Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Ketika Mantan bertemu dengan istri


__ADS_3

"Braaakkk!!!"


Kafa tiba-tiba menggebrak meja setelah membaca satu pesan singkat dari Ghozi.


"Maaf, Mas Kafa, aku mengajak Neng Salma yang terluka karenamu pulang, sebelum dia semakin terluka, Ingat pesanku dulu! dan ini adalah tugas dari Ummi,"


Satu notif pesan yang cukup singkat tapi berisi ancaman juga pengingat untuk Kafa yang saat ini sudah melampaui batas.


"Sial!!" umpat Kafa.


"Kamu kenapa? apa ada hal buruk yabg terjadi?" tanya Intan yang tidak mengerti apa yang terjadi pada Kafa.


"Diam! semua ini gara-gara kamu," sarkas Kafa dengan nada menekan dan tatapan tajam.


"Aku? emangnya aku salah apa?" tanya Intan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


"Sudahlah! tidak ada gunanya aku berbicara denganmu," sahut Kafa yang terlihat tak lagi perduli dengan apa yang di katakan Intan, Kafa berdiri lalu beranjak pergi meninggalkan Intan tanpa memperdulikannya lagi.


Melihat sikap Kafa yang tak lagi memperdulikannya membuat Intan semakin bingung, Kafa pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan, dia hanya menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah di bawah gelas minum yang ada di hadapannya.


"Dasar aneh," lirih Intan yang merasa sikap Kafa saat ini benar-benar aneh.


Kafa berjalan dengan langkah lebar meninggalkan cafe berniat menyusul Salma yang Kafa fikir sudah sampai di rumah. Kafa langsung menancap gas mobilnya melaju begitu kencang membelah jalanan menuju rumahnya.


"Ke mana Ghozi? kenapa dia masih belum sampai?" tanya Kafa karena dia tidak menemukan mobil Ghozi di parkiran depan rumah.

__ADS_1


"Mbok Sumik!" panggil Kafa dengan suara yang cukup keras memekakan telinga.


"Mbok!" sambung Kafa dengan suara yang semakin memekakan telinga.


"Ada apa Mas Kafa?" sahut Mbok Sumik berjalan cepat menemui Kafa.


"Ghozi di mana?" bukannya menjawab Kafa malah kembali bertanya.


"Mas Ghozi tidak ada di rumah, tadi dia ikut pergi dan keluar dari rumah bersamaan dengan Mas Kafa dan Neng Salma," jawab Mbok Sumik.


"Shittt!!" Kafa seolah melupakan segala hal baik yang pernah dia pelajari, rasa emosi bercampur rasa cemburu yang menguasai hatinya kini juga ikut menguasai logikanya.


Kemarahan Kafa sangat jauh berbeda dengan apa yang saat ini di alami oleh Kafa, kini Salma duduk di bangku taman sendirian menikmati semilir angin yang berhembus pelan, menerpa wajahnya, dan Ghozi hanya bisa menatap sendu ke arah Salma yang terdiam menatap ke depan dengan tatapan kosong.


Tanpa terasa air mata mengalir dengan sendirinya, perlahan tapi pasti aliran itu semakin deras dan Salma tak lagi mampu menahan ataupun menghentikannya, air matanya saat ini seperti tak bisa habis, bagaimanapun Salma memiliki perasaan yang harusnya di jaga oleh Kafa, seharusnya Kafa merahasiakan semuanya dari Salma agar dia tidak terluka.


"Apa aku harus mundur dan pergi saja? atau aku harus bertahan sesuai dengan apa yang di katakan Kafa?" lirih Salma yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


'Kenapa kamu beri aku harapan jika pada akhirnya harapan itu juga sirnah, kenapa aku harus kau bahagiakan jika pada akhirnya aku engkau jatuhkn seperti ini,' batin Salma kembali bersuara mencoba mengungkapkan segala rasa sakit yang ada di hatinya.


Salma terus menangis tanpa henti, dia terlihat sedang memuaskan diri untuk menumpahkan segala rasa sakit yang ada dalam dirinya, apa yang di lakukan Salma sangat berbeda dengan apa yang di lakukan oleh Kafa, dengan emosi yang sudah meluap Kafa menyalakan ponsel dan menghubungi sebuah nomor yang ada di ponselnya.


Dddrrrtttt ... dddrrtttt ... dddrrrttt ....


Getar ponsel terasa di saku celana Ghozi yang kini sedang duduk di bangku tak jauh dari tempat salma duduk.

__ADS_1


"Mas Kafa, ada apa lagi dia menelfon? bukankah dia masih di Mall bersama kekasihnya?" lirih Ghozi menatap lekat ke arah layar ponsel yang menyala, Ghozi mengira Kafa memang mencintai Intan dan masih memiliki hubungan dengannya, karena itulah Ghozi membawa Salma pulang dan membiarkan Salma sendirian menangis sepuas hatinya menikmati rasa sakit yang ada di hatinya, dengan begitu Ghozi berharap Salma akan merasa lebih baik setelahnya.


"Assalamualaikum, ada ap~" suara Ghozi terpotong dengan suara keras Kafa yang terdengar begitu menggelegar di sebrang.


"Ghozi!! di mana Salma?" sarkas Kafa sesaat setelah panggilan suara di angkat.


Ghozi tak menjawab ucapan Kafa, dia mengalihkan panggilan suara ke panggilan video, bagaimanapun keadaan Salma saat ini Kafa berhak tahu, karena Kafa memang suaminya saat ini.


Tanpa berfikir panjang Kafa langsung menyetujui permintaan Ghozi untuk mengalihkan panggilan.


"Aku mohon padamu Mas Kafa, tolong jangan ganggu Salma sekarang! biarkan dia meluapkan segala rasa sakit yang ada di hatinya, setidaknya biarkan dia menangis sampai hatinya lega," ucap Ghozi pada Kafa.


Kafa tak lagi memperdulikan ucapan Ghozi, kini dia memusatkan perhatian pada Salma yang terlihat menatap kosong kearah depan dengan air mata yang terlihat jelas mengalir di pipinya, tanpa perlu di jelaskan lagi Kafa sudah mengerti apa yang terjadi pada Salma.


'Maaf Salma, maafkan aku, setelah melihat air matamu aku akan menceritakan segalanya, aku akan mengatakan semuanya padamu, saat ini aku yakin jika apa yang aku rasakan ini benar-benar cinta dan sayang, melihatmu terluka seperti itu hatiku juga terluka tanpa bisa aku mencegahnya,' kini batin Kafa mulai berucap.


Kafa terdiam mematung menatap ponsel yang kini masih menunjukkan bahwa Salma sedang terluka karenanya, wajah yang biasanya selalu terlihat tersenyum dan bahagia kini tengah di penuhi air mata, Kafa sadar jika dirinya memang salah, bagaimanapun juga Salma menangis karenanya.


"Aku akan ke sana." Ucap Kafa.


"Jangan!" cegah Ghozi yang langsung mengalihkan kamera ke arahnya.


"Jangan kamu bilang, istriku sedang bersedih di taman bersama laki-laki lain dan kamu melarangku untuk menemuinya, ingat Ghozi! aku ini suaminya dan kamu hanya bertugas menjaganya bukan berusaha menggantikan posisiku," tegas Kafa dengan nada tinggi dia mengingatkan Ghozi.


"Aku tahu jika aku bukan suaminya, dan Mas Kafa juga Harus tahu kalau aku tidak akan merebutnya darimu, aku hanya tak ingin Salma semakin bersedih, aku hanya ingin dia membuang perlahan rasa sakit di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2