
Salma memang orang yang ramah dan penuh dengan kasih sayang, keempat istri karyawan Kafa merasa begitu nyaman berada di samping Salma, meski awalnya mereka merasa sungkan, namun pada akhirnya keempat wanita itu terlihat akrab dengan Salma.
"Menurut kalian bagaimana rasanya?" tanya Salma setelah semua makanan yang ada di atas meja mereka tandas tak tersisa.
"Enak Neng," jawab salah satu dari mereka.
"Ngomong-ngomong kalian kok bisa ada di sini? terus tadi kok sepi aku tidak lihat kalian?" tanya Salma merasa aneh dengan kedatangan istri dari karyawan Kafa yang tiba-tiba.
"Sejak tadi kami sudah ada di hotel ini menunggu kedatangan Mas Kafa dan Neng Salma, tapi kami ada di lobbi tidak berani masuk sebelum mendapat perintah," jawab Fitri.
"Kenapa kalian juga ikut meeting? apa biasanya memang seperti ini? para istri ikut dan menunggu para suami yang sedang meeting?" tanya Salna merasa aneh dengan kehadiran istri dari para anggota rapat hari ini.
"Tidak Neng, hari ini merupakan hari spesial, jadi Tuan Kafa mengajak semua orang kepercayaannya untuk ikut meeting bersama di hotel tidak sampai di situ saja, Tuan Kafa mentraktir kita menginap di tempat semewah ini dengan seluruh fasilitas yang tersedia di sini," jelas Fitri yang terlihat lebih berani berbicara dari pada yang lain, mungkin Fitri terlihat lebih berani karena lebih sering datang untuk berbicara langsung pada Kafa jika Kafa ada di pesantren.
"Apa Mas Kafa sebaik itu?" tanya Salma seolah tak percaya jika suami nya memang orang baik dan penuh perhatian.
"Tentu saja Neng, Mas Kafa benar-benar contoh pemimpin yang sangat baik, meski banyak yang bilang jika Mas Kafa berubah jadi anak yang tidak baik, tapo bagi kami yang sudah cukup lama kenal, Mas Kafa tetap orang yang paling baik," jawab Fitri yang di angguki oleh anggota yang lain.
'Ternyata Mas Kafa baik juga,' batin Salma.
Selama ini Salma selalu berfikir jika Kafa bukanlah orang yang akan memiliki kebaikan yang di ceritakan oleh istri dari karyawanya.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Kafa yang baru saja masuk setelah meyelesaikan meetingnya.
"Sudah, kami permisi dulu Neng." Pamit ke empatnya tanpa di suruh, mereka ssolah mengerti dengan apa yang di inginkan oleh bos mereka.
"Apa sekarang kamu sudah kenyang Sayang?" tanya Kafa saat melihat semua makanan yang tadi di pesankannya tandas tak tersisa.
"Alhamdulillah kenyang, Mas, tapi kamu belum sarapan Mas," ujar Salma.
__ADS_1
"Aku kira kamu sudah lupa kalau aku juga belum sarapan," sahut Kafa.
"Maaf, aku tidak menyisahkannya untukmu, lain kali aku akan ingatkan diriku agar selalu menunggumu untuk makan," ujar Salma dengan ekspresi wajah penuh penyesalan yang dia tunjukkan.
"Sudah, tidak apa-apa, lagi pula tadi aku yang menyuruhmu untuk makan bukan, jadi jika makanannya habis bukan masalah bagiku, nanti aku bisa pesan makanan di kamar," tutur Kafa yang tak ingin melihat Salma bersedih.
"Tunggu! Mas tadi bilang apa? kamar? ini maksudnya bagaimana ya?" tanya Salmà bingung dengan apa yang terjadi.
"Maksudnya kita tidak langsung pulang, untuk malam ini kita menginap di sini Sayang," jelas Kada saat melihat Salma justru bingung karenanya.
"Kenapa harus menginap di sini Mas, kenapa tidak langsung pulang saja?" tanya Salma penasaran dengan apa yang sudah di katakan oleh Kafa.
"Sesekali menikmati suasana berdua di tempat yang belum pernah kita singgahi seperti saat ini bukan ide yang buruk Sayang, lagi pula kita bisa menikmati suasana baru yang masih bisa di dengar olehnya," ujar Salma.
Setelah mendengar penjelasan Kafa, Salma hanya bisa diam dan mengikuti langkah Kafa seperti biasanya, Kafa mengajak Salma masuk ke sebuah ruangan di lantai yang cukup tinggi.
"Nanti malam kita bisa melihat gemerlap lampu yang menyala membuat pemandangan kota di pagi itu terasa begitu indah" lampu di malam hari.
"Benarkah?" sahut Salma dengan ekspresi wajah terkejut bercampur dengan penasaran.
"Tentu saja, aku tidak pernah beebohong padamu Sayang," jawab Kafa mencoba meyakinkan Salma jika apa yang dia ucapkan barusan memang benar.
"Aku akan melihatnya nanti malam," sahut Salma yang terus melihat pemandangan yang ada di bawah hotel.
Awalnya keduanya diam tak mau bicara hingga seorang pelayan meminta izin untuk masuk ke dalam kamar.
"Ada apa?" tanya Kafa yang kini berdiri tepat di depan pintu.
"Permisi Tuan, layanan kamar," jawab pelayan itu.
__ADS_1
"Masuklah!" jawab Kafa.
"Apa kamu bisa memijat?" tanya Kafa sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Sedikit Tuan," jawab sang pelayan yang masih mengikuti langkah Kafa yang terus berjalanv hingga sampai di ruang keluarga, sungguh hotel yang di tempati Kafa dan Salma terlihat begitu lengkap tanpa cacat.
"apa kamu bisa membantu memijat istriku?" tanya Kafa.
"Insya allah saya pati bisa," sanggup sang pelayan.
"Baiklah, ikut aku!" Kafa mengajak pelayan tadi untuk pergi mengikuti langkahnya menemui Salma yang ternyata masih berada di tempatnya, belakang selambu jendela.
"Sayang!" panggil Kafa mencoba membuyarkan lamunan Salma.
"Mas Kafa, ada apa ini?" tanya Salma merasa bingung dengan Kafa yang datang bersama seorang wanita yang terlihat berpakaian rapi sama seperti seorang pelayan yang tadi menyambut Salma di pintu menuju ruang rapat.
"Dia bisa memijatmu jika kamu lelah, dan kamu bisa beristirahat sambil di pijat sekarang," jawab Kafa.
'Pijat? astaga, aku tidak bisa di pijat oleh siapapun saat ini, maha karya Mas Kafa saja masih belum hilang, dan aku tidak mau malu karenanya,' batin Salma merasa jika apa yang di katakan Kafa bukanlah hal yang baik untuk saat ini.
"Mas, maaf, aku hanya ingin menikmati suasana tenang dengan pemandangan indah ini lebih dulu. Jadi aku tidak mau di pijat," Salma mencoba mencari alasan agar dirinya tidak perlu pijat.
"Tapi Mas sudah menghubungi pelayan untuk datang memijatmu, Sayang," sela Kafa yang mengerti jika Salma saat ini pasti merasa lelah dan akan menjadi lebih baik lagi jika mau di pijat.
"Mbak, maaf ya, aku tidak mau di pijat sekarang, apa Mbak bisa kembali bekerja dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena keinginan suamiku ini," Salma tak lagi mau berbicara dengan Kafa yang terlihat terus saja mencari alasan agar Salma mau di pijat, bahkan Kafa terkesan seperti seseorang yang sedang memaksakan kehendaknya pada orang lain.
"Bagaimana ini Tuan?" pelayan itu tak berani langsung pergi tanpa persetujuan Kafa, karena yang memintanya datang tadi Kafa bukan Salma.
"Pergilah!" menyerah sudah, percuma memaksa Salma, saat ini Salma mang terlihat sedang menikmati apa yang ada di sekitarnya.
__ADS_1