
Waktu terus bergulir dan Ghozi masih saja belum punya keberanian untuk memberitahukan perasaan dan niat baiknya pada Tari, meski Ummi sudah sering memancing Ghozi dengan beberapa pertanyaan yang seharusnya bisa membuat Ghozi jujur, tapi cara itu tetap tak bisa berhasil, Ghozi masih terdiam tak berani berbicara.
"Ummi!" Panggil Sasa dengan wajah riang penuh kebahagiaan dia datang dengan baju indah yang belum pernah di pakai sebelumnya.
"Wahh Sasa cantik sekali, memangnya ada acara apa Sasa sampai dandan secantik ini?" sahut Ummi menatap heran ke arah Sasa yang sudah terlihat begitu cantik dan mempesona.
"Hari ini tepat hari minggu tanggal dua puluh di bulan juli, dan Ummi tahu, hari ini adalah hari ulang tahunku, Daddy pasti akan datang berkunjung dengan beberapa hadiah yang pasti aku suka," jawsb Sasa dengan penuh kebahagiasn yang terlihat jelas di wajahnya.
"Wah benarkah? jam berapa Daddy kamu akan datang?" tanya Ummi yang merasa memiliki kesempatan untuk membuat Ghozi kembali kebakaran jenggot karenanya.
Sedang Ghpzi yang duduk di meja makan sambil memainkan ponsel langsung mengalihkan pandangannya menatap tajam ke arah Sasa yang selalu membuatnya repot itu.
Saat ini Sasa, Ummi, Ghozi dan Tari berada di ruang makan, Ummi duduk manis di samping Sasa yang terus saja berceloteh, Tari sedang mengambil beberapa piring untuk mereka makan dan Ghozi memainkan ponselnya.
"Daddy bilang hari ini dia akan libur bekerja dan membatalkan semua acara meetingnya, jadi Sasa tidak tahu jam berapa Daddy datang?" jawab Sasa polos.
"Kalau begitu nanti beritahu Ummi kalau Daddynya datang!" titah Ummi.
"Tentu saja, Sasa akan panggil Ummi dan Mbak Tari untuk merayakan ulang tahun Sasa bersama Daddy juga, Sasa juga akan minta Daddy untuk berkenalan dengan Mbak Tari, dan satu lagi Ummi," Sasa mendekat ke arah Ummi untuk membicarakan hal yang terlihat serius.
"Kenapa Sasa?" sahut Ummi yang merasa sangat penasaran dengan Sasa yang selalu bertingkah lucu di hadapannya.
"Aku akan ceritakan semua kebaikan Mbak Tari, dan aku juga akan meminta Daddy agar dia mau menjadikan Mbak Tari Mamaku," Sasa mengatakannya dengan suara pelan seolah berbisik, tapi Ghozi yang duduk tidak jauh dari tempat keduanya duduk masih bisa mendengar apa yang bicarakan oleh Sasa.
"Ukhuk ... ukhuk ...." Ghozi langsung terbatuk mendengar apa yang di katakan oleh Sasa, meskidia tidak sedang minum, tapi Ghozi langsung tersedak setelah mendengar ucapan Sasa.
"Kamu kenapa Ghozi?" tanya Ummi saat melihat Ghozi langsung terbatuk setelah mendengar ucapan Sasa.
"Tidak apa-apa Ummi," jawab Ghozi yang langsung menyahut satu gelas air putih yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Ada apa ini Ummi?" tanya Tari yang baru saja datang dari arah belakang sambil membawa empat piring di tangannya.
"Gak tahu tu Ghozi, tiba-tiba batuk," jawab Ummi enteng, Ummi berlagak seolah tidak tahu apapun meski sebenarnya dia tahu segalanya.
"Oh, aku kira ada apa," gumam Tari.
"Mbak Tari nanti kalau Daddy aku sudah datang Mbak ikut ya ke balai pengiriman," pinta Sasa dengan ekspresi wajah penuh harap dia berkata.
"Loh, kok tumben ajak Mbak Tari? bukankah biasanya Sasa datang sendiri?" tanya Tari erasa heran dengan apa yg di katakan oleh Tari.
"Hari ini hari ulang tahunku Mbak, dan aku ingin merayakannya bersama Mbak Tari dan Ummi juga Daddy," jawab Sasa dengan wajah yang berbinar menatap ke arah Tari.
Ghozi menatap tajam ke arah Sasa yang justru sama sekali tak menggubrisnya, saat ini ingin rasanya Ghozi melempar Sasa jauh ke awan hingga dia tak bisa kembali.
'Astaghfirullah,' batin Ghozi saat dia menyadari jika apa yang ada di fikirannya bukanlah hal yang baik.
"Tidak apa-apa Ummi," jawab Ghozi.
Ummi hanya tersenyum menanggapi apa yang di lakukan oleh Ghozi, dia sangat mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Ghozi.
"Oh, memangnya jam berapa Daddy Sasa datang?" tanya Tari.
"Entahlah, Daddy tidak bilang mau datang kapan," jawab Sasa jujur.
"Nanti kalau Mbak Tari tidak sibuk, pasti Mak temani," ujar Tari yang takut tidak bisa menemani Sasa kalau Daddy nya datang saat Tari masih mengawasi santri yang sedang ujian.
Mendengar jawaban Tari membuat Ghozi berfikir keras bagaimana dia bisa mencegah agar Tari tidak bisa menemani Sasa untuk merayakan ulang tahun dengan Daddy nya.
'Maaf bocil, aku harus menjauhkan Tariku dari Daddy mu itu,' batin Ghozi yang kini masih memikirkan cara untuk mencegah Tari ikut merayakan ulang tahun Sasa.
__ADS_1
"Ghozi," panggil Ummi saat melihat Ghozi terdiam mematun di tempatnya.
"Iya, ada apa, Ummi?" sahut Ghozi yang langsung mengalihkan fokusnya ke arah Ummi.
"Lusa Abah akan pulang, tolong kamu jemput ya!" pinta Ummi.
"Ghozi harus jemput di mana, Ummi?" tanya Ghozi.
"Kamu bisa jemput Abah di bandara, lusa sekitar jam sepuluh malam pesawat yang di kendarai sudah mendarat," jawab Ummi.
"Baik, Ummi," sanggup Ghozi.
Sarapan pagi penuh emosi kini telah di lewati oleh Ghozi, meski begitu Ghozi masih saja memikirkan apa yang harus dia lakukan, hingga senyuman licik terlihat di wajah Ghozi, dia mendapatkan ide untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, tanpa buang-buang waktu lagi, Ghozi langsung berdiri berjalan menuju kamar mengambil tumpukan kertas ujian yang masih rapi dan tak tersentuh olehnya.
'Maafkan aku Tari Sayang, hari ini kamu harus bekerja keras bersamaku,' batin Ghozi dengan senyum licik yang masih saja belum pergi dari wajahnya.
"Tari!" panggil Ghozi saat melihat Tari sedang berjalan keluar dari kelas.
"Iya, kenapa Ghozi?" sahut Tari sambil menghentikan langkahnya menoleh ke arah Ghozi yang berdiri di belakangnya.
"Setelah selesai ujian tolong bantu aku mengoreksi semua soal-soal ini! karena lusa nilai para santri sudah harus di rekap," jawab Ghozi.
"Sebanyak itu? apa tidak ada orang lain yang membantumu?" sahut Tari yang merasa bingung dengan permintaan Ghozi, dia tidak akan punya waktu untuk menemani Sasa jika dia menerima perintah dari Ghozi.
"Tidak ada, guru yang lain sedang sibuk mempersiapkan acara haflah yang sebentar lagi akan di adakan," jawab Ghozi, sungguh dia sudah memikirkan matang-matang rencana yang sedang dia kerjakan.
Tari terdiam, dia berfikir keras memikirkan pilihan apa yang bisa dia pilih, hingga akhirnya Tari memilih untuk membantu Ghozi mengoreksi lembar ujian yang sekarang ada di tangan Ghozi, karena menurutnya mengoreksi lembar ujian itu jauh lebih penting dari pada menemani Sasa, mungkin nanti dia akan meninggalkan pekerjaannya itu sebentar jika Daddy nya Sasa datang.
"Baiklah aku akan membantumu nanti," jawab Tari yang sukses membuat senyum Ghozi mengembang.
__ADS_1