
"Maaf ya Mbak," ucap Salma yang terlihat sungkan karena dia tidak jadi pijat dan Kafa bersikap seenaknya.
"Tidak masalah, kalau begitu saya permisi." Pamit pelayan itu seraya pergi meninggalkan Salma dan Kafa yang masih berdiri di tempatnya.
"Mas Kafa gak boleh seperti itu," ujar Salma yang merasa jika sikap Kafa bukanlah sikap yang baik untuk di lakukan, harusnya Kafa meminta maaf bukan malah nyuruh pergi seenaknya seperti yang dia lakukan barusan.
"Gak boleh seperti apa maksudmu, Sayang?" tanya Kafa.
"Harusnya Mas Kafa meminta masf karena sudah membatalkan pekerjasn yang seharusnya dia kerjakan," ujar Salma.
"Kenapa aku harus minta maaf, bukankah sudah tugas dia mengantarkan makanan ke kamar ini, kalau aku minta dia mengerjakan yang lain otomatis dia akan dapat uang tambahan, tapi kalau aku membatalkannya bukan masalah juga bagi dia, lagi pula jadi atau tidak dia akan tetap ke sini untuk mengantar makanan," sahut Kafa yang tak ingin di salahkan oleh Salma.
'Susah ngomong sama orang yang memang punya sifat seenaknya sendiri sejak lahir,' batin Salma menatap jengah ke arah Kafa yang justru terlihat cuek dan tak peduli, dia malah pergi menikmati makanan yang tadi di bawah oleh pelayan.
Salma kembali menatap indahnya ciptaan sang pencipta yang kini terpampang di depan mata.
"Kamu mau di situ terus atau ikut aku?" tanya Kafa saat melihat Salma hanya diam di tempat tanpa bergerak hingga Kafa selesai makan.
"Sayang!" Kafa mencoba memanggil Salma yang tak kunjung merespon panggilannya.
"Salma!" sekali lagi Kafa memanggil Salma yang masih saja diam tak menjawabnya.
Kafa yang merasa jika Salma melamun langsung berjalan mendekat ke arah Salma dan mencolek bahunya, benar saja Salma melamun dengan air mata yang menetes tanpa sebab.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Kafa dengan ekspresi penuh rasa penasaran, Kafa memegang kedua bahu Salma menatap matanya lekat mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu kenapa Salma?" tanya Kafa yang sukses membuat lamunan Salma buyar.
__ADS_1
"Eh, tidak apa-apa Mas," jawab Salma sembari menghapus air mata yang tersisa di wajahnya.
"Kalau tidak apa-apa, kenapa kamu bisa menangis seperti itu?" Kafa kembali bertanya karena melihat Salma yang menangis tanpa sebab yang pasti.
"Aku hanya rindu Ayah dan Ibuku, jika saja Ibu dan Ayahku masih hidup, aku yakin mereka pasti akan merasa bahagia bila aku ajak liburan ke sini, menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang aku yakini pasti belum mereka rasakan," Salma menjelaskan alasan dirinya menangis.
Salma menangis karena sebuah rindu yang tak akan pernah bisa terobati, rindu pada dia yang telah pergi bertemu sang ilahi adalah rindu yang paling menyiksa, karena hanya mimpi yang bisa kita harapkan.
Kafa terdiam menatap lekat ke arah Salma yang kini menunduk lesu menikmati setiap rindu yang sejak tadi menyiksanya.
"Bersabarlah, setiap ujian pasti ada hikmahnya, jika saat ini kamu di uji maka itu artinya kamu mampu melewatinya dan kamu bisa menjalani ujian itu, ketahuilah kalau setiap ujian yang kamu lewati meninggikan drajatmu di mata ilahi," Kafa mencoba menenangkan Salma yang terlihat sedang bersedih.
"Tapi rindu ini datang tanpa aku minta, meski sekuat tenaga aku berusaha menghapusnya, tapi cinta dan sayang yang masih tertinggal dalam hatiku terkadang menimbulkan sebuah rindu yang tak memiliki ujung." Ujar Salma.
"Sayang, jika kamu merindukan kedua irang tuamu, jangan terpuruk seperti ini! lebih baik sekarang kita sholat bersama dan mengirim do'a agar mereka tenang di alam sana, nanti jika semua masalah di sini sudah selesai aku akan mengajakmu pergi ke makam mereka." Kafa yang mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Salma mencoba menenangkan hatinya yang tengah gelisah, memeluk erat sang istri mencurahkan segala cinta yang dia miliki.
"Terima kasih, Mas," balas Salma yang kini juga ikut memeluk tubuh Kafa menenggelamkan wajahnya tepat di dada Kafa.
"Sudah jangan bersedih! sekarang kita sholat dhuha dan do'akan kedua orang tuamu, setelah itu kita bisa jalan-jalan menghilangkan penat," ajak Kafa.
Sebenarnya Kafa mengajak Salma menginap di hotel karena ingin menyenangkannya, melihat senyum indah milik Salma memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Kafa, karena itulah Kafa mengajak Salma pergi dari rumah dan menginap di hotel, tapi Salma yang tiba-tiba merasakan rindu pada orang tuanya sedikit merusak rencana Kafa.
"Apa kamu sudah siap untuk bersenang-senang sekarang?" tanya Kafa setelah melihat Salma berganti pakaian dan sudah siap untuk pergi.
"Siap, ayo pergi!" sahut Salma dengan penuh semangat Salma mencoba menghilangkan rasa sedih yang sempat hinggap.
Salma dan Kafa berjalan keluar dari kamar hotel berjalan menuju kolam di mana tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang sedang berenang menikmati cahaya matahari seraya berenang merendam tubuh yang mulai terasa panas.
__ADS_1
"Mas," lirih Salma mencegah langkah Kafa dengan memegang lengannya.
"Ada apa?" sahut Kafa menghentikan langkahnya menoleh ke arah Salma yang kini berada di belakangnya.
"Aku takut," keluh Salma.
"Takut apa?" tanya Kafa sambil mengerutkan dahi bingung dengan apa yang di katakan oleh Salma.
"Aku tidak bisa berenang Mas," jawab Salma.
"Jangan khawatir! aku yang akan mengajarimu Sayang, tenanglah!" ujar Kafa mencoba meyakinkan Salma agar dia mau ikut berenang bersamanya.
"Apa boleh berenang dengan baju ini?" tanya Salma saat melihat orang-orang yang berenang di kolam tengah memakai baju renang yang terlihat kekurangan bahan.
"Siapa yang berani melarang kita? sudah jangan banyak berfikir! lebih baik kita langsung mandi saja." Ujar Kafa menarik tangan Salma agar ikut bersamanya masuk ke dalam kolam renang menikmati dinginnya air kolam.
"Masya allah, Mas, dingin," keluh Salma merapatkan diri sambil berpegangan erat ke kedua pundak Kafa.
"Ayo bergerak!" Kafa menuntun Salma untuk berjalan di dalam air dan mulai belajar bergerak dan berenang di air.
Keduanya terlihat sangat mesra berada di dalam kolam.
"Ternyata cukup menyenangkan berenang seperti ini," ujar Salma yang kini terlihat tersenyum senang.
Kafa terus berenang bersama Salma menikmati dinginnya air kolam, dan indahnya pemandangan.
"Mas, aku lapar," Salma kembali mengeluh saat merasakan perutnya berbunyi.
__ADS_1
"Ayo naik! biar aku pesankan makanan untukmu," jawab Kafa yang langsung berjalan menuju restaurant yang berada tidak jauh dari kolam. Sedang Salma menunggu Kafa duduk di kursi yang ada di tepi kolam menikmati hangatnya sinar mentari yang perlahan naik menampakkan cahayanya yang begitu terang.
"Sungguh aku tidak pernah menyangka jika hidupku akan jauh lebih indah seperti saat ini," gumam Salma mensyukuri semua yang dia dapatkan hari ini.