Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Pelan-pelan Mas!


__ADS_3

Malam panjang telah berlalu meninggalkan bumil, kini mentari pagi mulai bergulir memberi cahaya bagi penghuni bumi.


"Sayang, bangunlah!" Kafa mengusap lembut pipi Salma yang masih menikmati mimpi indah. dalam tidurnya di balik selimut tebal nan lembut.


"Hmmm, lima menit lagi," selalu saja kata ampuh bin mujarap itu selalu terucap dari bibir Salma yang masih setengah tidur.


"Kalau kamu tidak bangun sekarang, maka waktu belajar naik motor balap denganku akan habis dan terbuang sia-sia," Kafa mengatakan kata jitu yang dia yakini bisa membuat Salma langsung terbangun tanpa alasan ataupun kata.


Salma yang mendengar kata jitu langsung membuka mata duduk di atas kasur dengan mata yang terlihat masih memerah karena baru saja bangun tidur.


"Tunggu aku lima menit lagi Mas! aku akan siap." Ujar Salma yang langsung turun dari kasur berjalan menuju kamar mandi.


"Dasar Salma, lama-lama kamu kayak anak kecil aja," lirih Kafa dengan senyum yang mengembang di pipinya.


Benar saja, Salma membersihkan diri secara kilat, dalam lima menit Salma langsung selesai membersihkan diri, semangatnya tidak pernah luntur, kini dia terlihat begitu segar dengan semangat yang membara berjalan menemui Kafa yang sedang duduk santai di ruang keluarga.


"Ayo Mas!" ajak Salma sesaat setelah sampai di ruang keluarga.


"Kalian sudah akur lagi?" tanya Ghozi saat melihat Salma berjalan mendekat sambil memanggil Kafa.


"Tentu saja, dia istriku, lagi pula kapan kita bertengkar? perasaan sejak kemarin kita tidak bertengkar," jawab Kafa yang membuat Salma tersenyum.


Kafa dan Salma memang tidak bertengkar, tapi Kafa hanya diam tanpa mau menyahuti ucapan Salma, semuanya terasa asing dan begitu dingin ketika Kafa sedang marah.


"Terserah kalian saja, aku malas untuk mendengar dan melihat apa yang kalian lakukan," ujar Ghozi berdiri berjalan keluar dari ruang keluarga menuju kolam yang terlihat begitu segar nan menggoda.


"Lah, dia kenapa Mas Kafa?" tanya Salma menatap heran ke arah Ghozi yang justru keluar dari ruang keluarga setelah mendengar jawaban Kafa.


"Entahlah, aku tidak tahu dan tidak mau tahu, terserah dia mau ngapain," jawab Kafa acuh.


"Mas Kafa mau ke mana? bukankah kita mau belajar balapan? kenapa Mas Kafa malah ke dapur?" tanya Salma menatap aneh ke arah Kafa sambil berjalan mengikuti langkahnya.


"Balapan juga butuh makan Salma, kamu kira orang balapan itu gak butuh tenaga apa," lagi-lagi Kafa mengatakan apa yang menurutnya benar meski terkesan seenaknya sendiri.


"Tenaga apa sih Mas? gak jelas, cuman ngendarai motor aja pakek tenaga segala, tinggal jeglek langsung ngeeeeng, udah jalan," ujar Salma merasa aneh dengan ucapan Kafa yang mengatakan kalau naik motor balap itu butuh tenaga.


"Sudah, jangan banyak bicara! lebih baik kita makan saja dulu. " Ujar Kafa yang langsung mengajak Salma makan, menuntunnya ke dalam dapur dan mengajaknya makan.


"Ishhh, bilang aja kalau aku di suruh sarapan, gitu aja banyak alasan kamu Mas," ucap Salma yang baru saja sadar jika Kafa memang hanya ingin mengajak Salma sarapan.


"Sudah ayo makan!" Kafa mengambilkan nasi dan lauk yang baru saja siap di sajikan di atas meja dan meminta Salma untuk memakannya.


"Mbok Sumik dan Ghozi mana? kok cuma kita berdua yang makan?" tanya Salma, biasanya mereka. makan bersama tapi kini Mbok Sumik dan Ghozi tak terlihat batang hidungnya.

__ADS_1


"Sudah, makan saja! mereka akan makan jika merasa lapar nanti." Sahut Kafa yang cukup membuat Salma heran, tak biasanya Kafa seperti saat ini, biasanya dia akan mengajak makan Ghozi dan Mbok Sumik, katanya biar ramai.


Salma taklagi membalas ucapan Kafa, dia langsung memakan apa yang di ambilkan oleh Kafa di atas meja dan mulai memakannya hingga tandas tanpa tersisa.


Jeglek,


Grenggg ... grengg ... greng ....


Salma mulai menyalakan motor balap milik Kafa yang terparkir cantik di garasi dengan kontak yang tadinya menggantung indah di setang motor.


"Memangnya kamu bisamemakai motor itu?" tanya Kafa menatap heran dan wajah terkejut melihat Salma sudah menyalakan motor miliknya.


"Perlnahlah, kalau tidak pernah aku gak bakal bisa nyalain motor seperti ini," jawab Salma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Sejak kapan?" tanya Kafa yang kini berjalan mendekat, entah kenapa dia tiba-tiba merasa penasaran dengan Salma yang ternyata bisa mengendarai motor seperti saat ini.


"Sejak dulu," jawab Salma santai.


"Aku kok gak pernah tahu?" Kafa kembali bertanya.


"Kamu gak pernah nanya sama aku," jawab Salma.


"Apa dulu kamu pernah ikut balapan? atau kamu memang pembalap liar yang baru insyaf?" tanya Kafa yang semakin penasaran fikirannya kemana-mana dan tak tentu arah.


"Aku tidak akan mengajarimu jika kamu tidak bercerita sejak kapan dan bagaimana ceritanya kamu bisa mengendarai motor balap itu," ancam Kafa yang terlihat sangat penasaran dengan apa yang pernah di alami oleh Salma sebelum dia bertemu dengan Kafa.


"Aku janji padamu, nanti aku pasti akan ceritakan semuanya, tapi untuk saat ini aku minta ajari aku dulu." Pinta Salma.


"Baiklah, aku akan mengajarimu, kita pergi ke jalan komplek yang belum jadi di sebelah, setelah itu kamu harus menceritakan semuanya tanpa terkecuali." Kafa mencoba membuat kesepakatan dengan Salma sebelum dia benar-benar mengajarinya.


"Setuju," Salma tak ingin terlalu lama berdebat di garasi milik Kafa dia ingin segera mencoba memakai motor milik Kafa, meskipun hatinya pasti akan terluka nanti, tapi Salma tetap harus melakukannya demi busa memenangkan tantangan yang di berikan oleh Intan sang ulat bulu yang selalu mengganggu itu.


Kafa langsung berjalan menaiki jok belakang motor yang di naiki oleh Salma, motor yang sudah di modifikasi dan bisa di pakai oleh dua orang.


Salma terdiammemaku di tempat duduknya ketika Kafa duduk tepat di belakang dia duduk, posisi mereka sangat mepet hingga Salma bisa merasakan detak jantung Kafa yang berdebar kencang di belakangnya.


"Ini aku yang nyetir atau kamu?" tanya Kafa sebelum menjalankan motornya.


"Aku saja, Mas Kafa duduk di belakang dan nilai bagaimana caraku mengendarai motor ini," jawab Salma.


"Tidak perlu! aku saja yang menyetir, kalau kamu yang nyetir gak bakal aman, turunlah!" titah Kafa.


Salma mengerutkan dahi bingung dengan sikap Kafa, kalau dia yang mau menyetir kenapa tadi naik? malah duduk mepet sekali dengan tempat Salma duduk.

__ADS_1


"Mas Kafa turun dulu! bagaimana aku bisa turun kalau Mas Kafa seprrti ini?" Salma yang bingung bagaimana cara dia turun kini mulai protes.


Sedang Kafa malah tersenyum lucu mendengar protes dari Salma, karena saat ini Kafa memang sengaja menggoda Salma dengan sikapnya.


"Mas, turunlah!" pinta Salma.


"Sebentar, jangan terburu-buru!" jawab Kafa yang kini menegakkan badan hendak turun dari atas sepeda motornya.


Kafa sengaja duduk sedikit lebih lama agar bisa berada dekat dengan Salma, karena itulah Kafa tidak langsung turun dari atas motor.


"Mas!" sekali lagi Salma memanggil Kafa agar dia segera turun dari atas motor.


Kafa kembali tersenyum dan kini mulai turun dati atas motor dan meninggalkan Salma yang masih setia duduk di atas motornya.


"Sejak tadi donk bilang kalau Mas Kafa akan turun dari motor, tau gini aku gak usah susah payah nyalain motornya," keluh Salma.


"Memang sesusah itu ya buat nyalain motornya," ujar Kafa dengan wajah biasa saja tanpa dosa.


"Tidak juga," jawab Salma sambil naik ke atas motor.


Bukan menyalakan motornya yang susah, tapi kenangan yang ada di dalamnya yang mampu membuat Salma merasa kesusahan.


"Ayo naik!" ajak Kafa yang melihat Salma hanya diam mematung di hadapannya.


"Baiklah," jawab Salma mulai naik ke atas motor di mana Kafa tadi naik.


"Pegangan!" titah Kafa dengan suara yang keras karena dia sedang memaki helm.


"Iya, nanti aku pegangan," jawab Salma yang masih setia dengan posisinya.


"Sekarang Salma!" titah Kafa tapi Salma tak menjawab atau menghiraukannya.


Salma diam tak menjawab ucapan Kafa dia tetap saja duduk di posisinya tanpa berpegangan.


Greng ....


Kafa mengegas motornya hingga Salma hampir saja terjungkal dari atas motor jika dia tidak langsung berpegangan.


"Pelan-pelan Mas!" teriak Salma di atas motor yangkini sudah melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


Kafa tersenyum sambil memperlambat laju motornya.


"Bagaimana kamu bisa menang melawan Intan kalau naik dengan kecepatan seperti tadi saja takut," ujar Kafa merasa jika Salma pasti akan kesulitan melawan Intan natinya.

__ADS_1


__ADS_2