Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Mulut Pedas


__ADS_3

"Mas Kafa masih ingat atau pura-pura lupa?" Salma tak menjawab pertanyaan Kafa, dia justru balik bertanya dengan nada penuh penekanan, saat ini Salma merasa di permainkan oleh Kafa, padahal Kafa sendiri yang menyuruh Salma untuk memasak nasi goreng.


"Apa Mas Kafa sudah lupa? atau amnesia?" Salma yang semakin kesal kini tak lagi mau menahannya, Salma tak lagi peduli dengan apa yang terjadi, bagi dirinya yang terpenting saat ini dia bisa meluapkan semua emosi yang telah tertumpuk di dalam hati Salma.


"Apa maksudmu?" Kafa malah balik bertanya.


"Tadi kamu yang menyuruhku memasak nasi goreng. Dan sekarang kamu bilang aku mau ngapain ke sini? astaga kamu itu pelupa atau pura-pura lupa?" Salma langsung mengatakan semua yang dia rasakan.


Kafa tak lagi menjawab perkataan Salma karena saat ini memang dialah yang salah, dengan langkah santai Kafa berjalan menuju dapur tanpa memperdulikan Salma yang masih setia berdiri di tempatnya.


"Dasar aneh," lirih Salma menatap kepergian Kafa yang kini menghilang di balik dinding.


"Salma!" suara menggelegar Kafa terdengar membuat Salma mengurungkan niatnya yang hendak pergi meninggalkan rumah Ummi menuju kamar.


"Ada apa lagi ini?" keluh Salma sembari berjalan dengan langkah cepat menuju dapur di mana Kafa berada. Sedang Ummi yang masih duduk di ruang keluarga dengan setumpuk kertas kini mulai menyingkirkan kertasnya, Ummi lebih tertarik untuk memperhatikan Salma dan Kafa yang terlihat semakin akrab, seutas senyum tak pernah beranjak dari wajah Ummi, sungguh saat ini Ummi sangat bahagia karena dia menganggap semua rencananya untuk menjodohkan Kafa dan Salma sebentar lagi pasti akan berhasil dan rasa cinta di antara keduanya akan segera tumbuh.


"Aku jadi penasaran, apa akan terlihat pantas jika aku mengintip," lirih Ummi.


"Ah biarlah, dari pada aku penasaran lebih baik aku intip aja." Sambung Ummi yang langsung berjalan menuju dapur untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi.


Salma memang sangat jengkel dengan apa yang di lakukan oleh Kafa, tapi dia tak punya hak ataupun kekuatan untuk melawan dan menolak, karena Kafa putera pemilik pesantren yang memamg tak bisa di lawan sepenuhnya.


"Ada apa lagi Mas Kafa?" tanya Salma dengan ekspresi wajah bersungut-sungut karena emosi.


"Kamu kira aku ini rakus apa?" jawab Kafa

__ADS_1


"Rakus bagaimana Mas Kafa? aku gak ngerti?" sahut Salma menatap heran ke arah Kafa.


"Porsi nasi goreng yang kamu kasih ini terlalu banyak dan aku mana mungkin bisa menghabiskan semuanya." Jelas Kafa sambil menunjuk ke arah satu piring yang penuh berisi nasi goreng, memang porsi yang di sediakan oleh Salma sangatlah banyak bahkan cukup untuk dua orang.


"Aku kira Mas Kafa sangat lapar sampai menyuruhku cepat-cepat, makanya aku buatkan porsi banyak biar gak lapar dan gak marah-marah lagi." Jawab Salma seraya berjalan menuju tempat penyimpanan piring untuk mengambil satu piring lagi agar bisa membagi nasi goreng yang terlalu banyak bagi Kafa.


"Ini, silahkan di makan!" Salma memberikan satu porsi nasi goreng yang sudah di bagi dua.


Kafa tak mengeluarkan sepatah katapun, dia hanya diam seraya meraih sendok dan garbu yang berada tak jauh dari tempat Kafa menaruh piring.


"Kamu mau ke mana?" tanya Kafa yang sukses membuat langkah Salma terhenti.


"Aku mau balik ke asrama. Memangnya ada apa?" sahut Salma yang kini berdiri di hadapan Kafa dan menoleh ke arahnya.


"Duduk?" Salma Mengulangi perintah Kafa dengan tujuan agar Kafa memperjelas perintah yang dia beri, Salma harus duduk di mana?


"Apa kamu tidak bisa mengerti dengan perintah yang aku berikan?" tajya Kafa pada Salma yang terlihat bingung karena Kafa menyuruhnya untuk duduk.


Tanpa bertanya lagi Salma langsung duduk tepat di hadapan Kafa.


"Makanlah!" Kafa kembali memberi perintah sambil memberikan satu piring nasi goreng yang tadi di bagi oleh Salma.


Salma tidak langsung memakan nasi goreng yang di sodorkan ke hadapannya, Salma malah diam memating menatap heran ke arah Kafa.


"Jangan banyak berfikir! apa lagi berfikir yang macam-macam, Aku menyuruhmu makan agar tak ada makanan yang terbuang sia-sia, ingatlah hal yang di buang sia-sia itu mubazhir namanya, dan aku tak ingin menyia-nyiakan apapun termasuk nasi goreng itu," Kafa memberi penjelasan.

__ADS_1


Meski Kafa telah memberi penjelasan tetap saja Salma tak langsung memakan nasi goreng yang ada di hadapannya, dia masih saja diam tanpa bergerak sedikitpun.


"Apa kamu menaruh racun di makanan ini?" kali ini pertanyaan Kafa cukup membuat Salma kesal.


"Untuk apa aku meracunimu? aku bukan orang bodoh ataupun orang yang tega untuk membunuh orang," elak Salma yang kembali bersungut-sungut karena emosi mendengar ucapan Kafa yang sungguh menyakitkan hati.


"Kenapa kamu tak mau memakannya? sikapmu yang diam membuatku curiga," ujar Kafa.


Salma menghirup udara dalam kemudian menghembuskannya perlahan, mengumpulkan sisa-sisa kesabaran yang dia miliki untuk menghadapi ucapan Kafa yang benar-benar menyakitkan hatinya itu.


"Baiklah, lihat aku akan memakannya agar kamu tidak berfikir jika aku meracunimu!" ucap Salma dengan nada sinis, sedang Kafa hanya tersenyum menanggapi ucapan Salma.


"Bagus," sahut Kafa yang ikut memakan nasi goreng buatan Salma.


Benar saja rasanya terasa begitu nikmat meski ada hal aneh yang di rasakan oleh Kafa, tapi dia tetap melahap habis nasi goreng buatan Salma yang terasa lezat juga berbeda dari nasi goreng yang biasa di buatkan oleh Ummi ataupun Bik Sumik.


"Bagaimana masakanku? enak bukan?" tanya Salma dengan ekspresi penuh percaya diri yang tergambar jelas di wajahnya, sedang Ummi yang masih setia mengintip di balik selambu hanya bisa tersenyum bahagia melihat interaksi Kafa dan Salma, keduanya terlihat lucu tapi juga serasi, sungguh Ummi di buat gemas karenanya.


"Lumayan juga dan tidak buruk," lagi-lagi jawaban Kafa membuat Salma emosi, setiap kata yang keluar dari bibir Kafa terdengar begitu pedas dan menyakitkan, Kafa saat ini harusnya di beri predikat si mulut pedas bukan cuma mata tajam saja.


"Terserah kamu lah, aku sudah selesai memasak dan nasi goreng di piringku juga sudah habis, aku akan kembali ke asrama setelah ini," ujar Salma yang kini malas untuk meladeni ucapan Kafa, dia lebih memilih untuk pergi setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.


Salma mengambil piring kosong sisa dia makan, tak lupa piring kosong milik Kafa juga dia cuci.


"Tunggu!" suara Kafa kembali terdengar saat Salma baru saja selesai mencuci kedua piring yang tadi di pakai, suara Kafa juga sukses menghentikan langkah Salma yang berniat akan kembali ke asrama.

__ADS_1


__ADS_2