
Sejenak Salma terdiam mengumpulkan semua keberanian yang seharusnya dia miliki sejak dini.
"Aku baru nyampek kemarin dan aku emang tinggal bareng Mas Kafa," jawab Salma terlihat enggan menjawab pertanyaan Intan.
"Se~" ucapan Intan terpotong karena apa yang tadi di pelan oleh Kafa kini telah ada di atas meja, makanan pun tiba.
"Wahh ini makanannya sudah siap, ayo makan!" sela Salma yang tak ingin Intan terus bertanya karena dia benar-benar malas untuk menjawabnya.
"Maaf Salma, hari ini aku tidak bisa makan menu junk food seperti ini," tolak Intan dengan nada yang jauh lebih halus seperti gula pasir yang sudah di giling.
"Baguslah kalau kamu tidak mau, biar aku habiskan, atau kita kirim ke rumah saja? Mbok Sumik pasti akan senang menerima pemberian dari kita ini," sahut Salma.
Ghozi yang sejak tadi bersiap untuk pergi membantu Salma kini di urungkan meliihat sikap Salma yang bersikap tegas tidak seperti seorang gadis lemah dan cuma bisa mikir hal tak berguna. Salma kini terlihat jauh lebih pandai bersikap dan menghadapi Intan, dia sama sekali tak terlihat bersedih ataupun terpuruk di hadapan Intan.
'Aku akan tetap di sini untuk memastikan semuanya baik sampai akhir,' batin Ghozi sambil tersenyum bangga menatap Salma yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
"Ngapain bungkus buat pembantu? makanan seperti ini bukan level dia, lebih baik kita habiskan saja karena makanan seperti ini bukan selera mereka," ucap Intan.
Salma langsung melotot terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Intan, bagaimana mungkin Intan yang terlihat cantik dan berpendidikan tinggi tidak bisa menghormati orang yang lebih tua.
"Bagaimanapun Mbok Sumik dan apa pekerjaan dia di rumah, kita pasti akan membutuhkannya, Mbok Sumik juga manusia apa lagi beliau jauh lebih tua dari kita, sudah menjadi kewajiban kita untuk menghormati orang yang lebih tua." Salma mulai kesal dan mengatakan semua yang dia rasakan.
Sedang Kafa tersenyum sangat tipis menanggapi ucapan Salma, ternyata dia tak selemah yang Kafa kira, tapi apa yang di katakan Salma tidak bisa menjadi patokan jika Salna akan menang melawan Intan yang super nekad dengan segala rencana liciknya, saat ini Intan masih bersikap baik karena dia mengira Salma saudara Kafa bukan istri atau seseorang yang tengah dekat dengan Kafa.
"Terserah apa katamu, yang aku tahu pembantu kita gaji untuk membantu pekerjaan kita dan kita bisa menyuruhnya kapanpun kita mau," sahut Intan seolah tak peduli dengan orang lain selain dirinya.
'Dasar gadis egois, apa ini kekasih Mas Kafa? buruk sekali perangainya,' batin Salma.
__ADS_1
Entah mengapa Salma merasa amat tidak suka dengan Intan dan sikap dia juga ucapannya, Salma benar-benar membenci Intan, tapi tunggu! apa benar Salma membenci Intan karena sikapnya? untuk apa Salma membenci seseorang hanya karena sikap buruknya? bukankah semua orang memang memiliki sifat buruk yang terselip dalam dirinya, dan Salma biasanya tidak akan peduli dengan hal itu, tapi kenapa sekarang dia bisa sangat benci pada Intan? apa ini tandanya jika Salma mulai memiliki rasa lebih pada Kafa sampai-sampai dia membenci Intan hanya karena ucapannya.
'Astaghfirullah,' batin Salma mencoba menyadarkan diri agar tidak terus-terusan membenci sesama makhluk allah.
"Aku pergi ke toile dulu." Pamit Salma.
"Tunggu!" cegah Kafa.
"Iya, ada apa?" sahut Salma.
"Apa kamu tahu letak kamar mandinya?" tanya Kafa yang khawatir dengan Salma, karena sejak awal Kafa tahu jika Salma belum pernah ke Mall sebelumnya.
"Aku masih punya mulut untuk bertanya dan aku juga masih punya otak untuk berfikir, jadi jangan khawatir! aku mengerti semuanya tanpa perlu kamu jelaskan," jawaban yang sungguh membuat Kafa tercengan, dia tahu dengan pasti apa maksud dari jawaban Salma yang pasti bukan soal kamar mandi, tapi tentang gadis yang ada dihadapannya.
Salma berjalan dengan hati yang bingung tapi pura-pura biasa saja, padahal dia sudah takit setengah mati, bagaimanapun Salma tidak tahu harus peegi ke mana?
"Ghozi," lirih Salma saat melihat Ghozi bersembunyi di balik tembok di samping pintu keluar.
Tanpa berfikir panjang Salma langsung berjalan cepat menghampiri Ghozi yang tersenyum manis ke arahnya.
"Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Salma menatap heran ke arah Ghozi yang justru tersenyum manis ke arahnya.
"Tugasku memastikan kamu baik-baik saja, bagaimana aku bisa menjalankan tugasku jika aku hanya berdiam daan tiduran di rumah saja?" jawaban yang cukup membuat senyuman Salma perlahan kembali terlihat.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja kok," jawab Salma penuh ketegaran yang terlihat jelas diwajahny.
"Kamu masih mau balik atau mau pergi?" tawar Ghozi yang mengerti jika saat ini Salma sebenarnya tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Apa tidak akan jadi masalah jika aku pergi?" tanya Salma seolah meyakinkan diri sendiri tentang apa yang akan dia putuskan.
"Aku akan membantumu jika ada masalah nanti," Ghozi mencoba meyakinkan Salma untuk pergi karena dia tidak ingin Salma terus berada di antara dua sejoli yang pasti menyakitkan hati Salma.
"Aku ingin pergi Ghozi," akhirnya Salma berani mengatakan apa yang dia rasakan tanpa harus menyembunyikan atau menahannya.
"Baiklah, ikut denganku!" ajak Ghozi.
Ghozi berjalan sambil mengetikkan sebuah pesan pada Kafa, sedangkan Salma masih ketar ketir khawatir jika Kafa marah atas apa yang telah dia lakukan.
"Sudah jangan di fikirkan! aku sudah mengirim pesan pada Kafa, dan aku akan membantumu nanti," janji Ghozi.
"Terima kasih," ujar Salma.
"Ini sudah tugasku, aku di kirim ke sini untuk menjagamu, dan ini perintah dari Ummi langsung, jadi jangan khawatir!" Ghozi kembali meyakinkan Salma agar dia merasa jauh lebih tenang.
"Kita mau ke mana sekarang?" tanya Salma saat keduanya sudah ada di dalam mobil, tapi Salma duduk di jok tengah sedang Ghozi menyetir di depan.
"Kamu ingin ke mana? aku akan mengantarkanmu ke mana pun kamu mau, asal hatimu jauh lebih tenang dari sebelumnya," jawab Ghozi.
"Bawa aku ke taman yang indah dan bisa membuatku tenang," Salma mengatakan apa yang dia inginkan tanpa ada rasa takut.
"Di dekat rumah ada taman indah yang pasti kamu sukai, aku akan mengantarmu ke sana," ucap Ghozi.
"Terima kasih Ghozi, kamu sudah mengerti apa yang aku rasakan dan mau membantuku," sahut Salma.
Suasana mobil menjadi hening se0erti tak berpenghuni, keduanya terdiam tanpa ada yang memulai percakapan, dan apa yang terjadi di dalam mobil sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi di cafe Mall di mana Kafa dan Intan berada.
__ADS_1