
"Bagaimana? apa semuanya sudah siap?" tanya Ummi dengan ekspresi wajah sumringah menatap ke arah Salma yang justru terlihat seperti seseorang yang tengah sakit, wajah pucat Salma mendominasi menandakan jika saat ini Salma sedang tidak baik-baik saja.
"Duduk sini, Nak!" pinta Ummi dengan nada lembut penuh kasih sayang.
"Iya, Ummi," sahut Salma.
Salma berjalan mendekat ke arah Ummi yang tengah duduk di jok belakang mobil.
"Bagaimana buburnya, Nak? apakah kamu menyukainya?" Tanya Ummi dengan nada suara lembut yang dapat menyejukkan hati siapapun yang mendengarnya.
"Apa bubur tadi Ummi yang membuatkan?" tanya Salma.
"Tidak tadi bukan Ummi yang membuatkan, tapi Ummi yang meminta kafa membuatkan yang untukmu," jawab Ummi.
"Terima kasih, Ummi," sahut Salma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Ummi tahu dari mana jika aku ingin memakan bubur beras dan telur setengah matang?" tanya sama dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran.
"Besok Ummi akan mengajakmu memeriksakan diri, dan kamu akan tahu jawabannya, dari mana Ummi bisa tahu kalau kamu ingin makan bubur itu," bukannya menjawab pertanyaan Salma umi malah berencana mengajak Salma untuk memeriksakan diri, dan apa yang dikatakan Ummi membuat Salma semakin penasaran dan bingung apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Meski dipenuhi rasa penasaran Salma hanya bisa diam tanpa bisa bertanya karena apa yang dikatakan Ummi tak mungkin dibantah atau pun terus dipertanyakan oleh Salma.
Perjalanan menuju stasiun cukup memakan waktu, Salma yang merasa kenyang telah memakan semangkuk bubur dan satu buah telur setengah matang tertidur lelap di samping umi yang masih saja tersenyum membayangkan apa yang akan dia dapatkan setelah ini.
"Ummi, kita sudah sampai di stasiun" ujar Kafa.
"Lebih baik kamu cari abah dulu! biar Ummi di sini kasihan Salma sedang tidur, dan Ummi tidak ingin mengganggunya," jawab Ummi.
"Salma baru saja bangun Ummi, kenapa kita tidak membangunkannya saja? bukankah tidur terlalu lama itu bukan hal yang baik?" Sahut Kafa, dalam benak kafa ada sejuta pertanyaan yang tidak dapat diungkapkan, meski mengusik hati tapi Kafa tetap diam menunggu waktu yang tepat untuk mempertanyakannya.
Salma benar-benar menunjukkan hal yang aneh dan tidak seperti dia biasanya, Kafa berharap apa yang terjadi pada Salma bukanlah hal buruk tapi sesuatu yang akan membawa kabar bahagia untuknya.
"Sudah jangan banyak tanya! biarkan Salma beristirahat lebih baik cepat kamu susul Abah dan ajak ke sini kita harus segera pulang!" Bukannya menuruti ataupun menjawab pertanyaan Kafa, Ummi malah menyuruh kafa menyusul Abah dan memintanya segera pulang.
__ADS_1
Tanpa menjawab ataupun mendebat Ummi, Kafa berjalan mencari keberadaan Abah yang memang sudah menunggunya sejak tadi.
'kenapa Ummi juga terlihat aneh,' batin Kafa yang kini berjalan masuk ke dalam stasiun tanpa menoleh lagi ke arah mobil di mana Ummi dan Salma berada.
"Assalamualaikum, Abah," panggil Kafa saat dia melihat sang Abah duduk menanti sambil mana sekarang ponsel yang ada di tangannya.
"Waalaikum salam bagaimana kabarmu, Nak?" Sahutbah yang menyebut Kafa dengan senyuman indah yang terlihat di wajahnya.
Cukuplah maka kau tak melihat apa yang memang sedang sibuk dengan jadwal ceramah nya, Abah yang dulu pernah menjadi idola bagi kafa, Abah yang dulu pernah membimbing dan menyayanginya, sungguh saat ini Kafa baru menyadari jika dirinya sangat merindukan sosok tambah yang dulu selalu ada untuknya.
"Alhamdulillah Kafa baik Abah, bagaimana dengan kabar Abah?" Kafa balik bertanya sambil duduk di samping Abah.
"Abah baik, Nak, ke mana istrimu dan umi kenapa hanya kamu yang menjemput, Abah?" Abah kembali bertanya.
"Salma sedang tertidur di mobil Abah, sedang Ummi menemaninya, padahal Salma baru saja bangun, tapi Ummi melarangku untuk membangunkan Salma, Ghozi juga ikut Abah, tapi dia tadi pamit ke toilet," jelas Kafa dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran dia menetap ke arah abah yang justru tersenyum mendengar jawaban Kafa.
"Apa istrimu juga suka makan bubur beras dan telur setengah matang?" tanya Abah dengan wajah yang terlihat berbinar karena bahagia.
Abah tak lagi menjawab atau mengomentari penjelasan kafa, dia hanya tersenyum penuh kebahagiaan dengan mata yang berminat menatap ke arah Kafa yang justru merasa semakin aneh dengan sikap abah.
"Kenapa Abah malah tersenyum?" tanya Kafa yang penasaran dengan sikap Abahnya.
"Apa Ummi tidak menceritakan sesuatu padamu?" Lagi lagi Abah tak menjawab pertanyaan Kafa, dia malah balik bertanya.
"Tidak Abah, Ummi hanya bilang besok dia akan membawa Salma periksa, dan aku akan tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawab Kafa.
"Memang sebenarnya apa yang terjadi pada Salma, Abah?" Tanya Kafa dengan ekspresi penasaran yang tak pernah luntur dari wajahnya.
"Sudah jangan banyak bertanya tunggu saja besok! Ummi pasti akan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi pada Salma" Abah sama saya seperti umi dia terlihat menyembunyikan sesuatu dari Kafa yang semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa Abah dan Ummi terkesan menyembunyikan sesuatu dariku? apa Salma sakit atau ada sesuatu yang membahayakan terjadi pada diri Salma?" Kafa yang tak mampu menahan rasa penasarannya langsung bertanya pada Abah yang tetap dalam pendiriannya.
"Kamu akan merasa bahagia nanti jika apa yang Ummi dan Abah duga itu benar, Salma tidak sakit dan tidak ada hal yang membahayakan dalam diri Salma, kamu tenang saja besok ikuti apa yang Ummi minta! dan kamu akan tahu apa yang sebenarnya terjadi," meski Kafa bertanya berkali-kali apa terlihat enggan untuk menjawabnya, beliau malah meminta kafa untuk sabar dan mengikuti apa yang Ummi katakan.
__ADS_1
Salma benar-benar bersikap aneh, dia yang biasanya mandiri kini menjadi manja, Salman terus saja berada di samping Kafa dia terlihat enggan dari jauh sedikit darinya. Hingga malam pun tiba Salma terbangun tepat pukul satu dini hari
"Mas, mas," Salma menggoyang badan Kafa yang terlelap dalam mimpi.
"Ada apa, sayang?" Saut Java dengan mata yang masih terpejam karena kantuk yang menyerangnya.
"Aku ingin makan steak ayam," jawab Salma.
Mendengar permintaan Salma, Kafa langsung membuka mata lebar. Dia begitu terkejut dengan gerakan cepat Kafa melirik jam dinding yang berada tepat di samping kirinya.
"Sayang ini masih jam satu malam, apa tidak bisa besok saja?" sahut Kafa.
"Aku ingin makan steak ayam sekarang Mas, bukan besok" ujar Salma dengan wajah memelas dia berucap.
"Tapi ini masih jam satu malam, mana ada orang berjualan di tengah malam seperti ini, sayang, sekarang kita di pesantren bukan di kota," Kafa kembali menjelaskan alasan dirinya yang tak bisa memberikan Salma stik ayam yang ia minta.
"Apa Mas Kafa tidak bisa membuatkan untukku?" Salma masih saja ngotot ingin makan steak ayam saat itu juga.
Kafa tak lagi menjawab ucapan Salma, dia justru menatap Salma lekat penuh tanda tanya, tidak biasanya Salma seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi? ada begitu banyak pertanyaan yang terus muncul dalam benak Kafa.
"Mas aku ini ingin steak ayam, kenapa Mas malah bengong? jangan melihatku seperti itu!" Keluh Salma yang merasa risih dengan tatapan kafa yang menetapnya lekat penuh tanda tanya.
"Apa kamu bener hamil?" Tanya Kafa yang tak lagi mampu menahan diri melihat sikap aneh yang Salma tunjukkan sejak tadi pagi.
"Hamil?" Spontan Salma yang terlihat terkejut dengan pertanyaan Kafa, Salma benar-benar tidak memikirkan hal itu, Salma tak pernah menyadari ataupun berpikir jika dirinya hamil, yang Salma tahu saat ini dia hanya ingin makan steak ayam.
"Aku tidak tahu Mas yang aku tahu saat ini aku hanya ingin makan stik ayam itu saja," ujar Salma.
"Coba kamu ingat-ingat kapan terakhir kali kamu datang bulan!" Pinta Kafa yang kini begitu yakin jika Salma saat ini tengah hamil tapi dia tidak menyadari kehamilannya.
Mendengar permintaan Kafa, Salma terdiam, fikiran Salma melayang memikirkan apa yang di minta oleh Kafa, dan Salma menemukan jawabannya, iya dia baru ingat jika seharusnya dia sudah datang bulan tiga minggu yang lalu, tapi sampai saat ini Salma belum datang bulan.
"Apa aku benar-benar hamil Mas?" Tanya Salma dengan ekspresi wajah bingung dia menata balik Kafa yang kini malah tersenyum, Kafa yakin Jika saat ini Salma benar-benar hamil.
__ADS_1