Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Tatapan Kafa


__ADS_3

Deburan ombak terdengar menenangkan fikiran, menyejukkan hati setiap orang yang sedang berada di dekatnya, pasir yang putih memberikan sensasi tersendiri bagi mereka yang sedang berlibur ke sana, menghilangkan penat yang terasa karena kesibukan yang tiada akhir.


"Apa kamu senang sekarang ?" tanya Kafa sambil menatap lekat ke arah Salma yang kini duduk di sampingnya.


"Aku senang Mas, meskipun aku tidak bisa berenang tapi aku merasa bahagia karena aku bisa menikmati alam yang indah ini dengan kamu," jawab Salma.


"Aku jauh lebih bahagia melihatmu tersenyum dari pada melihat keindahan yang ada di hadapanku," ucap Kafa yang sukses membuat Salma langsung menoleh ke arahnya dan terdiam membisu mendengar penuturannya.


"Mas Kafa, cuma gombal," ujar Salma, mencoba menyembunyikan rasa gerogi yang mulai muncul, Salma tidak ingin terlihat salah tingkah di hadapan Kafa.


"Aku mengatakan apa yang aku fikirkan Salma, dan aku tidak pernah berbohong ataupun berpura-pura di hadapanmu," Kafa mencoba meyakinkan Salma jika apa yang di ucapkannya memang nyata bukan cuma kata-kata gombalan saja.


"Aku sungguh mencintaimu," sambung Kafa mengungkapkan apa yang dia rasakan.


"Sejak kapan?" tanya Salma, dia mulai penasaran dengan semua kata cinta yang di ucapkan oleh Kafa.


"Entahlah, aku tidak tahu kapan rasa cinta ini hadir? yang aku tahu saat ini aku mencintai kamu," Kafa kembali mencoba meyakinkan Salma jika dirinya memang benar-benar mencintai Salma.


"Mas Kafa serius?" Salma kembali bertanya, rasanya sangat sulit untuk percaya jika Kafa telah mencintainya secepat itu.

__ADS_1


"Apa kamu meragukan cintaku?" Kafa sedikit tersulut emosi mendengar pertanyaan Salma yang terdengar seolah meragukan rasa cinta yang di miliki oleh Kafa.


"Aku tidak meragukan apapun yang ada dalam diri Mas Kafa maupun apa yang di ucapkan oleh Mas Kafa, aku cuma merasa terkejut dengan pernyataan yang Mas Kafa ucapkan, semuanya terasa begitu semu, aku yang bukan siapa-siapa ini di cintai oleh Mas Kafa yang notabennya putera seorang kiyai besar seperti Mas Kafa," ujar Salma menatap lautan dengan tatapan sendu.


"Aku bukan gadis berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga kaya raya, aku hanya seorang gadis yatim piatu yang di pungut oleh Ummi, dan di beri kahidupan layak olehnya, pantaskah aku di cintai oleh dirimu Mas," Salma kembali mengatakan apa yang ada dalam hatinya.


"Kamu adalah istriku, fikiran seperti itu seharusnya sudah hilang sejak aku mengucapkan ijab kabul dulu, karena saat ini kamu sudah menjadi baju bagiku begitupun sebaliknya," sahut Kafa yang merasa heran dengan pemikiran Salma, harusnya fikiran yang tadi dia katakan di rasakan sebelum pernikahan bukan sekarang, karena jika di fikirkan sekarang sangat terlambat.


"Kamu benar Mas, seharusnya aku sudah bisa menghilangkan fikiran ini, tapi entah mengapa aku masih memikirkannya, bagaimanapun kasta kita berbeda Mas, aku saja sempat berfikir jika hubungan ini hanya formalitas saja dan kamu tidak mungkin bisa mencintaiku ataupun menerimaku sebagai seorang istri di sisimu," Salma mengatakan apa yang ada dalam hatinya saat ini, Salma menatap lurus ke depan melihat betapa indahnya pemandangan sambil menikmati setiap rasa yang berkecambuk dalam hatinya.


"Salma! dengarkan aku!" pinta Kafa meraih kedua pundak Salma menatap lekat ke arahnya.


"Kamu istriku, aku tidak peduli dari mana asalmu? bagaimana ekonomimu sebelum bertemu denganku dan aku tidak peduli jika kamu berasal dari keluarga termiskin sekalipun, bagiku kamu tetap istriku, dan kamu tetap menjadi Neng Salma, menantu dari Abah dan Ummi," Kafa mencoba meyakinkan Salma jika dirinya tidak perlu berfikir seperti apa yang difikirkannya saat ini, yang perlu Salma tahu hanya satu, dia istri dari Kafa menantu Ummi dan Abi.


"Terima kasih sudah mau menerimaku dengan segala kekurangan yanh ku punya, setelah ini mohon bimbing aku, jadikan aku istri yanh sholihah dan buat aku merasa pantas untuk bersanding dan terus berada di sisimu," Salma langsung memeluk Kafa dengan erat, sungguh hatinya sangat bahagia mendengar apa yang di katakan oleh Kafa.


Apa yang terjadi pada Kafa dan Salma tak luput dati pengawasan Ghozi yang sejak tadi memperhatikan keduanya dari jarak yang cukup dekat, tapi Kafa dan Salma tak menyadari kehadiran Ghozi yang sudah melepas jaket yang tadi dia gunakan.


"Syukurlah, jika Mas Kafa dan Neng Salma sudah bisa bersatu dan saling mencintai, tugasku tinggal sedikit lagi, setelah semua tugasku selesai di sini aku akan mencari cinta sejatiku sendiri agar Umik tak memaksaku menikah dengan dia," gumam Ghozi sambil tersenyum manis menatap ke arah Salma dan Ghozi yang terlihat masih tersenyum.

__ADS_1


Tugas Ghozi memang menjaga Salma, tapi dia juga punya tugas lain dari Ummi, yaitu menjadi sahabat Kafa yang akan terus mensupport hubungan keduanya, sampai saat ini Ummi tidak tahu jika Ghozi pernah menaruh hati pada Salma sedang Kafa sudah sangat tahu akan hal itu, karena itulah Ghozi lebih mudah membuat Kafa mencintai Salma, cukup di panasin seperti kompor Kafa pasti akan sadar jika cinta di antara keduanya sudah tumbuh.


Ghozi kini mulai berjalan meninggalkan tempat persembunyiannya menuju stand penjual degan yang berada tak jauh dari tempatnya bersembunyi tadi.


Sedang Salma dan Kafa masih menikmati desiran angin yang menerpa tubuh sambil menyaksikan pemandangan laut lepas yang kini tersuguh di depan mata.


"Sungguh indah ciptaan tuhan yang terbentang di depan mata, aku beruntung bisa menikmati semua ini," lirih Salma yang kini menatap lurus ke depan.


"Aku juga bersyukur bisa mendapatkan ciptaan tuhan paling indah dan sempurna ini, semoga apa yang aku miliki ini akan terus jadi milikku hingga akhir hayatku," Kafa juga tidak mau kalah dengan Salma, dia juga ikut memuji ciptaan tuhan yang kini berada di hadapannya itu.


Salma tidak sadar jika saat ini Kafa sedang memuji dirinya karena saat ini Salma tengah menatap laut lepas yang membentang luas di hadapannya.


"Semoga ikatan suci ini selalu abadi untuk selamanya hingga ajal memisahkan," sambung Kafa menatap lekat ke arah Salma yang terlihat sedang serius menatap Salma.


"Amin," sahut Salma yang kini menoleh ke arah Kafa yang masih setia menatap lekat ke arahnya.


"Kenapa Mas Kafa menatapku seperti itu?" tanya Salma yang baru sadar jika saat ini dia sedang diperhatikan oleh Kafa.


"Aku sedang memperhatikan ciptaan tuhan yang paling indah dan sempurna," jawab Kafa yang sukses membuat Salma salah tingkah karenanya.

__ADS_1


__ADS_2