yang kini memberi kabar pada Salma, sebuah kabar yang sangat menggembirakan baginya tapi entah bagi Salma.
"Iya, Ummi, ada apa?" sahut Salma dengan ekspresi wajah terkejut melihat reaksi Ummi yang begitu bahagia saat masuk ke dalam kamar.
"Ummi ada kabar baik, dan akan jauh lebih baik lagi jika kamu setuju dwngan apa yang akan Ummi katakan sebentar lagi," ujar Ummi.
"Memangnya ada kabar apa Ummi?" sahut Salma kembali bertanya tentang kabar yang di katakan oleh Ummi.
"Sebelumnya Ummi mau tanya dulu padamu Salma," ujar Ummi sebelum mengatakan kabar yang dia bawa.
__ADS_1
" Ummi mau tanya apa?" tanya Salma yang terlihat semakin penasaran dengan kabar yang akan di bawa oleh Ummi.
"Jika acara pernikahanmu dan Kafa di majukan, apa kamu setuju Salma?" akhirnya Ummi mengatakan apa yang ingin dia tanyakan.
Mendengar pertanyaan yang di ajukan Ummi membuat Salma langsung terdiam seribu bahasa, bagaimana bisa pernikahan yang seharusnya akan berlangsung sebulan lagi akan di majukan.
"Bukankah acara pernikahannya sudah dekat ya Ummi?" Salma tidak langsung memberikan jawaban, dia malah kembali bertanya untuk menghilangkan semua rasa penasarannya.
"Memang benar, tapi Kafa ingin kembali ke kota untuk sementara waktu, dan Ummi akan merasa jauh lebih tenang jika Kamu dan Kafa sudah menikah saat Kafa kembali ke kota," Ummi mengungkapkan alasan dirinya mempercepat acara pernikahan Kafa dan Salma.
'Ke kota, apa aku akan baik-baik saja jika langsung pergi ke sana setelah menikah, sedangkan sikap Mas Kafa begitu buruk padaku," sebuah pertanyaan muncul di benak Salma yang membuat dia terdiam seprti seseorang yang sedang melamun.
"Salma!" Ummi mengusap pelan lengan Salma yang terlihat melamun sambil memanggilnya agar dia sadar dari lamunannya.
"Eh, i~iya Ummi, kenapa?" sahut Salma gugup.
"Kamu mikir apa? apa kamu keberatan dengan permintaan Ummi?" tanya Ummu dengan tatapan sendu yang tertuju pada Salma.
"Tidak Ummi, tidak, salma tidak keberatan kok," spontan Salma saat melihat ekspresi wajah sendu milik Ummi yang tampak di hadapannya.
"Alhamdulillah jika memang begitu, Ummi pulang dulu, kamu cepet sehat ya Salma," pesan Ummi seraya mengusap lembut lengan Salma kemudian melenggang pergi meninggalkan kamar Salma.
"Salma! woy!" panggil Tari menyadarkan Salma yang terlihat melamun di atas kasurnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Tari," reflek Salma yang terkejut dengan panggilan Tari yang cukup menggelegar dan menggema di seluruh penjuru kamar.
"Kamu ngapain ngelamun sendirian begitu? entar kesambet setan kamar ini gimana? aku juga entar yang repot," ujar Tari membuat Salma bergidik ngeri membayangkan jika apa yang di katakan Tari benar-benar menjadi nyata.