
"Benarkah hanya dengan memberitahukan caranya kamu langsung bisa?" Kafa kembali bertanya seolah tak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Salma.
"Aku sudah bisa mengendarai motor manual dan matic sebelumnya, jadi bukanlah hal yang sulit bagiku untuk mengendarai motor balap itu Mas," Salma mencoba meyakinkan Kafa tentang apa yang dia ceritakan, Salma memang memiliki otak yang cukup cerdas, hanya saja dia putus sekolah karena keadaan.
"Apa kamu pernah balapan sebelumnya? sampai kamu berani melawan Intan," Kafa terus saja bertanya mengorek informasi sedalam mungkin tentang masa lalu Salma yang entah bagaimana.
Salma menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan yang baru saja di ajukan padanya, Salma memang tidak pernah ikut balapan, dia hanya pernah ikut menemani mantannya itu untuk bertanding tidak kurang dan tidak lebih.
"Hah? kamu tidak pernah balapan tapi menerima tantangan Intan yang sudah memenangkan beberapa pertandingan," Kafa begitu terkejut mendengar penuturan Salma yang mengatakan jika dirinya belum pernah ikut balapan sebelumnya.
"Aku pernah naik motor dengan kecepatan tinggi waktu di kejar preman di jalan raya, dan hasilnya aku lolos karena kecerdikan dan kecepatan motor yang aku tumpangi, intinya kalau balapan itu naik motor harus dengan kecepatan tinggi hingga finish, benar bukan?" Salma mengatakan semua yang dia sangka dan tahu tanpa peduli benar atau salah sangkaannya yang terpenting Salma bisa naik motor dengan kecepatan tinggi dia pasti menang.
"Bisa berkendara dengan kecepatan tinggi itu saja tidak cukup untuk jadi juara Salma, kamu butuh skill dan trik agar kamu bisa memenangkan sebuah pertandingan, bukan hanya asal tancap gas langsung bisa jadi pemenang," ujar Kafa yanh sangat heran melihat keyakinan Salma yang sebenarnya membuat Kafa sedikit tersihir karenanya.
Sungguh Kafa tidak menyangka jika Salma memiliki keberanian dan kelercayaan diri sebesar saat ini, Kafa yang setiap hari hanya melihat sikap lembutnya merasa sangat terkejut karena ada sisi keras dalam diri Salma.
"Sudahlah Mas! lebih baik kita makan dan menikmati apa yang ada di hadapan kita," sela Salma yang mengerti dengan apa yang di fikirkan Kafa tentang dirinya.
"Apa lebih baik kita batalkan saja kesepakatan ini?" Kafa yang sebenarnya masih ragu dan khawatir jika Salma kalah dalam pertandingan, dia tidak mungkin menikah dengan Intan yang sama sekali tidak dia cintai, Kafa hanya ingin hidup bersama Salma dan menikah cukup satu kali.
"Jangan pernah meragukanku Mas! aku pasti bisa memenangkannya, bukankah sudah aku bilang sebelumnya? percaya saja padaku! maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan pertandingan itu," sekali lagi Salma berusaha meyakinkan Kafa agar dia tidak ragu dan terus-terusan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi.
"Mbak, Mas, silahkan di nikmati." Suara lembut seorang pelayan membuyarkan obrolan serius yang sejak tadi terasa tiada ujung, Kafa yang terus-terusan memaksa Salma untuk tidak bertanding berbanding terbalik dengan Salma yang
terlihat begitu yakin dan penuh semangat.
"Terima kasih Mbak," jawab Salma dengan senyum yang mengembang.
"Sudahlah, lebih baik kita makan dulu. Sejak tadi bicara balapan bukanlah hal yang menyenangkan ataupun menghibur untuk di bicarakan." Sambung Salma.
Sebuah pengalaman yang pernah Salma alami, tentunya dengan memotong beberapa insiden yang mungkin akan membuat Kafa marah, Salma kini sangat mengerti Kafa orangnya seperti apa, karena itulah Salma enggan menceritakan secara detail setiap kejadian di masa laku, biarlah kisah itu menjadi kenangan yang tak akan pernah di lupakan olehnya.
"Masya allah, rasanya sangat enak ya Mas," ujar Salma mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar Kafa tak lagi mengorek masa lalunya yang pahit.
"Tentu saja, aku tidak pernah salah pilih, apa kamu mau mencoba milikku?" tawar Kafa.
Saat ini Kafa sedang makan gurami bakar sedang Salma memesan ayam bakar yang di sediakan di sana, menu makanan yang terdengar sederhana tapi rasanya begitu enak dan sempurna.
"Apa boleh?" sahut Salma yang kembali bertanya.
__ADS_1
"Tentu saja, buka mulutmu!" jawab Kafa sambil memberi perintah untuk membuka mulut.
"Biar aku sendiri yang mengambilnya Mas," Salma yang melihat Kafa mengulurkan tangab dengan segumpal kecil daging gurami bakar di tangannya mencoba menolaknya, dia sedikit merasa tidak enak jika hrus di suapi di tempat umum seperti saat ini.
"Buka mulutmu! atau aku akan menyuapinya dengan cara lain yang akan membuatmu tak bisa melupakansuapanku itu," Kafa terdengar begitu menyeramkan membuat Salma terpaksa menurut karena takut.
'Astaga, aku kira sifat pemaksa dan suka seenaknya sendiri itu sudah musnah, ternyata maaih betah bersembunyi di dalam tubuhnya itu,' batin Salma menatap heran ke arah Kafa yang justru kembali asyik menikmati makanan yang tadi dia pesan.
"Setelah ini kita mau ke mana Mas? apa kita langsung pulang saja ya?" tanya Salma setelah beberapa saat suasana berubah hening dan canggung, meski sifat pemaksa dan seenaknya sendiri itu masih melekat dalam diri Kafa, hal itu tak membuat Salma risih ataupun berubah membencinya, karena selama ini Kafa tak pernah memaksa dirinya untuk melakukan hal yang buruk, dia hanya memaksa sesuatu yang baik dan tidak merugikan Salma.
"Aku akan mengajakmu ke tokoh milikku, kamu bisa mengambil makanan apapun yang kamu mau di sana," jawab Kafa.
"Tokoh? apa Mas Kafa jugapunya tokoh di sini?" tanyaSalma dwngan ekspresi terkejut yang terlihat jelas di wajahnya, Salma fikir tokoh milik Kafa hanya ada di desa saja bukan di kota.
"Tentu saja, tokohku tersebar di mana-mana, dan aku bisa membelikan apapun yang kau mau karenanya, kamu juga tidak perlu khawatir masalah finansial, sekalipun nanti kita punya anak sepuluh pun aku masih sangat sanggup menghidupi kalian," ucap Kafa dengan penuh rasa bangga yang terlihat jelas di wajahnya.
"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...." Salma yang mendengar anak sepuluh terucap dari bibir Kafa langsung batuk dan terkejut, bagaimana mungkin Salma sanggup melahirkan sepuluh anak seperti yang Kafa katakan.
"Minumlah! lain kali kalau makan hati-hati! jangan terburu-buru! lagi pula tidak akan ada yang meminta makananmu," ujar Kafa yang langsung mengambil air putih untuk Salma saat dia tersedak.
'Aku batuk karena terkejut dengan omongan kamu Mas, bukan karena terburu-buru saat makan, kamu kira melahirkan itu gampang sampai aku di bilang melahirkan sepuluh anak, Astaga, aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku jika melahirkan sepuluh anak untuknya,' Salma bergidik ngeri membayangkan dirinya dengan sepuluh anak yang tadi di katakan olrh Kafa.
"Salma! are you okey?" tanya Kafa sambil melambaikan tangan melihat Salma terdiam membisu menatap kosong ke arahnya.
"Eh, iya Mas, ada apa?" sahut Salma spontan saat merasakan guncangan dalam dirinya.
"Kamu lagi mikir apa? sejak tadi aku panggil gak nyahut?" tanya Kafa dengan ekspresi penasaran yang terlihat jelas di wajahnya.
"Aku cuma bayangin sepuluh anak yangMas Kafa bilang tadi, betapa repot dan lelahnya aku mengurus mereka," jawab Salma jujur.
"Mas, satu anak saja dulu, jangan banyak-banyak! kita ikuti anjuran pemerintah saja, dua anak cukup, kalau banyak-banyak aku enggak sanggup," sambung Salma.
"Buahahahaha ...." jadi kamu bayangin punya anak sepuluh? kenapa kamu selucu itu Salma?" sahut Kafa yang justru tertawa lepas setelah mendengar kejujuran yang di ungkapkan olrh Salma.
"Kenapa Mas Kafa jadi tertawa?" tanya Salma dengan ekspresi polosnya.
"Tentu sajaaku tertawa mendengarnya, lagi pula siapa jug yang menyuruhmu memiliki anak sepuluh, jangankan sepuluh satu saja kita masih belum dapat apa lagi sepuluh, aku aja baru ngerasain sekali bagaimana bisa kita punya anak sepuluh?" ujar Kafayang merasa Salma teramat polis dan lucu.
"Tadi Mas Kafa bilang sanggup menafkahi aku dan kesepuluh anak kita," Salma mengungkapkan alasan dirinya menganggap Kafa meminta sepuluh anak darinya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak bermaksud memintamu memiliki sepuluh anak denganku, aku hanya memberi perumpamaan saja, tidak lebih kok," Kafa menjelaskan apa yang dia maksud.
"Aku fikirMas Kafa meminta aku melahirkan sepuluh anak untuk Mas Kafa," lirih Salma yang ternyata salah faham dengan apa yang di bicarakan oleh Kafa.
"Kalau kamu mau aku akan menerimanya dengan senang hati," Kafa yang merasa memiliki kesempatan untuk menggoda Salma kini mulai menggodanya.
"Maaf Mas Kafa, aku Salma bukan mesin pencetak anak," sahut Salma yang kini malah terlihat cemberut sambil memakan makanan yang masih terlihat cukup banyak di hadapannya.
"Lagi pula siapa juga yang sanggup ngurusin sepuluh anak sekaligus, aku gak bakal sanggup Mas," sambung Salma.
"Kita bisa menyewa jasa baby sister kalau kamu mau," tawar Kafa.
"Tidak!!! enak saja, aku tidak suka baby sister atau semacamnya, Mas tahu di luar sana ada beberapa kasus majikannya selingkuh dengan baby sister dengan berbagai alasan dan aku tidak mau itu terjadi," tolak Salma.
"Apa kamu begitu mencintaiku sampai kamu tidak rela melihat aku bersama orang lain?" tanya Kafa dengan senyum bahagia dan wajah berbinar setelah mendengar Salma mengatakan apa yang mendasari dirinya tidak menyukai baby sister.
"Mana ada wanita yang rela berbagi suami dengan wanita lain? itu mustahil Mas," ujar Salma.
"Jadi, kaamu tidak rela kalau aku punya hubungan dengan wanita lain?" Kafa kembali memberi pertanyaan yang sebenarnya Kafa sudah tahu jawabannya.
"Begini saja, apa Mas Kafarela kalau aku punya hubungan dengan laki-laki lain?" Salma yang merasa enggan untuk menjawab malah balik bertanya.
"Tentu saja aku tidak rela, kamu hanya milikku dan tidak ada satu orangpun yang boleh merebutmu dariku, apa lagi membagimu," tegas Kafa tak terbantahkan.
"Itu Mas Kafa tahu jawabanku," ujar Salma yang sukses membuat Kafa tersenyum, ternyata istrinya tak sebodoh yang dia kira.
"Ngomongin anak, apa kamu tidak ingin cepat punya anak?" Kafa mengalihkan pembicaraannya.
"Siapa yang tidak mau anugerah terindah seperti anak, tentu aku sangat mau Mas Kafa," jawab Salma.
"Kalau begitu kapan tamu bulananmu itu selesai? aku ingin segera menanam bibit unggul yang aku miliki, supaya bibit itu cepat tumbuh menjadi anak yang lucu-lucu," ujar Kafa yang sukses membuat Salma mendelik terkejut mendengar apa yang Kafa katakan barusan.
"Sayang, kapan selesainya?" Kafa kembali bertanya, tapi kali ini suara Kafa terdengar mendayu dan menggoda.
"Belum tahu Mas, biasanya satu minggu sudah selesai," jawab Salma.
"Lama sekali satu minggu, bisa karatan aku nunggunya," ujar Kafa yang merasa terlalu lama menunggu.
"Sabar, semua akna indah pada waktunya," Salma mencoba menguatkan Kafa yang terlihat frustasi.
__ADS_1
"Menunggu bulananmu pergi seperti menunggu hari di mana para santri bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga, terasasangat lama," ujar Kafa.
Salma hanya tersenyum lucu, ini pertama kalinya dirinya melihatKafa yang frustai seperti saat ini.