Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Penampilan bukan jaminan


__ADS_3

"Enak saja bilang Maaf, Ibu tidak lihat bagaimana keadaanku saat ini? baju dan wajahku basah semua," gadis itu terlihat masih belum bisa terima dengan apa yang sudah terjadi.


"Aku dan puteriku meminta maaf karena kami tahu keadaanmu," sahut Ummi dengan ekspresi wajah yang tak baik-baik saja, beliau terlihat emosi menanggapi gadis yang ada di hadapannya itu.


"Semua ini tidak bisa di selesaikan hanya dengan kata maaf, aku tidak mungkin kembali dengan baju seperti ini, lihatlah! bajuku jadi basah karena puteri cerobohmu itu!!" ujar gadis itu dengan emosi yang terlihat masih meletup-letup.


Ummi menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan seolah mengumpulkan rasa sabar yang hampir menipis.


"Sekarang katakan apa mau mu? kami sudah minta maaf dan melakukan apa yang memang harus kami lakukan, tapi jika kamu melakukan sesuatu yang tidak baik maka kami tidak akan segan-segan melawannya." Ummi mengatakannya dengan penuh ketegasan.


"Ganti rugi! kalian harus mengganti bajuku yang basah ini dengan baju baru!" jawab gadis itu.


"Ada apa ini?" suara Ghozi mengejutkan semua yang ada si pasar, baik itu yang bertengkar ataupun mereka yang bukan penjual asli dari sana.


"Ghozi," lirih Ummi yang merasa jika Ghozi datang di waktu yang tepat.


"Mas Ghozi?" gumam gadis yang sejak tadi berperang mulut dengàn Tari dan Ummi, gadis itu langsung mematung, tubuhnya kaku setelah mendengar suara yang sangatfamiliar di telinganya.


"Ada apa ini? katakan! Ada apa? Apa yang terjadi?" Ghozi yang berada tepat di belakangnya gadis yang sejak tadi berdebat dengan Ummi dan Tari.


"Aku tidak sengaja menumpahkan es teh milik Mbak ini, dan dia meminta kita untuk tanggung jawab," jawab Tari dengan kepala yang masih menunduk.


"Katakan! Kita harus mengganti kerugianmu dengan apa? Apa kamu minta uang? atau kamu minta baju baru yang sama seperti baju yang kamu pakai sekarang?" tegas Ghozi.


Perlahan tapi pasti gadis yang sejak tadi emosi mencoba meyakinkan dirinya kalau orang yang sedang berbicara di belakangnya itu bukanlah orang yang sama seperti perkiraannya.

__ADS_1


"Mas Ghozi," panggil gadis itu.


"Aisyah," sahut Ghozi dengan ekspresi terkejut dia menyahuti panggilan gadis yang sejak tadi emosi itu tang ternyata bernama Aisyah.


"Mas Ghozi ngapain di sini? dan kenapa Mas Ghozi terlihat perhatian sama mereka?" tanya Aisyah dengan penuh rasa penasaran dan ekspresi ragu yang tergambar jelas di wajahnya.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu Aisyah, apa yang kamu lakukan di sini?" bukannya menjawab Ghozi malah balik bertanya.


"Aku sedang makan soto ayam kesukaanku Mas," jawab Aisyah yang terlihat sudah akrab dengan Ghozi, dia berbicara tanpa ada rasa canggung.


"Dan kenapa kamu berteriak pada mereka?" Ghosi kembali bertanya dwngan tatapan lekat menuju ke arah Aisyah, Ghozi terlihat menyelidiki setiap sorot mata Aisyah seolah dia mencari kejujuran di dalamnya.


"Kamu lihat Mas! gadis berbaju tosca itu menyenggol es teh milikmu dan lihatlah! baju dan wajahku basah karenanya," Aisyah terlihat mengadu pada Ghozi.


"Apa mereka sudah meminta maaf padamu?" tanya Ghozi, dalam fikirannya Tari dan Ummi adalah perioritas utama baginya saat ini.


"Tapi baju dan wajahku sudah basah karena kelakuan dia," rengek Aisyah seraya menunjukkan baju yang masih basah karena tumpahan es teh tadi.


"Seharusnya kamu tidak perlu semarah itu jika hanya karena baju yang basah, seharusnya kamu lebih sopan pada orang yang lebih tua Aisyah," ucap Ghozi yang cukup membuat Tari dan Aisyah bingung karenanya, Tari masih bingung menebak siapa gadis yang ada di hadapannya, sedang Ghozi terus saja menasehati Aisyah dengan nasehat yang baik, seperti seorang kakak pada adiknya atau seperti seorang kekasih pada pasangannya.


"Terus aku harus bagaimana Mas?" kali ini Aisyah memasang wajah polos yang cukup membuat Tari jijik karenanya.


Biasanya Ghozi akan bersikap dingin dan terkesan acuh taacuh pada orang yang baru dia kenal. Tapi kali ini sangat berbeda.


"Kamu bisa langsung pulang dan mengganti baju itu, bukankah rumahmu tidak terlalu jauh dari sini, lagi pula untuk apa kamu teriak-teriak seperti tadi? tidak ada manfaatnya," ujar Ggozi dengan ekspresi wajah jengkel Ghozi berucap.

__ADS_1


"Mereka harus tanggung jawab dulu Mas, baru aku bisa lega, enak saja, sudah melakukan kesalahan tapi gak mau tanggung jawab.


"Tanggung jawab seperti apa yang kamu mau Aisyah, mereka itu keluargaku, Ibu yang sejak tadi kamu marahi itu Ibu angkatku, pemilik," suasana langsung hening, tak ada satu orangpun yang berucap terutama Aisyah yang sejak tadi berani memarahi Ummi, dan membentak Tari yang di cintainya.


"Maaf, aku tidak tahu jika mereka keluargamu," ujar Aisyah yang menurut Ggozi telat.


Kenapa baru sekarang meminta maaf setelah Aisyah tahu jika kedua orang yang sejak tadi dia marahi adalah keluarga Ghozi, kenapa tidak sejak tadi saja?


"Tidak perlu, lebih baik aku pergi dari sini, permisi," tanpa memperdulikan Aisyah, Ghozi melangkah meninggalkanya.


"Ummi, Tari, ayo kita pulang!" ajak Ghozi yang langsung di turuti oleh keduanya.


Tari sangat bersyukur karena Ghozi datang tepat waktu, meskipun dalam benaknya timbul sejuta pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tapi Tari tetap merasa bersyukur, jika saja Ghozi tidak datang, mungkin Tari masih berada di warung itu mendengar setiap omelan bernada ketus dari seorang gadis yang berpenampilan lembut.


"Sudah, jangan di fikirkan!" ujar Ummi seraya menggenggam tangan Tari yang sedang duduk sampingnya.


Ummi yang mengerti jika saat ini Tari masih merasa heran dan tertegun lebih memilih menenangkannya.


"Aku tidak enak hati, Ummi, seharusnya tadi kita bisa membelikan baju baru untuknya sebelum pergi," lirih Tari.


"Jangan di fikirkan Tari! Aku kebal baik dengannya, lagi pula rumah dia dekat kok gak sampai dua meter dari tempat kalian bertengkar," sahut Ghozi yang tak ingin Tari terus memikirkan hal yang menurutnya tidak penting itu.


"Ghozi benar, Nak, lagi pula baju yang terkena air tasi tidak terlalu banyak, jadi kamu tidak perlu khawatir!" Ummi yang mendengar ucapan Ghozi ikut memenangkannya.


Tari terdiam, jika dulu Tari berada di posisinya saat ini, bisa di pastikan dia tidak akan merasa tidak enak hati kerana apa yang terjadi itu bukanlah masalah besar, tapi entah mengapa setelah berada cukup lama di pesantren membuat Tari berubah, dia lebih memikurkan perasaan orang lain dari pada perasaannya sendiri yang terkadang justru membuatnya kerepotan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2